Menyongsong Panorama Pagi Candi Plaosan Lor

Masih subuh. Hari masih enggan membagi terangnya. Namun ia dan semangatnya seakan tak peduli pada atmosfer gelap dan sepi di tepi sawah. Diputar bolak-balik lensa tustel kesayangannya. Ditekan tombol-tombol menu yang mengundang bunyi bip bip bip. Raut wajahnya gembira, seakan bilang bahwa momen yang dinantikan akhirnya tiba. Lantaran objek utama di sebelah barat belum nampak, ia arahkan mata tustel pada langit yang masih bertabur bintang. Ia memekik kegirangan, bangun dini hari pun rasanya tak sia-sia. Penat perjalanan temaram tak lagi terasa.

Sementara aku memilih menepi, merasai pucuk rumput berembun dengan ujung jemari. Cengkerik jantan mengerik memecah hening. Katak juga bersahutan. Entah perihal apa yang mengharubirukan mereka. Mengapa mereka terjaga semalaman? Apa mereka tak kedinginan? Atau malah menggelar pertunjukan, mumpung lalu-lalang kendaraan belum menderu gempar? Rumput hanya bergoyang tanpa jawaban.

Kulihat ia semakin sibuk mengira-ngira sudut tempat membidik bangunan Candi Plaosan Lor yang bakal jadi objek utama. Dan langit beranjak terang, mengantar surya ke singgasana. Atap berhias stupa perlahan menampilkan siluet cantik bangunan yang menghitam. Di depannya ada sawah yang padinya tumbuh menghijau. Ada pula sawah yang belum ditanami, serta masih digenangi air. Pada kubangan yang ditinggali ratusan berudu itulah Candi Plaosan Lor berlatar belakang langit emas bercermin. Oh selamat pagi, saksi cinta Rakai Pikatan dan Putri Pramudhyawardhani!

_DSC8401

_DSC8419

Mulanya langit masih malu-malu. Semburat jingga yang menyembul di tengah bangunan candi kembar masih samar nan tipis. Makin lama, langit makin menyala. Semburat jingga kemerahan disertai sapuan warna biru langit menaungi arsitektur candi Hindu-Budha yang lebar serta tinggi. Meskipun cerahnya langit pagi itu belum mampu membujuk bentuk bulat sempurna matahari untuk pentas, Candi Plaosan Lor di kejauhan tetap memesona dengan caranya. Makin cantik dipandang karena sawah yang tergenang air justru jadi cermin raksasa. Panorama candi kembar itu bagiku terlihat bak dua sejoli yang sedang bergandengan.

Candi Plaosan Lor tenar akan histori tentang seorang raja dan putri kerajaan. Dikisahkan keduanya memeluk kepercayaan yang berbeda. Namun perasaan kasih keduanya begitu membara, hingga menikahlah mereka dan membangun monumen bermandikan hiasan stupa dan ratna. Meskipun candi-candi perwara banyak yang telah runtuh terkoyak bencana, dua candi utama masih bisa berdiri kokoh menjulang. Sisa-sisa kemegahan itu pun memamerkan kecantikannya pada dunia secara cuma-cuma.

_DSC8437

_DSC8404

_DSC8422

_DSC8423

Hari makin terang, semburat jingga kembali menipis, langit biru perlahan memutih. Aku berada di tengah-tengah bingkai—tersenyum—tatkala ia menekan tombol shutter dengan telunjuknya. Dalam bingkai, aku terlihat diapit oleh dua bangunan utama candi kembar. Sawah yang hijau turut terekam, di atasnya berjejer candi perwara yang saat gelap tadi sama sekali tak terlihat. Yang paling memikat perhatian tentu saja refleksi candi kembar pada genangan air sawah. Ah, Candi Plaosan Lor memang salah satu yang jadi favoritku. Dan kini kutahu, candi ini juga jadi favoritnya.

_DSC8452-01

_DSC8449-01-01

_DSC8405

Tampaknya waktu dua jam tak cukup untuk membuatnya puas memotret panorama pagi di Candi Plaosan Lor. Ia masih saja sibuk memegangi tustelnya saat diajak untuk beranjak. Masih betah, terlalu indah, katanya. Ia pun berujar, menginginkan lebih banyak lagi menyongsong panorama pagi di tempat-tempat lain. Tapi untuk saat ini, Candi Plaosan Lor yang paling dikagumi.

_DSC8465

 

Comments

comments

17 thoughts on “Menyongsong Panorama Pagi Candi Plaosan Lor

  1. wah candinya… keren.. abru lihat ini candi itu.hehehe
    mungkin saya kurang piknik ini. 😀
    nanti kalau main ke jogja mau tuh di ajak kesitu…
    menarik ulasannya…joss gandos..

Leave a Reply