Pukul 04.00 WIB ketika kami tiba di Stasiun Gambir. Delapan jam perjalanan tak membuat semangat kami terkuras. Bisa dibilang, kami girang berada di Jakarta. CEO insanwisata yang merasakan kali pertama udara Jakarta pun memasang wajah sumringah sepanjang waktu. Maklum, ini bukanlah perjalanan biasa. Kami ke Jakarta untuk menghadiri konferensi internasional Web in Travel. Sungguh sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan.
Melangkah keluar dari stasiun, kami sempat terkejut melihat Monas menyapa kami. Ia begitu gagah. Tiang besarnya memancarkan sinar ungu. Kobaran api emasnya berkilau di ujung tertinggi. Kami seakan tak percaya bisa menatap Monas sedekat ini. Bagi sebagian orang, mungkin ini hal biasa. Tapi bagi kami ini seperti sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kami tak ingin membuang kesempatan mewah ini. Berbagai pose narsis ditampilkan. Perhatian orang-orang di sekitar diacuhkan.
Monumen Nasional, lebih dikenal dengan Monas. Berdiri tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Dibawah perintah Bung Karno, tugu kemerdekaan ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari Hindia Belanda. Mahkota lidah apinya melambangkan semangat perjuangan yang membara. Hari itu, kami berkesempatan merasakan atmosfer perjuangan rakyat Indonesia dengan menatap kilauan emasnya dari kejauhan.
Adzan Subuh pun berkumandang. Segera kami menuju masjid terdekat. Sesekali, pandangan masih belum lepas dari Monas. Terlihat aktivitas pagi Stasiun Gambir yang mulai semarak. Taxi, bus Damri, bajaj, dan mobil pribadi lalu lalang di sana-sini. Oh, begini rupanya kehidupan di Ibukota. Jika tak bergegas, kami pasti akan dihadang kemacetan.
“Yah, namanya juga Jakarta. Sebentar lagi juga macet. Apalagi disini, pusatnya demo. Kasian kan Pak Presiden? Udah mau lengser, tetep aja di demo,” ungkap Pak Supir yang mengantar kami sambil terkekeh.
Kami ikut geli mendengarnya. Kisah kehidupan Ibukota yang seperti itu, bukankah sudah jadi rahasia umum? Yang jelas, kami tetap senang bisa berkunjung kesana. Decak kagum masih menghiasi sepanjang perjalanan menuju lokasi konferensi di hotel Pullman Central Park. Gedung-gedung tinggi menyambut kedatangan kami. Istana Negara, gedung Sapta Pesona milik Kemenparekraf, juga gedung Kementrian BUMN.
Menyapa Monas di pagi buta, melihat gedung-gedung tinggi yang tidak dimiliki Jogja, dan merasakan kehidupan Ibukota yang hiruk-pikuk. Semua itu tak kemudian membuat kami kapok. Kami malah berharap dapat berkunjung lagi. Sampai jumpa di lain kesempatan, Jakarta.











