Mudik lebaran saya tahun ini adalah pulang ke tanah kelahiran, Bali. Tak seperti biasanya yang cukup berkumpul bersama keluarga besar. Momen libur lebaran tahun ini saya sempatkan berkeliling Bali bagian utara, khususnya Singaraja.
Sejarah mencatat, Singaraja pernah menjadi bagian dari pusat pemerintahan Provinsi Bali. Kemudian, sejak pusat pemerintahan dipindahkan ke Bali Selatan sekitar tahun 1950, pariwisata di Singaraja tak lagi banyak menarik perhatian.
Sebagai putra daerah yang sudah mulai hilang logat Balinya, saya tergelitik untuk mengeksplor tempat-tempat bersejarah di Bali mengingat pernah berjayanya Kerajaan Buleleng di Singaraja. Saya juga cukup penasaran pada kampung-kampung muslim di Buleleng. Dapat dibilang, Buleleng diisi oleh banyak masyarakat muslim. Meski di tengah mayoritas masyarakat Hindu, namun keberadaan masyarakat muslim di Buleleng memiliki sejarah panjang yang turut mewarnai kebudayaan di Bali. Tak sulit menemukan masjid maupun mushola di Buleleng. Ramainya umat muslim di Buleleng dapat terlihat ketika memasuki bulan Ramadhan. Menariknya, saya direkomendasikan langsung oleh Ibu saya sendiri untuk datang ke Kampung Kajanan dan Jalan Imam Bonjol untuk melihat jejak peradaban Islam di Bali.
Tak jauh dari rumah, terdapatlah sebuah masjid yang menyimpan Al-Qur’an pusaka. Berkali-kali masjid tersebut diliput media. Masjid yang megah lagi makmur jama’ah. Masjid yang menjadi penyantun umat serta pelahir da’i di Singaraja. Masjid yang menjadi pusat peradaban masyarakat muslim di Kampung Kajanan dan sekitarnya. Saya masuk melalui gerbangnya disambut lantunan adzan Ashar yang syahdu. Diikuti hilir mudik jama’ah bersarung yang tertib mengambil wudhu.


Berselang beberapa menit setelah menunaikan sholat Ashar, saya dipandu shahib (sebutan teman bagi muslim di Bali) untuk bertemu pengurus takmir. Saya memperkenalkan diri. Dituntunlah saya menuju mimbar masjid dimana Al-Qur’an pusaka disimpan.
Bapak Hasim yang kini sudah menginjak usia 63 tahun adalah penjaga setia Al-Qur’an pusaka sekaligus petugas takmir Masjid Jami’ yang saya temui. Beliau menyambut saya sangat ramah dan membolehkan saya membuka seluruh isi Al-Qur’an. Saya takjub. Saya tak percaya ini adalah tulisan tangan asli. “Ini tulisan tangan?”, saya tak yakin karena kaligrafinya mirip Al-Qur’an cetakan. Beliau menunjukkan keasliannya sampai akhirnya saya benar-benar yakin bahwa itu adalah kaligrafi tangan.


Adalah Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi yang menulis Al-Qur’an tersebut. Dinamakan Al-Qur’an Pusaka karena kitab ini diperkirakan telah ditulis pada 1820 pasca Perang Saudara. Keabsahan isinya telah dicek kebenarannya oleh Departemen Agama setempat. Minim sekali kekeliruan dalam penulisan.
Jika ditelisik, Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi merupakan keturunan ke VI dari anak Agung Panji Sakti yang dikenal juga sebagai Raja Buleleng/ pendiri Kota Singaraja. Ngurah Jelantik juga dikenal sebagai seorang mualaf ketika terjadi perang saudara yang kemudian mempertemukannya dengan Muhammad Yusuf Saleh yang diketahui sebagai seorang imam masjid pertama di Singaraja. Siapapun yang menimba ilmu pada Muhammad Yusuf Saleh, akan diwajibkan menulis Al-Qur’an sebagai ujian akhirnya. Hal serupa juga berlaku pada Ngurah Jelantik sekalu murid dari Yusuf Saleh.




Inilah bukti Ngurah Jelantik sebagai seorang mualaf keturunan Raja Buleleng yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Tulisan tangannya adalah kaligrafi yang memiliki nilai seni tinggi. Kertas yang digunakan adalah kertas yang didatangkan langsung dari Eropa. Bahan tintanya menggunakan bahan pewarna alami dari dedaunan lokal. Hiasannya adalah ornamen khas Bali. Saya tertegun. Ngurah Jelantik telah melengkapinya dengan harakat sehingga tak sulit membaca ayat-ayatnya.
Bapak Hasim kemudian menambahkan ceritanya. Sejarah mencatat, pembangunan Masjid Jami’ Singaraja tak lepas dari urun tangan Raja Buleleng saat itu. Satu lagi yang menjadi bukti tentang sejarah Islam dan sikap toleransi antar umat muslim dan masyarakat Hindu.
Asal mulanya, masyarakat Islam di kampung-kampung muslim Buleleng seperti Kampung Kajanan, Kampung Bugis, dan Kampung Baru di Singaraja hanya memiliki satu masjid, yaitu Masjid Keramat/ Masjid Kuno. Masjid Keramat lah yang kerap digunakan sebagai tempat ibadah sholat lima waktu dan sholat jum’at. Semakin pesatnya jumlah penduduk muslim di Buleleng, disuratilah Anak Agung Ngurah Ketut Jelantik Polong (Raja Buleleng) dengan isi permohonan pendirian masjid.
Dengan penuh sukacita, Raja Buleleng memberikan sepetak tanah yang berada di Jalan Imam Bonjol tempat berdirinya Masjid Jami’ sekarang. Berdirilah dengan megah sebuah masjid idaman umat muslim Buleleng yang dikerjakan pada 1830. Pembangunan Masjid Jami’ saat itu berada di pengawasan Raja Buleleng. Dengan diutusnya Gusti Ngurah Ketut Celagi sebagai pengawas pembangunan, pengerjaan Masjid Jami’ sempat berhenti karena Raja Buleleng telah ditawan dan dibuang ke Padang oleh Belanda.
Di tengah pembangunan Masjid Jami’, Bapak Hasim menuturkan bahwa pernah terjadi pertikaian saat mengalihkan pelaksanaan sholat jum’at dari Masjid Keramat menuju Masjid Jami’. Pertikaian tersebut kemudian mendatangkan I Gusti Anglurah Ketut Jelantik VIII beserta I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi.
Betapa besarnya perhatian Raja Buleleng saat itu terhadap keinginan umat Islam di Buleleng. Akhirnya, saat penyelesaian masjid pada 1860, diberikanlah pintu gerbang (kori) yang berada di Puri untuk dipasang sebagai pintu gerbang masjid. Tak hanya itu, Raja Buleleng juga memerintahkan tukang ukir Puri untuk membuat mimbar masjid yang berukiran sama dengan Masjid Keramat.

Perjalanan pembangunan masjid beserta perhatian Raja Buleleng membuat saya semakin mendapati cerita sejarah lainnya. Cerita Bapak Hasim kemudian membawa saya menuju Masjid Keramat di Kampung Kajanan. Jalan menuju masjid ini hanya cukup untuk sebuah sepeda motor. Sepintas, bahkan tak terlihat adanya masjid di sana.

Sesuai dengan namanya, Masjid Kuna/ Masjid Keramat merupakan masjid tertua di Pulau Bali. Perkembangan masuknya Islam di Kabupaten Buleleng ternyata tak lepas dari penyebaran orang Bajo suku Bugis yang kini menetap di pesisir pantai yang kemudian dikenal dengan daerah Kampung Bugis. Diceritakan, ketika terjadi bencana abrasi pantai, banyak masyarakat Kampung Bugis yang mengungsi dan menetap menuju arah Ngajanan (dalam bahasa Bali berarti Selatan).
Sejarah Masjid Keramat bagi saya amat rumit dan sulit diketahui tahun pembangunannya. Sebelum masyarakat Kampung Bugis mengungsi menuju Ngajanan, sebenarnya sudah ada Masjid Kuno yang saat itu hanya berupa bangunan tinggi berbentuk persegi beratapkan Meru yang mirip dengan Masjid Demak di Jawa. Keberadaan bangunan tersebut ternyata adalah sebuah surau kecil dimana orang Islam menunaikan sholat lima waktu.

Masjid ini cukup unik. Dari sisi seni arsitekturnya menggambarkan visualisasi flora sebagai bentuk kedamaian dan kekayaan Pulau Bali. Seni pahatan pada ukiran ornamennya juga memperlihatkan ciri khas seni pahat Bali Utara. Masjid Kuno ditopang oleh empat kayu pohon kelapa sebagai penyangga yang kemudian direnovasi dengan melakukan penebalan pada tiang-tiangnya. Empat tiang utama sebagai Soko Guru merupakan wujud dari banyaknya pohon kelapa yang tumbuh di pesisir Tukad Buleleng yang berada tepat di belakang Masjid Kuno.
Selain keunikan bangunan dan nilai sejarahnya, menurut literatur yang saya baca, Masjid Kuno terkenal sebagai tempat untuk melakukan sumpah jika terjadi perselisihan antar warga sekitar. Masjid Kuno yang dikenal sebagai Masjid Keramat juga memiliki kolam sebagai tempat wudlu yang dulunya digunakan untuk ritual sumpah. Karena dinilai angker, kolam tersebut ditutup dan kini dijadikan bangunan SD N 1 Kampung Kajanan.






Mendalami sejarah masuknya ajaran Islam di Bali memang sangatlah menarik menurut saya. Keberadaan bangunan-bangunan tempat ibadah umat muslim di Buleleng ternyata tak lepas dari campur tangan ulama dan juga toleransi umat Hindu di sana termasuk Raja Buleleng yang berkuasa sejak abad ke-17.
Datang ke Bali Utara, sangat banyak yang bisa digali. Tentang arif dan bijaknya para Raja Buleleng, sejarah Kampung Bugis, sejarah penyebaran ajaran Islam, dan kampung muslim tua di Pegayaman yang keturunannya masih menggunakan nama-nama Bali seperti I Gede, Ketut, Putu, dan sebagainya. Menarik!
Lokasi Masjid Jami’ Singaraja










Nggak jadi imam di sini kakak? hahahhaha. Siapa tahu bisa jadi imam di masjid ini 😀
Bacaan imam di sini lebih merdu daripada suaraku Mas. haha
Tak menyangka bahwa di Singaraja ada jejak Islam Setua ini ya Mas. Dirimu beruntung bisa langsung melihat al-qur’an bertulisan tangan ini 🙂
Iyes mba. karena saya juga orang Bali. dan diantar teman saya yang sering jama’ah disini. takmir dengan baiknya menunjukkan alqur’an pusaka. yuk ke sini mba
Wahhh.. Mesjidnya artistik juga ya..
trus Alqur’an ditulis tangan??
sekilas dilihat gak keliatan spt tulisan tangan lho..
keren lho pokoke..
iya Mba. awalnya juga saya mengira bukan tulisan tangan. Tapi setelah saya raba ternyata emang tulisan tangan, kaligrafi lah.
makasih mba sudah berkunjung
Singaraja punya masjid menawan beginii ??
Sering ke Bali tapi jarang melipir ke masjid masjid yang ada disana.
Paling solat di hotel doang hiiikz. akuh merasa gak kece.
ih kamu kak. ga pernah ke masjid nih. padahal cowo2 masjid kece dan cakep lho. katanya mau cari cowo sholeh?
wahhh.. berarti rute besok ke Singarajanya mampir kesini juga 😀
ayok dah. ke sini. hehe. mampir rumah
aamiin. Alhamdulillah. semoga kita semua termasuk pemuda yg hatinya tertambat d masjid
masjid sy waktu kecil banyak sejarah sy dimajid ini kangen deh {guru ngaji sy alm pak murad}
Mohon izin, ingin berkomentar tentang manuskrip Qur’an yang tersimpan di Masjid Agung Jami’ Singaraja. Berdasarkan kajian saya atas gaya iluminasi, kaligrafi, dan kertas Eropa yang digunakan, saya menyimpulkan bahwa Qur’an yang disebut ditulis oleh Gusti Jelantik di atas, sesungguhnya berasal dari Aceh. Jadi, menurut saya, bukan ditulis oleh orang Bali, tetapi orang Aceh. Bagaimana Qur’an tersebut sampai di Bali, perlu penelusuran lebih lanjut, dan tampaknya belum ada data yang mendukung. Lihat tulisan singkat lebih lanjut: https://quran-nusantara.blogspot.com/2013/11/asal-naskah.html
Terima kasih atas perhatian Anda, dan semoga mengundang kajian lebih lanjut.
Wah. Terima kasih banyak Mas Ali Akbar atas referensinya. Terkait apa yang saya tulis, tentunya berdasar wawancara narasumber. Dan apa yang sudah menjadi koreksi Mas Akbar, tentu akan menjadi masukan bagi saya. Terima kasih ya atas kajiannya.
Saya orang bali utara dan beraga hindu… di bali jarang di gaungkan kata toleransi… tetapi sangat sangat di hayati dan di lakukan dengan baik… tetap jaga ” menyame braya ” nyelam ” semeton selam ” satu satunya ada di bali. Baik itu makanan ataupun persaudaraan, kata nyelam artinya nyame islam, ( saudara muslim )
Informasi yg sangat bermanfaat ..terimakasih, biasanya di masjid kuno ada makam tokoh pendiri atau kompleks pemakaman, apa di masjid keramat Singaraja ini ada makam? Boleh tambah infonya? Karena biasanya juga yang ada sebutan keramat ada lokasi pemakaman/tokoh yang dimakamkan