Riwayat Cengkeh Desa Gunungsari Buleleng, Bali

Perdagangan dan penjelajahan rempah diperkirakan bermula pada 600 SM – 1400 M. Penjelajahan meliputi Asia Tenggara, termasuk kepulauan Maluku itu menemukan sepenggal kekayaan negeri berupa cengkeh (Syzigium aromaticum). Memasuki sekitar pertengahan  1600 Masehi, cengkeh pernah menjadi rempah yang paling dicari dan dihargai melebihi emas di Eropa. Maluku Utara tampaknya merupakan daerah yang lebih kuat dan lebih diyakini sebagai asal mula tanaman cengkeh. Tak heran, sejak zaman VOC di sana ditanam dan dihasilkan bibit cengkeh. Karena itulah bibit cengkeh di sana disebut-sebut sebagai yang tertua.

Cengkeh mendatangkan banyak para pedagang lintas bangsa. Cengkeh menjadi rempah berkualitas yang terus bertahan dan dinikmati banyak masyarakat kita. Cengkeh menjadi rempah penentu cita rasa kuliner nusantara. Cengkeh pula yang membawa saya bercengkerama dengan petaninya.

Tanpa rencana, awalnya saya memiliki niatan untuk menengok perkebunan kopi di daerah Banyuatis, Bali. Kopi Banyuatis kerap menjadi langganan keluarga besar saya setiap mudik ke Bali. Selain menjadi kopi unggulan, rasa kopi Banyuatis dinilai lebih nikmat dibanding kopi hitam lainnya. Tapi niatan itu terhenti di jalan yang justru menuntun saya pada perkebunan cengkeh di Desa Gunungsari, sebuah desa asri di dataran bawah Desa Banyuatis dan Kayuputih, Buleleng.

Jalan yang berliku justru membuat saya nyaman berkendara. Kanan dan kirinya adalah hamparan sawah dan kebun cengkeh yang tinggi. Menggunakan bahasa permisi dan bertanya pada masyarakat lokal, saya dituntun menuju tempat lahirnya sekelompok petani berbakat di Desa Banyuatis dan Gunungsari. Kendaraan saya melaju pelan kala mencium aroma hangat dari cengkeh yang dijemur di ruas-ruas jalan. Berdiri diantaranya dua wanita yang sedang meratakan cengkeh hijau yang baru dipetik dari pohonnya. Ibu Mindah dan Ibu Made namanya.

DSC08410

DSC08404

Saya menghentikan laju kuda besi. Lalu memotret cengkeh yang dijemur. Melihat saya antusias bertanya-tanya tentang cengkeh, Ibu Mindah mempersilakan saya duduk di teras rumahnya. Seperti rumah masyarakat Bali pada umumnya. Teras rumah juga memiliki fungsi sebagai bale bengong. Di terasnya, sudah penuh berserakan cengkeh yang sudah siap jual.

“Sini, Dik. Mau bantuin metik cengkeh? Foto dah”, ramah Ibu Mindah mempersilakan saya belajar memisahkan cengkeh dari daun, bunga, dan batangnya.

Untuk memulai perbincangan, biasanya saya dahului dengan cara memperkenalkan diri. Begitu pula Ibu Mindah. Ia menghabiskan cerita tentang anak dan saudaranya yang pernah bersekolah di Yogyakarta. Saya dijamu kopi Bali saat itu. Namun berhubung sedang berpuasa Ramadhan, saya menolaknya ramah. Ibu Mindah justru meminta maaf berkali-kali pada saya. Sungguh baik sekali.

Di usianya yang sudah memasuki 73 tahun, Ibu Mindah masih giat menjadi petani cengkeh. Baginya, bertani cengkeh adalah pekerjaan sambilan yang menyenangkan. Berpuluh tahun sudah Ibu Mindah dan suami merawat kebun cengkeh sampai bisa menghasilkan rupiah, bahkan menyekolahkan ketiga anaknya. Panen yang hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun adalah berkah baginya. Di luar kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Ibu Mindah lebih senang merawat kebun-kebunnya. Walaupun terpisah jauh dari enam cucu dan dua cicitnya, Ibu Mindah masih bisa berbagi keceriaan bersama petani lainnya. Ibu Made salah satunya, rekan Ibu Mindah yang berprofesi sebagai petani cengkeh.

DSC08458
Ibu Mindah (73 Tahun) sedang memillih cengkeh terbaik.
DSC08419
Ibu Made, menikmati pekerjaan sebagai petani cengkeh menemani Ibu Mindah.

DSC08443

DSC08477

DSC08466
Bahagianya menjadi petani cengkeh. Ibu Mindah tertawa saat mendengar pengalaman saya selama sepuluh tahun di Bali, namun sampai saat ini saya tak kunjung menguasai Bahasa Bali.

DSC08456

DSC08449

Hidup menjadi petani cengkeh tidaklah mudah dilalui oleh Ibu Mindah beserta keluarga. Ibu Mindah benar-benar merasakan bagaimana menjadi petani cilik di jaman Soeharto memimpin sampai sekarang. Dulu harga cengkeh begitu ditekan, banyak dilakukan penebangan karena terlalu luasnya perkebunan, dan pembelian melalui satu pintu. Namun kini telah berbeda. Di atas lika-liku kebijakan sektor pertanian di bawah birokrasi para pemimpin negeri, sejujurnya Ibu Mindah lebih nyaman menjadi petani di masa kini. Harga cengkeh yang tinggi adalah ukurannya. Sangat wajar memang jika dibandingkan dengan jaman Sang Bapak Pembangunan.

Keluhan pun datang dari Bapak Londen (suami Ibu Mindah) ketika saya bertanya soal kopi dan cengkeh di Bali. Menurutnya, kualitas pertanian kopi dan cengkeh sekarang mengalami penurunan yang disebabkan adanya pemaksaan dalam mencari hasil panen karena adanya permintaan yang tinggi dari banyak perusahaan. Biarpun begitu, harga cengkeh terus mengalami kenaikan. Satu kilogram cengkeh kering bisa dihargai Rp100.000,00. Sementara cengkeh muda dihargai Rp30.000,00/kg, batang cengkeh kering Rp8.000,00/kg, dan daun cengkeh Rp2.000,00/kg. Biasanya, musim panen terjadi pada bulan Juni sampai Agustus.

DSC08474

DSC08453
Perhatikan perbedaan warnanya. Ada hijau muda, merah, dan hijau kemerah-merahan. Menurut Ibu Mindah, cengkeh yang berwarna hijau kemerahan yang lebih baik. Apakah yang berwarna hijau muda dan merah dibuang? Tentu tidak. Keduanya masih bisa dimanfaatkan.

DSC08461

DSC08430

Hampir sebagian masyarakat Desa Gunungsari menekuni kegiatan bertani cengkeh. Cengkeh yang telah dipetik biasanya dikeringkan di bawah sinar matahari sampai berwarna coklat kehitaman. Cengkeh di sini beraroma kuat dan berasa pedas karena kandungan minyak atsiri yang tinggi. Pemanfaatan cengkeh pun beragam, sebagai bumbu masak, bahan rokok kretek, dan aroma terapi. Namun, bukan hanya tangkai bunganya yang dapat dimanfaatkan, seluruh bagian pohon pun mempunyai manfaat. Saya berkesempatan ikut memilah hasil petikan. Ditunjukkan oleh Ibu Mindah cengkeh yang berkualitas bagus dan layak jual.

Di tengah percakapan, saya ditantang Bapak Londen untuk memilih menjadi petani. Saya diam cukup lama. Ia tertawa. Ia yang sempat mengalami masa kepemimpinan orde baru lantas bercerita, tentang bagaimana cengkeh di eranya. Saya cukup mendengarkan. Bapak Londen nampak bersemangat bercerita kekuatan politik kedua pemimpin bangsa terdahulu, Bapak Proklamator dan Bapak Pembangunan. Sebagai petani cengkeh, ia meminjam gaya kepemimpinan dari Bapak Proklamator: berdiri di atas kaki sendiri.

Ketika pariwisata Bali mulai menggeliat sejak tahun 1970-an, banyak yang mulai membangun fasilitas pariwisata. Tapi ini tak berlaku untuk Desa Gunungsari. Dianugerahi alam yang indah dan asri, cengkeh tetap membuat para petani Gunungsari bangga. Buleleng menjadi sedikit makmur dengan adanya pemasukan dari perdagangan cengkeh di sini.

Tak banyak waktu yang saya luangkan di Gunungsari. Cuaca yang tak bersahabat kala itu mengharuskan saya menunda singgah ke kebun kopi di Banyuatis. Jika menginginkan cara berwisata yang berbeda, datanglah ke Desa Gunungsari. Sebuah cara yang berharga untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat desa setempat.


Lokasi Desa Gunungsari

Comments

comments

18 thoughts on “Riwayat Cengkeh Desa Gunungsari Buleleng, Bali

  1. Wow Mas Hannif beruntung sekali bertemu dengan ibu mindah. Mendengarkan tentang pertanian cengkeh, cerita-cerita kehidupan mereka, dan memotret buah cengkeh. Exotis banget Mas

    1. hehe. terimakasih Mba Evi sudah berkenan mampir. Iya mba. ini g sengaja banget. Walaupun berderet rumah adalah petani cengkeh. tapi saya berhenti di rumah yang pas. bisa dapat sejarah cengkeh 🙂

  2. wahhh.. bagus ceritanya..
    sy juga pernah ketemu petani cengkeh di pulau pisang, Lampung
    disana harga cengkeh kering (pas saya kesana) lg turun juga, sekitar Rp.80.000/kilo dari yang biasanya Rp.130.000/kilo..
    Semoga semua petani selalu sejahtera..
    tanpa mereka, apalah arti orang di perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.