Gudeg Yu Sum dan Kenangan Manis tentang Jogja

Jogja memang selalu punya kenangan. Berapa lamapun singgah diJogja, pastilah punya secuil kenangan yang sulit dilupakan. Kenangan itu bukan hanya pada pengalaman, bukan hanya pada tempat wisata di mana kita mengambil gambar. Kenangan itu mungkin ada pada interaksi kita bersama orang lokal, atau apa yang pernah kita makan. Bakpia, bakmi jawa, nasi kucing di angkringan, sate klathak, kaki lima, dan warung lesehan pastilah pernah kita icipi. Oh ya, satu lagi yang terkenal. Gudeg.

Ketika bicara soal rasa, bagi orang dari luar Jogja agak sulit memang untuk menyesuaikan lidah dengan cita rasa gudeg. Rasa manis yang nyantol di gudeg malah sering dibilang aneh, unik, bahkan lucu. Atau mungkin lidah orang Jogja yang unik?

“Rasanya lucu”, kesan teman saya dari Bali ketika pertama kali menyantap salah satu gudeg di Jogja.

Di mana kita bisa menemukan tempat makan gudeg yang enak, pas di lidah, dengan tempat yang nyaman?

Tak ada salahnya coba-coba kuliner khas, bukan? Mampirlah ke Gudeg Yu Sum di Jalan Imogiri Timur 165. Warung yang terletak di seberang markas Brimob Gondowulung ini tak pernah sepi pelanggan. Beruntung saya dan Travel Blogger Jogja masih dapat jatah walaupun datang di sore hari. Dengan ramahnya pelayan menyajikan paket gudeg ayam paha bawah pada kami. Sebagai makanan yang juga dikenal sebagai jenis street food, Gudeg Yu Sum menyajikan dan menatanya cukup apik.

DSC04139

DSC07481

DSC06918

Secara visual, krecek Gudeg Yu Sum yang paling menggoda. Warnanya merah. Tapi saya masih bersabar diri untuk menanti kawanan blogger lainnya selesai memotret. Belum sempat mencuil bagian kreceknya, saya segera mengajak mereka mengintip dapur di mana gudeg dibuat.

Ternyata, ada kunci rahasia yang terus dipertahankan selama berpuluh-puluh tahun agar gudeg terjaga kualitas rasanya. Perlengkapan dapurnya masih sangat tradisional. Mulai dari proses memotong gudeg, Pak Eko dan pegawainya bisa menghabiskan dua karung buah gori (nangka muda) setiap harinya. Proses ini dapat bebas dilihat wisatawan mulai dari cara menghilangkan getah sampai membumbui potongan gori. Setiap harinya, Gudeg Yu Sum juga  menerima pesanan ratusan sampai ribuan paket gudeg. Itulah mengapa proses memasaknya kadang dimulai sejak dini hari pukul 00.00 WIB. Gudeg Yu Sum juga memasak rata-rata 250 kg beras bahkan sampai 1 kwintal setiap harinya.

DSC06963

DSC07546

DSC07572

Berkeliling dapur Gudeg Yu Sum mengingatkan saya pada dapur Simbah saya. Proses memasaknya masih menggunakan kayu. Nasinya pun dimasak dengan cara diliwet. Kami bisa bertanya soal rahasia memasak gudeg enak. Rahasia lainnya ternyata ada pada ayam dan telurnya. Dipilihnya ayam kampung dan telur bebek menjadikan Gudeg Yu Sum bukan lagi enak, namun pas bagi wisatawan yang tak biasa makan gudeg.

DSC06981

DSC04119

_DSC5400

Satu porsi paket gudeg ayam paha bawah masihlah terasa kurang bagi saya. Begitu pula sekawanan travel blogger yang ikut mencicipi Gudeg Yu Sum. Piring kami hanya tersisa slamir daun pisang saja. Ini bukan lagi soal doyan makan gudeg nampaknya, tapi Gudeg Yu Sum memang sudah jadi juara.

Bicara tentang sejarah Gudeg Yu Sum, saya dapati saat wawancara langsung bersama Pak Eko. Nama Yu Sum diambil dari Ibu kandung Pak Paino yang juga karyawan senior Gudeg Yu Sum. Proses memasak gudeg dikerjakan mulai 1974 oleh keluarga Pak Paino. Secara turun temurun, Pak Paino mewariskan cara memasak gudeg ke sanak saudaranya. Proses memasaknya pun tak banyak yang berubah. Itulah sebabnya kenapa dalam logo Gudeg Yu Sum tertulis “sedjak 1974”.

Adakah yang unik dari Gudeg Yu Sum selain proses memasaknya? Tentu ada. Saya kerap mencicipi gudeg yang ada di Yogyakarta. Tapi sejujurnya, lidah keturunan Bali dan Jawa merasa pas pada apa yang disuguhkan Gudeg Yu Sum. Krecek yang pedas, ayam dan telur bebek yang lezat, dan gudeg yang tak terlalu manis. Bahkan harganya tak cukup mahal untuk kuliner sekelas gudeg. Tempat makannya sangat nyaman untuk menikmati nuansa Jogja.

DSC04226

DSC04216

DSC04209

IMG-20160615-WA0031 (1)
Travel Blogger Jogja yang mampir ke Gudeg Yu Sum: Gallant, Aqid, Reza, Hanif, dan Iqbal Kautsar. Foto oleh: Iqbal Kautsar

Kenangan manis tentang Jogja itu ternyata tak mudah dilupakan. Manisnya Jogja bukan lagi soal pengalaman, tapi juga pada apa yang saya makan. Sekendil oleh-oleh Gudeg Yu Sum menjadi oleh-oleh mudik ke Bali saya tahun ini. Cukup dengan membawa sekendil gudeg ini, saya bisa berbagi kenangan manis tentang Jogja. Bukan lewat cara melancongnya, cukuplah sepaket Gudeg Yu Sum menjadi santapan bersama keluarga dan sanak saudara di momen lebaran. Bagi yang tak mau repot membeli gudeg, Gudeg Yu Sum telah menyediakan jasa antar. Kemasannya yang aman dan apik dapat dengan mudah dibawa bahkan masuk dalam kabin pesawat. Tak perlu juga khawatir pada lama bertahan gudegnya. Dalam pembelian satu paket gudeg telah disediakan tips agar gudeg terus awet dan nikmat dinikmati.

Selamat menikmati momen lebaran. Selamat berkumpul bersama keluarga besar. Semoga esok, kita dapat kembali dipertemukan pada Ramadhan. Dengan kualitas diri yang lebih baik dari sekarang.

Lokasi:

Gudeg Yu Sum Pusat: Jalan Imogiri No 165 (Depan Brimob Gondowulung Giwangan, Yogyakarta)

Gudeg Yu Sum Cabang: Jalan Magelang Km 8 (Barat Gedung Graha Sarina Vidi), samping Bank BPR Danagung Abadi. No Telp (0274)864555

Jam buka: 05.00 – 21.00 WIB

Lokasi Gudeg Yu Sum

 

17 thoughts on “Gudeg Yu Sum dan Kenangan Manis tentang Jogja

  1. Sayangnya belum nyobain :p penasaran sama kreceknya… tapi kapan-kapan bisa mampir biar ga penasaran. Letaknya kan strategis banget ya pinggir jalan, terjangkau lah ya…

    Baiklah, kesimpulannya jogja memang tempatnya yang manis-manis kok. Kenangannya, orang-orangnya, makanannya, tempat-tempatnya, dan semua cerita tentangnya…
    selamat mudik, semoga selamat kembali sampai jogja lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.