Gua Keramat, Jejak Pitarah Siarkan Islam di Misool

Misool merupakan salah satu dari empat kepulauan di Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Lokasinya yang berada di selatan ibukota Kabupaten Raja Ampat (Waisai) menjadikan Misool masih jarang dikunjungi wisatawan. Selain akses yang tidak mudah, biaya yang dibutuhkan untuk sampai ke Misool juga cukup menguras kantong.

Untuk sampai ke Pulau Misool, kita harus mengejar Kapal Fajar Indah yang hanya berangkat hari Jum’at. Cukuplah merogoh kocek Rp250.000,00 untuk menumpang Fajar Indah kelas ekonomi selama delapan jam perjalanan dari Pelabuhan Sorong menuju Dermaga Kampung Fafanlap, Misool Selatan. Ada juga kelas VIP dengan fasilitas kamar tidur dengan biaya tambahan Rp300.000,00. Tak ada bedanya kelas ekonomi dan VIP di Fajar Indah. Kelas VIP dibatasi dengan pembatas dinding sehingga tak bisa saling sapa dengan penumpang yang lain. Namun, saya lebih memilih kelas ekonomi bersama penumpang lain yang tak saling kenal.

Perjalanan panjang delapan jam tentulah membosankan. Tak tampak gemerlap sinar lampu di perairan yang mampu menghibur karena Fajar Indah berangkat pukul 23.00 WIT. Jika musim angin, bisa saja kapal ini berangkat lebih telat, Sabtu dini hari.

Berbicara tentang Misool tak lepas dari kampung tua bernama Fafanlap, lokasi kedua yang akan disinggahi Fajar Indah setelah perusahaan 35, perusahaan mutiara yang masyhur di sana. Nama Fafanlap diambil dari bahasa Misool, berarti papan yang di pinggir. Jangan heran kalau Fafanlap bukan sebuah pulau yang eksotis lagi mempesona seperti pulau-pulau di Raja Ampat kebanyakan. Kampung tak berpasir putih ini dipadati lebih dari 250 kepala keluarga yang berasal dari berbagai suku di Nusantara. Namun, suku Matbat tetaplah suku asli Misool yang dulunya mendiami pedalaman pulau.

Sebagian besar masyarakat di Misool Selatan adalah muslim. Sebut saja Kampung Fafanlap, Harapan Jaya, Yellu, Usaha Jaya, Dusun Belakang Harapan Jaya, beberapa kampung dan dusun yang dihuni masyarakat muslim. Tampak masjid besar lebih megah dan bagus dibanding rumah dan kantor pemerintahan. Masuknya Islam di Misool menjadi hal yang menarik untuk diketahui. Tanpa pertanyaan panjang, masyarakat lokal dengan senang bercerita tentang sejarah kampungnya sambil diitemani secangkir teh dan sepotong pisang goreng yang masih hangat dihidangkan. Kala itu, bertemulah saya dengan seorang imam. Kami memangilnya dengan sebutan Teh Imam, Teh H.Khaidan Soltief, imam dan juga tokoh adat di Kampung Fafanlap. Ia yang bercerita tentang Gua Keramat, gua yang menjadi cikal bakal dan bukti jejak nenek moyang dalam menyampaikan agama Islam.

Dengan berkendara katinting, saya diantar menuju Gua Keramat bersama masyarakat Kampung Fafanlap. Perjalanan lelah yang memakan waktu lebih dari satu jam itu terbayar dengan pemandangan elok bongkahan batu karang yang tersebar bak surga dunia yang menggenang di permukaan lautan. Banyak pula masyarakat yang menafsirkan bongkahan karang tersebut seperti sepotong hati, putri yang termenung, burung garuda, wajah manusia, dan bahkan batu yang berlafazkan Allah. Sempat terngiang pula pemandu (masyarakat lokal) bergumam menggunakan bahasa Misool. Mereka sebut itu ungkapan ‘permisi’, permohonan ijin kepada nenek moyang penghuni Gua Keramat.

Menurut cerita, banyak wisatawan yang tidak dapat menemukan keberadaan Gua Keramat karena niatan yang buruk. Tak semua masyarakat Misool paham lokasi gua ini. Untuk itu, usahakanlah mengajak pemandu lokal (masyarakat adat) yang paham betul kondisi laut dan lokasi Gua Keramat.

Lautan di kawasan Gua Keramat, Teluk Tomolol sangatlah tenang. Airnya yang berwarna hijau tosca menggoda siapa saja yang bercermin di atas permukaannya. Bongkahan batu karang yang saling berhadapan menjadi gerbang pertanda tiba di Gua Keramat. Konon, bagi yang beruntung, bisa melihat sepasang batu menyerupai wajah pria dan wanita yang saling berpandangan.

Persis pada ketinggian Gua Keramat terdapat bekas tetesan air yang menggerus dinding kapur hingga membentuk lafaz Allah. Di pelatarannya terdapat dua makam nenek moyang yang dipercaya sebagai wali oleh masyarakat Misool. Lamanya musim angin selatan saat itu membuat batu nisannya berlumut dan dipenuhi layunya dedaunan. Menurut cerita, dua wali tersebut adalah suami istri yang didatangkan dari Banda. Nama nenek moyang yang dimakamkan di sini tetap menjadi rahasia. Bahkan, sudah menjadi keharusan untuk berziarah ke Makam Gua Keramat bagi masyarakat Misool yang akan menunaikan ibadah haji. Doa pun dipanjatkan, dipimpin oleh Pak Idris Loji, pemandu kami yang saat itu menemani berburu jejak nenek moyang.

Bukan berarti dengan menyandang nama ‘keramat’ menjadikan tempat ini menyeramkan. Bagi masyarakat lokal, wisawatan memiliki hak untuk menikmati alam dengan menjaga sopan santun dan kesucian Gua Keramat. Cobalah untuk berenang memasuki Gua Keramat dan temukan nuansa purbanya. Di antara dinding-dinding gua terdapat stalagtit dan stalagmit yang terus basah. Masuk terus ke bagian dalamnya, akan didapati spot melompat dari ketinggian. Tak heran, Gua Keramat menjadi situs yang banyak diperbincangkan wisatawan. Masyarakat lokal telah menaruh Gua Keramat sebagai objek terpenting di Misool. Mereka mengatakan, “Belum bisa dikatakan pernah ke Misool kalau belum pernah ke Keramat”.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.