Jembatan itu tua, usang, kering, rapuh! Kuperhatikan gagangnya yang berselimut karat. Oh, bahkan penyangganya pun jebol sana-sini. Aku tahu, lama sudah hujan tak turun. Mungkin jembatan ini pun sudah lupa akan semerbak wangi tanah basah yang dibawa hujan. Rumput yang semestinya segar menghijau malah kaku kecoklatan. Sedihnya lagi, pepohonan sekitar hanya membisu pasrah akan kekeringan.
Aku asyik termenung hingga gelagapan kala kudengar suara berdecit dari ujung jembatan. Kurasakan jembatan sedikit menggoyang tubuhku yang kaku ketakutan. Terbayang jembatan runtuh lantas sekonyong-konyong melempar tubuhku ke dasar sungai di bawahnya. Tak hanya sampai di situ, terseret tubuhku oleh arus sungai yang tak begitu deras namun mengerikan. Di dasar airnya yang elok kehijauan, mana tahu ada makhluk aneh mengintai diam-diam?
Cepat-cepat kuhapus pikiran jelek itu dari benakku. Perlahan aku melangkah menjauh dari jembatan. Pijakan demi pijakanku dibarengi suara daun-daun kering yang saling bergesekan. Semakin aku meniti tanah menurun itu, semakin jelas terdengar gemericik air Sungai Opak di hadapanku. Pandanganku menyusuri aliran sungai yang tak pernah berhenti. Takjub aku mengamati batu-batu yang menghiasi bibir sungai. Aku berpegangan pada satu batu besar kemudian mendudukinya. Entah berapa massa batu ini, tapi tampaknya lebih ringan dari batu kali biasa.
Yang kutahu, orang-orang menamainya ‘Lava Bantal’. Sejarah bilang, dahulu, sebelum pulau Jawa terbentuk, gunung-gunung api dahsyat bererupsi hingga lavanya meluber kemana-mana. Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang awalnya lautan pun tak luput dari mahapralaya (bencana dahsyat) yang mengukir sejarah itu. Lava panas yang mengalir ke laut lantas terendam dan mengendap. Hasil akhirnya ialah bantalan lava yang kini menepi cantik dilewati arus sungai Opak. Dulu di sini lautan, sekarang jadi daratan tempat tinggal masyarakat Jawa.
Aku masih terduduk di atas lava bantal. Kali ini kuberanikan diri untuk membenamkan kedua kakiku di sungai yang dingin. Sungai ini airnya bening menghijau, arusnya agak deras di tengah namun tenang di beberapa sudutnya. Ada lava bantal berlapis lumut yang licin saat diinjak. Kala musim penghujan datang, pepohonan hijau akan menghiasi lingkungan sekitar. Tak lama kemudian, sepasang kupu-kupu menghampiriku, entah mereka senang atau malah marah akan kehadiranku. Aku sedang sibuk memandangi kupu-kupu lucu yang terbang rendah di bibir sungai ketika tak sengaja indera penciumanku mengendus bau tak sedap.
“Sampah!”, pikirku.
Sepasang kupu-kupu bersayap kuning itu seolah mengajakku untuk melihat sesuatu. Kubuntuti mereka yang terbang di depanku. Tak dinyana, masih banyak manusia tak berperasaan membuang bungkusan sampah di tepi sungai. Sampah yang baunya menusuk, yang tak menghargai peninggalan masa lampau. Sepasang kupu-kupu bersayap kuning hinggap di bahuku, menatap sedih ke arah habitatnya yang kotor. Benakku kembali menerawang langit, berharap mereka segera sadar akan kebersihan lingkungan sehingga lava bantal selalu lestari, sempurna tanpa sampah.










