No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Menguak Histori di Jantung Gua Rancang Kencono

by Reza Nurdiana
Juli 23, 2016
5 min read
15

Dua setengah abad berlalu. Pohon Klumpit masih menaungi. Yang katanya mulai dari zaman prasejarah, hingga era penjajahan. Yang mulanya bibit tunas, kini menjulang tinggi. Dan orang masa kini mengenalnya sebagai pohon raksasa. Pohon yang jadi saksi bisu kisah demi kisah yang terjadi di setiap ceruk Gua Rancang Kencono.

Malam sebelumnya, hujan sempat mengguyur. Tangga pada mulut gua yang ditumbuhi lumut jadi agak licin. Dengan hati-hati aku mulai meniti. Namun pandangan tak bisa lepas dari batang pohon raksasa yang pucuk dan rantingnya tumbuh hingga melebihi langit-langit permukaan tanah. Lengah sedikit, bisa terpeleset dan terkilir. Oleh karenanya, kadang aku lebih memilih menuruni tangga sambil agak berjongkok agar kaki tetap kuat berpijak pada alas yang licin. Dari bawah, atap gua yang terbuka terlihat lonjong sempurna. Tepat di tengah-tengah tumbuh Pohon Klumpit yang menembus atap. Sayang, aku datang saat hari tak begitu cerah, sehingga kehilangan momen ‘cahaya surga’ yang dibanggakan pengelola wisata.

DSC03794

DSC03798

DSC03792

Mas Asad, seorang pemandu lokal, menghampiri. Ia mengenggam sebuah lampu senter kecil sambil memberikan penjelasan. Tanpa basi-basi, ia segera bercerita tentang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di dalam gua ini. Semua cerita pun sudah dihafal betul di luar ingatannya. Ia bercerita bahwa gua ini merupakan gua purba, gua yang pernah dihuni manusia purba. Dibuktikan dengan penemuan arkeologis berupa artefak batu dan tulang. Dijelaskannya pula tentang pembagian ruangan di dalam gua. Ada tiga ruangan utama yang cerita sejarahnya berbeda-beda. Rute yang dilalui bolak-balik karena tertutup dinding. Konon, ada sebuah lorong yang jalannya tembus hingga menemui air terjun. Namun tak bisa dilalui karena kadar oksigen yang tipis.

Ruang pertama, tepat di bawah halaman di mana Pohon Klumpit berdiri. Sebuah ruang luas yang disebut aula berada. Disebut demikian karena luasnya mencapai 20 x 20 meter dengan tinggi 12 meter. Ruang ini sering digunakan untuk kepentingan acara-acara kesenian, kemping, seminar, bahkan dijadikan lapangan bulu tangkis oleh masyarakat sekitar. Dinding dan atapnya dipenuhi ornamen gua yang indah. Kumpulan batu tetes yang tak lagi aktif menggantung memenuhi permukaan atap. Pada dindingnya terbentuk batu-batu alir (flowstones) yang semakin dilihat, semakin menyeramkan. Ornamen gua yang tak lagi aktif tak menyisakan atmosfer lembab. Di dalam aula kondisinya kering dan bau kotoran kelelawar amat menusuk indera penciuman. Tak setetes pun air jatuh ke dalam ruangan gua, membuat suasana gerah.

DSC03738

DSC03789

DSC03748

Melangkah lebih ke dalam dan lebih gelap, ada satu ruangan kecil yang dinamakan ruang persembahan. Di sana teronggok beberapa batu yang dibuat pada era kerajaan. Batu-batu berupa arca khas peninggalan zaman Hindu-Budha. Pada sekumpulan stalagmit kecil, terselip pula sebuah arca yang bentuknya tak asing. Nandi, seekor sapi yang jadi kendaraan Dewa Siwa. Meskipun sudah tak jelas bentuk rupanya, lekukan khas Nandi masih kentara. Ada pula batu berbentuk kotak yang konon digunakan sebagai meja persembahan. Serta batu berupa arca singa yang pahatannya sudah aus dimakan waktu.

DSC03739

DSC03730
Nandi, seekor sapi yang jadi kendaraan Dewa Siwa. Meskipun sudah tak jelas bentuk rupanya, lekukan khas Nandi masih kentara.

Mas Asad bercerita tentang makna rancang kencono bagi masyarakat Jawa. Pada abad ke-18, tepatnya pada saat pecahnya Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Perang yang akhirnya menemui akhir menangnya VOC atas kubu Nusantara. Pasukan perang berpencar, berlindung di dalam gua. Di Kabupaten Gunungkidul, Gua Rancang Kencono jadi pilihan sekelompok perwira perang. Mereka sembunyi bukan berarti takut, melainkan untuk menyusun strategi serangan balik terhadap para penjajah. Maka dinamakanlah tempat ini menjadi Gua Rancang Kencono. Rancang yang berarti merancang, merencanakan. Kencono yang berarti emas, mulia. Demikian, nama Gua Rancang Kencono memiliki makna tempat untuk merancang gagasan mulia pasukan perang pada waktu silam.

Cerita Mas Asad terhenti. Kemudian ia mengajak untuk melangkah ke ruang terakhir. Lampu senternya diarahkan pada sebuah lubang kecil di dinding gua. Mas Asad bilang, itu adalah pintu masuk. Masuk ke sana harus membungkuk karena ukuran lubangnya sangat kecil, pula ada batuan karst jenis stalagtit yang masih aktif tepat di depan pintu. Stalagtit itu jadi satu-satunya yang masih aktif di Gua Rancang Kencono, sehingga kelestariannya harus sangat diperhatikan. Mas Asad masuk terlebih dahulu, lalu mengarahkan senter ke arahku. Aku mengekor. Membungkukkan badan dan langsung bisa berdiri tegak lagi setelah melewati pintu kecil.

DSC03779

DSC03777

Ruang ketiga, sebuah ruangan yang tak terduga. Ruangan tersembunyi di balik dinding gua. Jangan ditanya bagaimana suasananya di dalam sana. Sungguh pengap karena ukurannya yang memang tak seberapa, sekaligus menjadi bagian dari zona gelap abadi Gua Rancang Kencono. Kadar oksigen yang semakin sedikit membuat orang di dalam sana harus saling rebutan untuk bisa bernapas. Namun, ternyata di dalam ruangan yang pengap itu tersimpan bukti sejarah yang menakjubkan!

Mas Asad mengarahkan senternya pada dinding gua. Terdapat lukisan bertinta hitam, merah, dan kuning. Ada prasasti yang ditulis pada dinding gua. Judulnya “Prasetya Bhinnekaku”. Berisi dua belas poin yang mengandung doa bagi Ibu Pertiwi, serta kalimat kesetiaan untuk berbakti. Di sebelahnya, terlukis siluet burung garuda yang berlatar gunungan wayang. Simbol negara yang terbalut lambang kebudayaan Jawa. Pada lantai gua, teronggok batu yang juga terpahat tulisan. Tertulis di sana 29 agustus ’74, yang diduga kuat merupakan waktu dibuatnya lukisan di dinding gua. Konon, prasasti dibuat oleh orang-orang yang menentang G30S/PKI dan pemberontakan Irian Barat.

DSC03761

DSC03758

DSC03755
Beberapa baris isi dalam Prasetya Bhinnekaku: Jiwa ragaku setia merana, Ya tuhan terbitkan matahari, Jaya Presiden Kita RI, Setia H.B Sri Sulatan DIY, Garuda Pancasila Berjaya.
DSC03753
Tertulis di sana 29 agustus ’74, yang diduga kuat merupakan waktu dibuatnya lukisan di dinding gua

DSC03744

Aku tercengang. Merinding. Karena takut pada suasana di dalam gua, juga mendengar kisah yang pernah terjadi di sana. Satu hal yang masih teringat betul dalam memori. Menguak histori di Gua Rancang Kencono sungguh pengalaman yang berarti.


Lokasi Gua Rancang Kencana

Previous Post

Riwayat Cengkeh Desa Gunungsari Buleleng, Bali

Next Post

Mengagumi Desa Penglipuran yang Mendunia

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Mengagumi Desa Penglipuran yang Mendunia

Mengagumi Desa Penglipuran yang Mendunia

Comments 15

  1. Hastira says:
    10 tahun ago

    kenapa ya kalau aku masuk gua suka merasa kayak kehabisan oksigen dan kaadng takut kalau terlalu gelap

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      mungkin itu disebabkan karena rasa takut mba. jadi secara refleks napasnya tidak beraturan. hehe. kalau di sini emang lumayan gelap dan sedikit mistis sih. karena di beberapa sudut ada sajennya. Menurut mas Bro Asad, ada beberapa yg ritual di sini

      Balas
  2. Dwi Susanti says:
    10 tahun ago

    Pernah ke sini tapi tanpa guide…jadi tak tahu sejarah 🙁 untungnya baca postingannya iw ini deh *plis habis ini traktir gudeg*

    Tak kirain itu goa nggak bisa dimasukin sampai dalem, ada zona gelap abadi segala e…
    Dulu cuma berteduh di bawah pohonnya sambil menghirup udara habis hujan juga

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yuk makan gudeg. bikin video di sisni lah mba. mumpung mba lagi hits nih

      Balas
  3. Nasirullah Sitam says:
    10 tahun ago

    Kok nggak ada foto meluk pohonnya? Duh pliss deh ulangi lagi ke sananya hahahhahahah

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      meluk pohon sudah biasa mas haha.

      Balas
  4. cumilebay says:
    10 tahun ago

    Wakssss dijadikan lapangan bulutangkis, ngak serem yaaa main2 disana

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yang main sudah kebal kayanya om. masyarakat sana kok semuanya 😀

      Balas
  5. Halim says:
    10 tahun ago

    Ajakkk akuh kalo ke sana lagi kak. Loh iya ya ternyata dari zaman purba sudah ada vandalisme, brarti corat-coret anak muda kekinian di tembok itu kalau diabadikan bisa jadi sejarah juga ya #ehh. Hehehhe. Pokoke ajak akuh kalo ke sana lagi. 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Iyo yo mas. asalkan vandalisme arek2 kekinian sekarang sudah berumur lebih dari 1 abad mungkin bakal jadi coretan purba. haha.
      Lhoh, mas Halim ki tak tunggu lho. kemarin malah g mampir. padahal pengen tak ajak k gudeg sama gunung gentong.

      Balas
  6. febridwicahya says:
    10 tahun ago

    Ini cuma di Playen GK ya ? duuuh, aku baru tau malah. Kayaknya harus piknik-piknik sembari belajar ke situ deh 😀

    Penuh sejarah banget ya Mbak :’

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yaps. berdekatan dengan air terjun Srigethuk kok. Monggo datang ke sini dan ketemu Mas Asad

      Balas
  7. ValarilOl says:
    10 tahun ago

    Major thankies for the article post.Much thanks again. Fantastic. Blecker

    Balas
  8. wijayakusuma says:
    10 tahun ago

    saya masuk gua ini tahun 1995.
    membaca prasasti yg mulai kabur dengan sinar senter seadanya di kala itu

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      1995. umur saya baru 3 tahun itu.. hahaha. keren mass!
      Pasti punya cerita lain kala itu. tulis dong mas

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller