Mengagumi Desa Penglipuran yang Mendunia

Sudah genap tiga tahun saya tak pulang ke Bali. Singaraja sebagai kota kelahiran selalu menyisakan ruang yang siap dikenang kembali. Begitu pula Bali yang setiap sudutnya selalu ingin dijelajahi. Beruntung masih ada sahabat yang tak berencana meninggalkan Bali dalam beberapa tahun ke depan. Lewat pertemuan pasca Idul Fitri, saya diajaknya menjelajahi Bangli. Kabupaten yang dulunya saya kenal sebagai tempat rehabilitasinya masyarakat yang kejiwaannya sedang sakit.

Yang paling mencolok dari pariwisata di Bali bagi saya adalah budayanya yang kental. Begitu kira-kira jika saya diajak bicara soal pariwisata Bali. Bangli pun demikian. Rencananya, saya akan diajak berkunjung ke salah satu desa yang baru saja mendapat penghargaan sebagai desa terbersih di dunia, yaitu Desa Adat Penglipuran. Baru mendengar namanya, saya sudah begitu antusias. Menyandang nama sebagai Desa Adat pastilah memiliki kearifan lokal yang kuat di dalamnya.

Desa Adat Penglipuran adalah salah satu desa tua yang konon sudah ada sejak abad ke-18, yakni sejak Kerajaan Bangli berkuasa. Nama Penglipuran berasal dari kata pengeling, dari kata dasar ”eling” yang berarti mengingat dan ”pura” yang artinya tanah leluhur.

Berkendaralah saya dari Kota Pendidikan, Singaraja. Dua jam lebih kiranya untuk bisa sampai ke Penglipuran. Melewati banyak kelok jalan yang memang tak ramai kendaraan lalu lalang. Udaranya cukup sejuk dan sangat dingin. Entah di ketinggian berapa kuda besi saya berdiri. Bagi yang tak tahan dinginnya, mungkin mengenakan jaket tidaklah cukup memberikan rasa hangat. Seperti teman saya, yang harus mengenakan mantol (jas hujan) untuk melawan dingin.

Dua jam berlalu, sampailah saya pada pintu gerbang Desa Adat Penglipuran. Di sana sudah siaga pecalang yang bertugas menertibkan dan mengamankan masuk keluarnya wisatawan. Salah satu bentuk partisipasi yang saya kagumi dari masyarakat Bali, unsur pemerintah adat turut menciptakan lingkungan wisata di Bali menjadi aman selama musim liburan.

Saya tak sabar segera masuk ke Penglipuran. Sementara sahabat saya masih berfoto, saya masuk duluan. Menghampiri beberapa warga lokal yang kiranya bisa saya dapati banyak informasi. Menerima penghargaan bukan hal baru bagi masyarakat Desa Adat Penglipuran. Seperti yang saya tahu bahwa Desa Adat Penglipuran baru saja mendapat penghargaan sebagai desa terbersih di dunia. Ternyata, sebelumnya pada 1995, desa ini sempat mendapatkan Kalpataru. Penghargaan itu diberikan karena masyarakat Desa Adat Penglipuran dianggap sebagai penyelamat lingkungan. Meski kala itu sebagian warga Desa Penglipuran menjual beberapa kerajinan dari bahan lokal bambu, mereka mampu mempertahankan dan memelihara hutan bambu seluas 75 hektar dan vegetasi lainnya seluas 10 hektar. Bukan hanya itu, apresiasi tinggi diberikan masyarakat Desa Adat Penglipuran kerena mampu mempertahankan adat dan budaya para leluhur, termasuk mempertahankan tata ruang dan bangunan tradisionalnya. Buktinya, seluruh rumah yang ada di desa ini memiliki bentuk dan desain yang mirip.

Desa Penglipuran

desa adat penglipuran bali

Desa Penglipuran

Apakah rumah tak bertingkat ini terlihat sederhana? Tentu tidak. Saya berkesempatan masuk ke beberapa pekarangan rumah milik warga. Bayangkan berapa nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk sebuah pintu dengan ukiran unik seperti ini? Berapa pula yang harus dikeluarkan untuk mendesain ruang tidur dengan variasi tumpukan batu yang indah seperti ini? Tak murah. Perlu menganggarkan ratusan juta rupiah untuk membuat satu kamar dengan gaya seperti ini. Begitulah Desa Adat Penglipuran, tak hanya menjaga nilai luhur tak benda, tapi juga pada rumah yang mempertahankan nilai khas masyarakat Bali. Selain keberadaan pura tentunya.

Desa Penglipuran

 

Menariknya lagi, konsep tata ruang pemukiman di Desa Adat Penglipuran menggunakan prinsip trimandala. Konsep tersebut secara fungsi dan tingkat kesuciannya terbagi ke dalam tiga ruang yang berbeda yakni ruang utama, madya, dan nista. Letak ketiga ruang ini membujur dari sisi utara yang melambangkan elemen gunung hingga ke sisi selatan yang melambangkan elemen laut. Di tengahnya, terbentang jalan desa dengan lebar tiga meter yang lurus berundak sebagai poros tengah yang membelah ruang madya. Tepat di ujung sisi utara berdiri sebuah bangunan suci berupa Pura Penataran sebagai tempat ibadah bagi para penduduk. Jalan utama Desa Adat Penglipuran bebas dari lalu lalang kendaraan bermotor. Menarik, bukan?

DSC09090

Di tengah asiknya saya memotret koleksi jualan di salah satu pekarangan rumah, Bu Wayaningsih menghampiri. Dengan ramahnya ia menawarkan barang jualannya. Logatnya yang ke-Bali-an berhasil memancing saya untuk memunculkan identitas saya sebagai orang yang pernah tinggal di Bali. Kami bercakap-cakap. Desa seluas 112 hektar ini kini dihuni hampir 250 kepala keluarga. Berprofesi utama sebagai ibu rumah tangga, lantas tak membuat Bu Wayaningsih dan rekan-rekannya mati produktif. Disulapnya pekarangan rumah mereka menjadi lapak jualan buah tangan khas Bali, salah satunya kerajinan bambu, tenun Endek, dan minuman Loh Cem Cem yang sudah ada sejak 1985.

Desa Penglipuran

Loh Cem Cem
Loh Cem Cem, minuman tradisional khas Desa Adat Penglipuran. Loh Cem Cem ini memiliki rasa nano-nano (rasanya ramai). Loh Cem Cem ini juga memiliki khasiat yang baik untuk pencernaan dan menurunkan tekanan darah. Loh Cem Cem di Penglipuran dijual dengan harga Rp3.000,00 per botolnya.

DSC08995

Ibu Wayaningsih menjelaskan dengan ramah tentang barang jualannya. Salah satu yang menarik adalah Kain Tenun Endek. Kain ini dulunya biasa digunakan oleh para orangtua dan bangsawan. Kain tenun Endek sudah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel dan mulai berkembang pada 1985. Kain yang dijual Ibu Wayan di Desa Penglipuran menggunakan motif nuansa alam yang biasa digunakan sehari-hari. Ada juga motif patra dan encak saji yang bersifat sakral, namun di sini tidak dijual untuk wisatawan.
Ibu Wayaningsih menjelaskan dengan ramah tentang barang jualannya. Salah satu yang menarik adalah Kain Tenun Endek. Kain ini dulunya biasa dikenakan oleh para orangtua dan bangsawan. Kain tenun Endek sudah ada sejak zaman Kerajaan Gelgel dan mulai berkembang pada 1985. Kain yang dijual Ibu Wayan di Desa Penglipuran bermotif nuansa alam yang biasa dikenakan sehari-hari. Ada juga motif patra dan encak saji yang bersifat sakral, namun di sini tidak dijual untuk wisatawan.

Ibu Wayaningsih pula yang mempersilakan saya untuk berkeliling pekarangan rumahnya. Di setiap komplek rumah, pasti memiliki pura kecil sebagai tempat sembahyang, sebuah balai untuk kegiatan berkumpul, dapur yang sederhana, lumbung, dan juga kamar tidur. Pintu masuk tiap rumah didesain dengan bentuk yang sama, biasa disebut angko-angko. Desain pekarangan yang ramah lingkungan dengan kayanya tumbuhan hijau di setiap rumah menjadikan siapa saja nyaman berlama-lama di sini. Deretan pohon kemboja tidak ketinggalan memunculkan nuansa khas Bali. Di sudut lain, masih saja ada yang masih setia mendengarkan radio lawas yang masih manual mencari frekuensi siarannya.  Saya diberikannya suguhan kopi Bali secara cuma-cuma. Nikmat sekali.

Dapur rumah Ibu Wayaningsih
Dapur rumah Ibu Wayaningsih

Desa Penglipuran

Pekarangan Rumah di Desa Adat Penglipuran
Pekarangan Rumah di Desa Adat Penglipuran
Pintu masuk tiap rumah didesain dengan bentuk yang sama, biasa disebut angko-angko
Pintu masuk tiap rumah didesain dengan bentuk yang sama, biasa disebut angko-angko
Santai sejenak di balai mendengarkan radio lawas
Santai sejenak di balai mendengarkan radio lawas

Jika ingin belajar dari kehidupan masyarakat di sini, tentu banyak sekali. Mulai dari kebersihan contohnya. Sederhana sekali untuk membuat pekarangan rumah tetap bersih. Seluruh warga telah berkomitmen untuk menyediakan tempat sampah di depan rumah. Biarpun banyak anjing Kintamani berkeliaran, tak satupun kotoran tergeletak di ruas jalan. Sudah sewajarnya tuan rumah menjadi contoh sebagai duta sadar wisata. Imbasnya, wisatawan mengikuti. Tak ada yang berani membuang sampah sembarangan selama di dalam kawasan Desa Adat Penglipuran. Berbanggalah Desa Adat Penglipuran menyabet penghargaan sebagai desa terbersih di dunia bersama Desa Terapung Giethoorn di Provinsi Overijssel Belanda dan Desa Mawlynnong di India.

Berkeliling Desa Adat Penglipuran akan membuatmu jatuh terpesona. Mungkin sebagian ada menjadikannya sebagai spot yang instagramable, namun ada yang lebih bisa kita ketahui dari sini. Selain dari tata ruangnya, terdapat pula tradisi unik di Desa Adat Penglipuran yang melarang pria untuk poligami sebagai wujud penghormatan pada wanita. Jika ada yang melanggar, orang tersebut harus dipindahkan ke Karang Memadu, tempat keramat yang berada di sebelah selatan Desa Adat Penglipuran.

DSC09061

Berkeliling Desa Adat Penglipuran akan membuatmu banyak sadar betapa pentingnya menjaga kualitas destinasi wisata. Tidaklah menjadi bukti yang cukup untuk berbangga hati pada prestasi Penglipuran yang telah mendunia? Bahkan, ditilik dari TripAdvisor, Desa Adat Penglipuran baru saja menjadi menyabet penghargaan berupa The Travellers Choice Destination 2016 karena makin ramai diperbincangkan.

Desa Penglipuran

Desa Penglipuran

Saya menutup hari. Berfoto ria di hutan bambu yang sering diceritakan masyarakat Desa Adat Penglipuran. Sudahkah mengagumi Desa Adat Penglipuran yang mendunia?

DSC09098

Keterangan :

  • Harga tiket masuk Desa Adat Penglipuran Rp 10.000,00/orang, sementara parkir motor Rp 3.000,00 (update Juli 2016)
  • Desa Adat Penglipuran buka mulai pukul 08.00 – 17.00.
  • Secara admininistratif, Desa Adat Penglipuran terletak di wilayah Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli (lima kilometer dari pusat Kota Bangli). Saya berkendara dari Singaraja mengambil rute Kintamani. Nikmatilah sejenak pemandangan Gunung dan Danau Batur di Kintamani yang eksotis. Waktu tempuh Singaraja – Bangli adalah dua jam perjalanan.
  • Hormati dan hargai kearifan lokal masyarakat Desa Adat Penglipuran dengan turut menjaga kebersihan dan tidak membuat gaduh selama berwisata.

Lokasi Desa Penglipuran

Comments

comments

22 thoughts on “Mengagumi Desa Penglipuran yang Mendunia

  1. Menarik nih, rata-rata tulisan yang lain menonjolkan human interest di sana kalau bicara soal Penglipuran. Ternyata seasri itu desanya, jadi pingin banyak belajar di sana. Btw minuman Loh Cem-Cem itu rasanya gimana, Nif?

    1. Asri banget mas.. sayangnya aku kesini pas g ada kaya janur2 kuning gt. Biasanya sih dipasang pas galungan..
      Loh cemcem i rasane kecut manis mas. Pie o .kaya markisa gt. Nano2

  2. wah, sudah banyak teman yang berkunjung ke Penglipuran, sepertinya cantik sekali, ya. apalagi liat jalannya yang bersih banget. salut buat desa ini.

    loh cemcem ini kayaknya bikin penasaran, terbuat dari apa sih?

  3. Hai Mas Hanif, dkk.. salam kenal aku romy dr angktn 14 prwi juga, kyanya dlu prnh liat ps diawal2, aku sgt terkesan & brsyukur msh ada yg suka nulis, mkanya bs jd bahan2 juga, aku pingin dong dikasih referensi pkl untuk bidang manajemen hospitality di deswis / industri parwi kreatif enaknya dimana ya kira2 yg efektif bisa menerima jangka wktu 3 bulan? Sama kalo pingin fokus ke perkembngan destinasi enaknya dimana aja ya? Terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.