Tari Caci, Perang Antara Kesatria Manggarai

Alkisah, di sebuah desa yang sarat akan kearifan lokal tengah bercekcok hingga hampir menyebabkan peperangan. Dikumpulkan pemuda yang tangkas, kuat, dan terampil dari masing-masing kampung. Mereka akan bertarung satu sama lain. Tak lama kemudian, beberapa yang terkuat terpilih menjadi kesatria. Kesatria terpilih haruslah cakap menari dan bersuara merdu. Lantas, pertarungan macam apakah ini?

***

Kami tiba di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat. Sekelompok ibu-ibu dengan seperangkat alat tabuh menyambut kedatangan kami. Sementara kaum bapak bernyanyi mengikuti alunan musik tabuh. Tujuan kami ialah menyaksikan pertarungan paling tersohor di sini.

“Kami tahu Jakarta itu jauh. Ke tempat ini melewati angkasa begitu luas, samudera begitu dalam, padang datar, daki gunung, seberangi laut. Ketika sudah duduk di tikar ini, di dalam rumah ini, tidak ada lagi beban yang menyertai Bapak Ibu”, sambut Ketua Adat.

DSC00435

Untuk melihat pertarungan para kesatria Manggarai, kami melewati banyak prosesi. Ketua Adat menyodorkan lembaran uang ribuan rupiah dan segelas arak sebagai tanda penyambutan kami. Seorang kawan berbisik bertanya pada guide kami. Khawatir jika menolak tawaran meminum arak akan celaka. Namun tidak demikian. Bagi yang muslim, dibolehkan untuk tidak meminum suguhan arak tersebut. Iring-iringan tabuh tradisional mulai dimainkan. Para kesatria sibuk mempersiapkan diri sambil melenturkan otot-otot kerasnya.

Pertarungan akan segera dimulai. Bukan untuk memilih siapa yang kalah dan yang menang. Bukan pula untuk adu kekuatan agar terpilih yang terkuat. Ini hanyalah sebuah tarian perang satu lawan satu dari masyarakat Manggarai. Juga tarian untuk memperingati semangat bertempur kaum lelaki Manggarai yang bertujuan agar semangat juang itu tetap terjaga. Tari Caci namanya. Ca berarti satu dan Ci berarti uji. Tari Caci bukan sekadar tarian perang biasa, melainkan perpaduan unik antara Lomes, Bokak, dan Lime. Lomes merupakan keindahan gerak tubuh dan pakaian yang digunakan oleh penari. Bokak merupakan seni suara. Sementara Lime adalah ketangkasan mencambuk dan menangkis. Menarik, bukan?

DSC00451

DSC00532

DSC00595

Seteguk arak adalah pembukanya. Para kesatria bergantian meminum arak lantas memamerkan bentuk tubuhnya yang telanjang dada. Tangan kanan memegang senjata pecut, sementara tangan kiri rapat memegang tameng/perisai. Mereka mengenakan destar menutupi sebagian kepalanya. Seakan menjawab tantangan lawan yang terlihat tak kalah kuatnya.

DSC00482

Dua kesatria yang saling berhadapan memasang kuda-kuda sangat kuat. Salah satunya bersuara lantang berbahasa lokal yang terdengar seperti menantang lawan. Penantang menyerang dengan melompat. Namun lompatannya tak cukup untuk mengecoh lawan. Sementara Sang Lawan berlindung di antara tamengnya. Berhati-hati andai serangan datang dari arah yang tak diduga. Ia melompat lagi, kemudian sengaja tak segera memukul. Nampaknya penyerang sedang mencari celah sekali pukul. Lompatan ketiga, ditariknya cambuk memukul lawan. Cepat lawannya mengangkat tameng. Pukulannya meleset ditepis tameng.

DSC00537

DSC00539

Cukup profesional. Tak ada dendam meskipun pukulan meleset tak mengenai lawan. Digantilah dengan kesatria lain yang berbadan lebih kekar. Ia mengencangkan destar yang menyelimuti kepalanya. Hanya terlihat dua pasang mata yang tajam menatap lawannya. Lompatan pertama hanya untuk mengecoh lawan. Barulah lompatan ketiga ia mulai memukul lawannya dengan pecut di tangan kanannya. Lagi-lagi berhasil ditangkis. Lawannya bersuara. Berusaha mengejek si penantang yang tak ada apa-apanya. Sorak di antara para penabuh kendang dan penonton yang ikut-ikutan mengerti bahasa lokal semakin meramaikan suasana.

DSC00577

DSC00701

Kesatria lainnya tampil bertarung. Mengibas-ngibaskan pecutnya sehingga menghasilkan bunyi yang keras. Ujung pecutnya adalah kulit kerbau tipis yang sudah kering, akan sakit mengenai lawan. Namun kali ini lawannya sebanding. Mereka saling serang dan bertahan. Ditangkisnya lompatan terakhir yang mengarah tepat di atas kepala. Apabila kurang lincah membaca serangan lawan, sudah dipastikan pecut itu akan meninggalkan bekas luka yang dalam. Sakit bukan main pasti. Tapi mereka tak pernah mengaduh. Bahkan mereka percaya, luka di tubuhnya adalah sebuah pertanda bahwa esok akan panen lebih baik.

Sengit pertarungan di antara kesatria bukanlah atas dasar pertikaian. Sejauh ini, Tari Caci hadir sebagai keakraban persaudaraan. Secara simbolis, tari ini juga dimainkan pascapanen sebagai tanda syukur. Barulah setelah itu, berturut-turut tarian Akomafo, Dundung Dake, Kerangkuk Alu, dan Sandak ditampilkan.

Tarian Akomafo merupakan tarian yang biasa dimainkan pascapanen padi. Tari Dundung Dake merupakan tarian persahabatan yang penarinya mayoritas perempuan. Sementara Tari Kerangkuk Alu merupakan ajang pencarian jodoh. Tari Kerangkuk Alu mengingatkan saya akan Tari Loncat Gabah di Raja Ampat. Kelincahan perempuan Manggarai nampak terlihat ketika menarikannya. Dan terakhir, tampil Tari Sandak yang merupakan tari pengakraban. Diajaklah wisatawan menari bersama perempuan Manggarai.

DSC00599
Tarian Akomafo merupakan tarian yang biasa dimainkan pasca panen padi
Tari Dundung Dake merupakan tarian persahabatan
Tari Dundung Dake merupakan tarian persahabatan
Tari Rangkuk Alu merupakan ajang pencarian jodoh
Tari Kerangkuk Alu merupakan ajang pencarian jodoh
Tari Sandak yang merupakan tari pengakraban. Foto oleh : Astari
Tari Sandak yang merupakan tari pengakraban. Foto oleh : Astari

Betapa mereka sangat ramah menyambut kedatangan dan mengantar kepulangan kami. Menjadi penari Manggarai yang sebentar saja, cukup membuat saya jatuh hati pada Manggarai. Secangkir kopi Flores menjadi ramuan pelepas dahaga di siang hari. Sementara itu, di balik jendela rumah adat, beberapa wanita menjajakan jualannya berupa kain dan kopi Flores kepada kami.

DSC00708

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Begitu pula dengan tari-tarian di Manggarai yang termasuk ke dalamnya. Tak hanya bisa menonton dan mengabadikannya dalam gambar, bahkan turut menari bersama pun dipersilakan. Sungguh suatu cara yang unik untuk melestarikan budaya negeri kita. Belilah satu atau dua khas buah tangan yang ditawarkan. Bolehlah saya bertaruh, hitam kopinya sangat nikmat diteguk. Kainnya pun demikian. Akan anggun jika kalian mengenakannya. Itulah salah satu cara membantu perekonomian masyarakat di sini.

***

DSC00715

Simbolisme Tarian Caci

Menurut Bapak Markus Feriyanto (pemain Caci), Tarian Caci penuh simbolisme terhadap kerbau yang dianggap sebagai hewan terkuat di Manggarai. Tanduk di kepala memiliki arti penghormatan. Wajah yang dibalut kain destar sebagai pusat kesabaran seorang Caci. Kain songke yang digunakan memiliki tiga dasar warna. Putih yang berarti keikhlasan, merah berarti keberanian, dan hitam berarti bekerja keras. Pecut melambangkan Ayah, yang berarti dalam hidup penuh perjuangan dan cobaan. Sementara perisai melambangkan Ibu, yang berarti melindungi.

Perjalanan ini merupakan dokumentasi kegiatan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel). Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaIndonesia maupun #SaptaNusantara.

***

Lokasi Kampung Cecer

Comments

comments

8 thoughts on “Tari Caci, Perang Antara Kesatria Manggarai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.