Candi Plaosan Lor: Romantis Walau Tanpa Lembayung Senja

DSC02361

Bolehkah jika wilayah perbatasan Kabupaten Sleman dan Klaten kunamakan dengan “Kota Seribu Candi”? Bukan tanpa alasan ingin kusebut demikian, melainkan kehadiran banyak candi yang letaknya berdekatan membuat pikiranku tak bisa diam. Mengunjungi batas kota itu bagiku selalu menyenangkan. Memandangi keindahan arsitektur candi selalu membuatku berdecak kagum. Maka kali ini, izinkan aku bercerita tentang salah satu yang jadi favoritku, Candi Plaosan Lor.

Romantis. Satu kata yang sekonyong-konyong hinggap dalam benakku kala mengingat sejarah berdirinya Candi Plaosan Lor. Betapa tidak, ia yang kerap pula menyandang sebutan Candi Kembar ini konon dibangun atas dasar cinta. Ketika perempuan dan lelaki saling mengagumi. Ketika Sang Putri dan Sang Raja saling memadu kasih. Ketika istri dan suami menempuh ikrar sehidup semati. Tengok saja isi Prasasti Cri Kahulunan pada 842 Masehi. Di dalamnya ada bukti mengapa aku berani bilang ini romantis.

DSC02458

DSC02365

DSC02420

Tersebutlah seorang putri jelita bernama Pramudyawardani yang merupakan anak perempuan dari Raja Samaratungga, Wangsa Syailendra. Kecantikannya memikat hati penguasa kerajaan tetangga, Rakai Pikatan, Sang Raja dari Wangsa Sanjaya. Meskipun berbeda keyakinan—sementara Sang Putri menganut agama Budha, Sang Raja menganut agama Hindu—keduanya tak urung mengabadikan jalinan kasih ke jenjang pernikahan. Pernahkah kamu dengar bahwa pada masanya rakyat Hindu dan Budha di daerah ini hidup harmonis berdampingan? Kuyakin kisah Putri Pramudyawardani dan Rakai Pikatan turut andil di dalamnya.

Agaknya pernikahan belum cukup jadi saksi cinta mereka. Dari kisah yang kudengar, mereka kemudian membangun Candi Plaosan Lor yang jadi representasi cinta sejati. Candi Plaosan Lor terdiri dari 2 candi induk yang dikelilingi 174 perwara. Candi induk di sebelah selatan dihiasi relief yang menggambarkan lelaki sebagai bentuk kekaguman Pramudyawardani terhadap suaminya. Sementara candi induk di sebelah utara dihiasi relief yang menggambarkan perempuan sebagai bentuk kekaguman Rakai Pikatan terhadap istrinya. Arsitektur kedua candi yang membentuk sebuah komplek ini menampilkan campuran unsur agama Hindu dan Budha. Dapat terlihat jelas dari bangunan candi yang menjulang tinggi dan dikelilingi perwara (corak Hindu), namun agak melebar dan dihiasi stupa (corak Budha).

Ternyata, atmosfer romantis di Candi Plaosan Lor tak hanya berasal dari sejarahnya. Datanglah saat sore mulai menyapa. Menjelang petang di sana menyuguhkan pemandangan yang indah luar biasa! Mentari oranye menyembul dari ufuk barat. Lembayung senja mewarnai awan dan langit dengan kuasnya. Jalanan kecil di sisi pesawahan milik warga jadi spot yang tepat untuk memotret momen yang hanya bisa ditangkap saat hari sedang cerah. Tapi menatap momen yang bergerak perlahan itu memang tak puas jikalau dari lensa tustel semata. Sempatkanlah untuk sejenak terlena menyaksikannya dengan mata telanjang. Begitu pula aku yang tiada habisnya dibuat terpesona pada panorama bangunan candi yang menghitam berhias rona jingga. Lukisan alam yang sempurna! Pramudyawardani dan Rakai Pikatan sama sekali tak salah pilih tempat untuk membangun Candi Plaosan Lor. Mungkin mereka memang sengaja. Agar bisa menghabiskan senja romantis berdua.

DSC05513

DSC05494

DSC05485

DSC05476

Menyaksikan mentari terbenam di Candi Plaosan Lor bagaikan candu. Kembali berkunjung ke sana tak jadi masalah bagiku. Namun di waktu berikutnya, lembayung senja tak mampu menembus mendung tebal di atas langit Candi Plaosan Lor. Gerimis turut membasahi pelataran candi. Kumegarkan payung dan memilih untuk berjalan mengitari kedua candi induk, mengaguminya dari jarak terdekat. Semakin dekat berjalan, semakin tinggi kepalaku mendongak untuk menatap cantiknya atap berhias stupa. Tak bisa kupungkiri, Candi Plaosan memang menawan hati.

DSC02380

DSC02449

Menikmati suasana romantis di Candi Plaosan Lor tak melulu harus di penghujung hari. Pula tak melulu harus berlatar belakang mentari terbenam ataupun terbit. Pada dasarnya, candi ini memang dibangun demi simbol cinta dua sejoli. Setidaknya, kisah bahagia mereka dapat meredam kisah tragis Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso di Candi Prambanan—yang terletak tak jauh dari sana. Bukankah menyenangkan menjadi pejalan yang tak sekadar gemar mengabadikan gambar? Karena keindahan suatu tempat tak hanya bisa dilihat dari pemandangannya, tetapi juga dari kisah yang menjadikannya ada.

***

Lokasi Candi Plaosan

Comments

comments

8 thoughts on “Candi Plaosan Lor: Romantis Walau Tanpa Lembayung Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.