Sumatra Selatan memiliki banyak ikon yang terkenal seantero Nusantara. Sebut saja Palembang yang menjadi ibu kotanya, pempek yang menjadi makanan khasnya, Jembatan Ampera sebagai saksi bisu pergolakan politik bangsa, Sungai Musi yang menyandang gelar sungai terpanjang di Pulau Sumatra. Yang tak kalah penting, gelaran tahunan Musi Triboatton yang semarak di kalangan lokal hingga internasional.
Tahun ini adalah kali keempat Musi Tribuatton diselenggarakan. Negara tetangga tak mau kalah eksis unjuk kebolehan. Singapura, Malaysia, Filipina, dan Brunei adalah saingan berat tuan rumah acara. Meskipun baru diguyur gerimis, keramaian di panggung etape pertama makin membludak. Penonton yang kebanyakan kalangan pelajar Kabupaten Empat Lawang juga ikut memadati acara. Rencananya, Musi Tribuatton akan melalui lima etape selama empat hari berjalan. Palembang adalah kota terakhir yang akan mereka lalui. Puncak acara di Palembang dimeriahkan perahu naga yang unjuk kegagahan. Ikon Jembatan Ampera menjadi garis finish gelaran tahunan ini.
Jembatan Ampera menghubungkan dua daratan di Palembang, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Diresmikan pada 1965, dulunya bernama Jembatan Bung Karno dan merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara saat itu. Namun setelah terjadi pergolakan politik di tahun 1966, namanya berubah menjadi Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Namun sayang, karena waktu dan jarak yang panjang, saya dan rombongan hanya bisa menyaksikan etape pertama saja di Kabupaten Empat Lawang.
Pada etape pertama, perahu rafting yang diluncurkan untuk adu kekuatan. Kompak sekali tiap peserta perwakilan wilayah kala mengangkut perahu rafting-nya. Otot-otot mereka yang besar menjadi modal untuk menggertak lawan. Bahkan anggotanya masih ada yang duduk di bangku SMA! Indonesia menerjunkan banyak peserta pada gelaran tahun ini. Jambi, Sumatera Selatan, NAD, Riau, Sumatera Barat, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau menanggung harapan menjadi juara.
Cepat saya mengambil posisi. Terparkir mobil box besar di pinggir Sungai Musi. Saya naik ke atas mobil box diikuti fotografer lainnya. Dari sini, ruangnya lebih lapang untuk mengambil gambar. Tepuk tangan penonton makin memeriahkan suasana. Beberapa pejabat kementerian dan provinsi merapat ke panggung start Musi Tribuatton.
Satu…Dua…Tiga… Hitungan pembukaan Musi Triboatton 2015 dimulai. Bendera dikibarkan sebagai tanda dilepasnya peserta lomba rafting etape pertama. Penuh sesak tepi Sungai Musi oleh wisatawan dan wartawan. Saya tak mau diam, mengarahkan kamera mengikuti perahu rafting yang sangat cepat didayung. Suasana menegang ketika salah satu peserta salah ambil jalur. Perahu raftingnya tersangkut batu di tengah sungai. Musuhnya telah meninggalkan jauh. Ia berputar, kembali mendayung dan mengejar lawan.
Bagi saya, kelas berat etape pertama ada di kloter kedua. Pesertanya terlihat memiliki tangan yang sering dilatih. Mereka mendayung lebih cepat dan berhasil menghibur wisatawan. Tepuk meriah kali ini jauh lebih keras dibanding kloter pertama. Tak ada jeda panjang dalam etape pertama ini. Seluruh peserta dilepas secara bergantian oleh panitia. Semakin habis peserta, pengunjung beranjak meninggalkan lokasi acara.
Siapa pemenangnya? Saya mendapatkan pemenangnya saat membaca banyak berita. Berbahagialah karena tuan rumah menjadi juara umumnya. Ya, juara umum Musi Triboatton 2015 diraih peserta dari Jambi.
Gelaran Musi Triboatton ke empat ini pantas dibanggakan. Masyarakat lokal kini mulai menjaga kebersihan Sungai Musi, terbiasa dengan wisatawan yang datang setiap tahunnya, dan belajar mengorganisir acara internasional. Kesempatan untuk merasakan manisnya even pariwisata cukup merata karena lokasi pembukaan acara digilir tiap tahunnya. Semoga esok, Musi Triboatton menyedot banyak peserta dari berbagai negara.
****
Tak puas memang hanya menyaksikan Musi Tribuatton 2015 di etape pertama. Selepas dari Kabupaten Empat Lawang, kendaraan kami melaju menuju Kota Palembang. Tak lengkap rasanya ke Sumatra Selatan tanpa mampir ke Jembatan Ampera. Megah berdiri jembatan ini menjadi ikon Palembang yang tak bisa dilewati. Awalnya, bagian tengah jembatan ini dapat terangkat untuk membuka jalan bagi kapal yang melintasi Sungai Musi. Namun sejak 1970, aktivitas itu dihentikan karena dirasa mengganggu lalu lintas di atasnya. Ikon kota yang sarat akan sejarah! Semoga esok, dapat kembali ke sini menyaksikan Dragon Boat Musi Tribuatton melewati garis finish.
Perjalanan ini merupakan dokumentasi kegiatan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel) dalam acara Musi Triboatton 2015. Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaMusiTriboatton2015.
Tim Pesona Indonesa – Musi Triboatton 2015. Dari kiri ke kanan : Adit Xoxo, Zacky Soemampouw, Griska Gunara, Hannif Andy, Rendy (Aksara Films).
***
Lokasi etape pertama Musi Triboatton






















Wah, ada quiz tentang Musi Triboatton ya?
Iya, etape 1 aja udah seru gini. Apalagi etape terakhir
Karena komen di blog Salman, jadi “tersasar” di sini ;D
Sama-sama sakit di Musi Triboatton, eh kita satu lokasi itu mas, cuma gak ketemu ya? ketemu sama Rendy dan Laras doang. Kapan-kapan mampir lagi ke Palembang.
Lhoh. ketemu mas Rendy? yah. aku g ikut kenalan apa kita kaga ketemu ya? hehe.
Makasih. Anda tersasar di tempat yang pas
Kayaknya gak ketemu deh. Aku gak lihat mas Rendy bawa rombongan hehehe.
Hahaha.soaalnya kita cm berlima doang ee
ga pernah sempat lihat ini kalau ke palembang,,, hemmm
Kalau pas ke Palembang, ngepasin musi triboatton mas. hehe
sekitar bulan brpaa tuh
coba download agenda kemenpar mas. aku lupa. dulu sih september/ oktober
oh gitu yah, makasih infonya yahh
`