No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Pantai Kedung Tumpang, Primadonanya Tulungagung

by Hannif Andy Al - Anshori
Oktober 27, 2015
6 min read
6

“Menurut Bapak/Ibu, tempat wisata apa yang menarik di Kabupaten Tulungagung?”

Semua mengangguk sepakat meletakkan Pantai Kedung Tumpang di urutan pertama sebagai tempat wisata yang paling menarik di Kabupaten Tulungagung saat Focus Group Discussion yang mengumpulkan seluruh pelaku wisata (hotel, restoran, Pokdarwis, dan pengelola destinasi).

Kabupaten Tulungagung boleh berbangga hati melihat ledakan wisatawan yang datang berbondong-bondong datang ke Pantai Kedung Tumpang. Sejak dibuka saat lebaran Idul Fitri 2015, pantai ini sudah didatangi lebih dari puluhan ribu wisatawan.

Pantai Kedung Tumpang terletak di Desa Pucanglaban. Jarak tempuh dari Kota Tulungagung sekitar 30 km dengan memakan waktu lebih dari 30 menit. Pantai yang dikelola secara swadaya ini kini makin eksis di media sosial. Beberapa wisatawan yang saya jadikan narasumber pun mendapat informasi Kedung Tumpang dari Instagram. Bahkan saat liburan Idul Fitri 2015, masyarakat selaku pengelola merasa kewalahan mengurus parkir dan memberikan pengawasan karena hampir 8.000 wisatawan kalangan muda datang ke Kedung Tumpang.

Saya yang bertugas dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Tulungagung cukup penasaran dengan Pantai Kedung Tumpang. Diantarlah saya oleh Mas Rio yang juga sebagai aktivis pariwisata di Tulungagung. Untuk sampai ke Pantai Kedung Tumpang, ambilah arah menuju Kecamatan Pucanglabang. Dari sini, sudah cukup banyak petunjuk arah yang dapat memudahkan wisatawan menuju Kedung Tumpang. Untuk yang menggunakan mobil, disarankan untuk berhenti di batas palang yang juga dijadikan kantong parkir oleh masyarakat sekitar. Jika menggunakan kendaraan bermotor, bolehlah terus melaju sampai Pantai Kedung Tumpang.

  DSC03805

DSC03814  

Masyarakat yang awalnya berprofesi sebagai petani bahkan kini mulai merambah menjadi penyedia jasa seperti tukang ojek di Kedung Tumpang. Biaya antarnya Rp10.000 dari kantong parkir mobil (sekitar 4 Km). Perjalanan menuju Kedung Tumpang cukup memacu adrenalin saya. Dari atas sini pemandangan Pucanglaban cukup indah.

Saya berkesempatan mengenal ketua Pokdarwis Kedung Tumpang secara langsung, Mas Adi Sucipto namanya. Beliau yang mengantar saya berkeliling kawasan Pantai Kedung Tumpang. Saya meminta agar menggunakan rute berangkat dan pulang yang berbeda. Rute berangkat yang kami ambil terbilang ekstrim dan penuh adrenalin. Tanah yang tidak rata dan curam membuat Pokdarwis Kedung Tumpang gotong royong memasang tali tampar. Fungsinya tak lain adalah untuk berpegangan. Rute ekstrim ini ternyata banyak peminatnya. Jujur, saya cukup senang menggunakan rute ini karena selain penuh tantangan, waktu tempuhnya sangatlah singkat.

  DSC03856  

Sampailah saya di Kedung Tumpang dengan disambut senyum masyarakat Pucanglaban yang berjualan batu akik dan makanan ringan. Beberapa pengawas berkacamata hitam juga tampak serius menatap dari atas tebing untuk menjaga wisatawan yang berkeliaran.

Dari sini sudah tampak kolam alami yang diisi cipratan air ombak Pantai Kedung Tumpang. Warnanya yang hijau tosca membuat saya mulai tak tahan untuk lekas ambil ancang-ancang menyelam. Saat ombak datang, wisatawan pun mulai berlarian. “Jangan lari. Jalan saja ya! Kalau ombak datang, nggak usah lari. Itu licin”, teriak Mas Adi yang khawatir keselamatan wisatawan. Batu karang di sini sangatlah licin, keras, dan tajam. Itulah sebabnya banyak pengawasan yang diberikan. Pokdarwis Kedung Tumpang juga telah membagi titik pengawasan untuk wisatawan. Kekhawatiran akan keamanan dan keselamatan wisatawan mampu menggerakkan Mas Adi untuk memberdayakan masyarakat di Pucanglaban sebagai pengawas dan SAR.

Kolam alami dengan bentuk tak beraturan ini sangatlah memanjakan mata. Saya pun mendapati banyak wisatawan yang berselfie di sini. Suasananya yang teduh juga menambah kesejukan di kolam alami Kedung Tumpang. Saat waktu surut, ombak akan terlihat tenang sehingga kolam-kolam ini disesaki wisatawan yang ingin berenang. Kolam-kolam yang terbentuk secara alami ini memiliki tinggi yang masing-masingnya tak sama rata. Karena itulah masyarakat menyebutnya dengan nama kedung (lubuk atau bagian sungai yang dalam). Sedangkan nama tumpang, karena lokasinya yang bersusun-susun. Pantai Kedung Tumpang diapit oleh dua pantai, yaitu Pantai Molang dan Pantai Lumbung.

  DSC03867

DSC03882

DSC03899

DSC04032

DSC04045

DSC04047  

Lihatlah! Sungguh elok Pantai Kedung Tumpang dari atas batu karang. Turunlah saya menuju kolam alami Kedung Tumpang. Kedalaman kolam alami ini mencapai dua meter. Namun tak tampak dalam karena airnya yang sangat bersih bagaikan cermin. Ikan-ikan kecil nampak keluar dari persembunyiannya ketika ombak tak datang. Lalu, kembali sembunyi diantara batu karang saat ombak datang. Mulailah saya berenang dan bergaul bersama wisatawan yang belum saya kenal.

  DSC03903

DSC03913  

Saya pun diajak berpindah tempat oleh Mas Adi. “Mau bilas di air terjun nggak?” ajaknya. Dengan cepat saya mengiyakan ajakan itu. Sampailah kami pada Air Terjun Jurug Wangi yang tak jauh dari kolam alami Kedung Tumpang. Gemericik airnya yang sedikit cukup membuat seluruh pakaian saya kuyup. Airnya sangatlah bersih karena langsung jatuh dari sumber mata air. Rencananya, Mas Adi dan kawan-kawan akan menyulap air terjun ini menjadi wisata pendukung Kedung Tumpang.

  DSC03980  

Berpindahlah saya ke tempat lain. Ditunjukkannya saya kolam yang sekilas mirip dengan telapak kaki manusia. Sangat banyak yang ingin berfoto di sini. Sepoinya terasa ramah dan menyejukkan suasana. Ajakan Mas Adi untuk berfoto di atas batu tak baik untuk ditolak. Berpindah ke tempat lain, ada lagi yang unik. Selain kolam alami yang berwarna hijau tosca dan biru, kolam berwarna coklat juga tak kalah menarik. Kolam alami berwarna coklat ini karena dasar kolamnya adalah pasir pantai yang dibawa oleh ombak besar.

  DSC04061

DSC04064

DSC03991

DSC04013  

Spot foto di Pantai Kedung Tumpang sangatlah banyak. Mas Adi pun dengan semangatnya mengantar saya mengambil beberapa gambar. Batu-batu karang yang nampak gagah ini hanya dilewatkan begitu saja oleh wisatawan. Di sini nampak sepi. Ya, berbeda dengan suasana kolam alami yang disesaki wisatawan yang ingin ber-selfie.

Panas matahari mulai menyengat. Ombak pun mulai pasang. Beberapa pengawas mulai berkeliling sambil mengambil sampah yang berceceran. Setiap tiga jam sekali, pengawas yang berjaga juga bertugas untuk membersihkan pantai dari sampah-sampah yang dibawa wisatawan.

Saya kemudian diajak Mas Adi untuk menyudahi perjalanan. Namun kali ini dengan rute yang berbeda, jalan yang lebih panjang. Jalan pulang yang saya lalui tak seekstrim di awal, namun cukup melelahkan karena sangat menanjak tanpa pemandangan.

Pantai Kedung Tumpang, kini ia menjadi primadona andalan Kabupaten Tulungagung. Secara cepat ia tersebar di media sosial. Secara cepat pula ia mendapatkan wisatawan. Tak kenal libur pekan, hari biasa pun sesak wisatawan.

Tips :

  1. Datanglah ke Pantai Kedung Tumpang saat pagi hari karena laut akan surut. Jika sudah masuk siang, ombak pantai akan tinggi dan sangat membahayakan wisatawan yang ingin berenang.
  2. Gunakan sepatu/sandal gunung karena wisatawan harus menyusuri jalur yang cukup curam dan berat. Treknya menuruni bukit dengan kemiringan bervariasi bekas lahan tanaman palawija.
Previous Post

Mencicipi Ragam Kuliner di Tulungagung

Next Post

Menyeberang ke Pulau Katang yang Tak Berpenghuni

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Menyeberang ke Pulau Katang yang Tak Berpenghuni

Menyeberang ke Pulau Katang yang Tak Berpenghuni

Comments 6

  1. Shudai Ajlani says:
    11 tahun ago

    Keren banget! Mau selfie dipinggir karang ituuuu

    Balas
    • insanwisata says:
      11 tahun ago

      Haha. Boleh selfie di sini kok..

      Balas
  2. bay says:
    10 tahun ago

    bookmarked! tapi perjalanan menuju pantainya cukup menantang yaa

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Iya mas. cukup menantang di sini.. Tapi bagus pantainya

      Balas
  3. fanny meliana says:
    10 tahun ago

    Itu Pantai atau tebing ya ? kok sepertinya di atas tebing gitu ?
    tapi keren banget lho …. parkir mobil ada tempatnya mas ? atau nitip di rumah penduduk ? Tolong tanya juga ada hotel di dekat kawasan wisata tersebut ?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Hotel jauh Mba. Hotel bisa di pusat kota. Parkir mobil sudah ada. Dari parkir mobil kita bisa naik ojek dengan biaya Rp10.000,00 langsung ke TKP.
      Ini tebing Mba.

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller