No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Menyeberang ke Pulau Katang yang Tak Berpenghuni

by Reza Nurdiana
November 1, 2015
4 min read
4

IMG_3193

 

Mesin kapal menderu memekakkan telinga. Bau solar pun sesekali mampir lewat indera penciuman. Suasana khas di atas kapal yang sudah beberapa kali kurasakan. Begitu pula suasana perjalanan menuju Pulau Katang. Pulau Katang ini hanyalah pemandangan sehari-hari kala memandang sunset dari dermaga Pulau Nyamuk. Namun hari itu, aku gembira. Akhirnya aku berkunjung ke Pulau Katang!

Hanya butuh sekitar lima belas hingga dua puluh menit perjalanan laut dari Pulau Nyamuk ke Pulau Katang yang tak berpenghuni itu. Selama perjalanan, suguhan panorama laut dangkal sangat memanjakan pandangan. Terumbu karang dan ikan-ikan kecil bukan lagi hal yang luar biasa terlihat. Yang paling kusuka ialah warna laut di sana. Dari kejauhan, seakan ada tiga lapis warna. Biru tosca, biru muda, dan biru tua. Warna-warna yang menandakan tingkat kedalaman laut. Semakin tua warnanya, semakin dalam lautnya.

 

_MG_5354

_MG_5735

 

 

Semakin dekat, hijaunya pepohonan yang tumbuh memadati Pulau Katang semakin jelas terlihat. Pasir putih yang membentuk pantai juga menggoda untuk segera memijakkan kaki di sana. Tapi kapal yang kunaiki terlalu besar untuk menepi hingga ke bibir pantai Pulau Katang. Kapal akan kandas (karam) terantuk batu karang, begitu kata Bapak pemilik kapal. Perjalanan yang tinggal seratusan meter harus dilanjutkan dengan menaiki perahu jukung (perahu kecil dengan tenaga dayung). Dari perahu jukung, aku bisa dengan bebas mencelupkan jemariku ke air. Airnya bening dan ombaknya tenang, tak sabar ingin segera berlarian di pantainya.

Semenit terombang-ambing di atas perahu jukung, sampai juga di bibir pantai Pulau Katang. Sembari turun dari perahu jukung, kakiku terendam lautan hingga ke lutut. Senangnya seperti tak pernah bertemu laut sebelumnya. Kulihat kawan-kawan mulai berlarian dan bersiap mengabadikan keindahan Pulau Katang ke dalam gambar. Kususul mereka sambil tertawa gembira. Pulau Katang punya hamparan pasir putih yang lembut! Bahkan lebih lembut dari pasir putih di pantai Pulau Nyamuk yang punya pasir putih paling lembut. The most soft of the most soft! Pun kentara sekali kalau pulau ini jarang tersentuh turis, terlihat dari sampah yang berserakan hanya berupa kulit kelapa kering serta cangkang kerang bekas terbawa ombak.

Perahu jukung disandarkan dan semua berebut untuk berpose di atasnya. Sebagian ada yang langsung menyelam dan berenang sampai ke gosongan yang terletak tak begitu jauh dari pulau. Pulau Katang benar-benar masih alami! Di sana banyak ditemukan kima (kerang bercangkang besar), teripang, bahkan bintang laut yang terbawa hingga ke tepian pantai. Aku bertemu bintang laut cantik berwarna hijau tosca, teksturnya keras. Aku bahkan tak percaya kalau itu binatang sungguhan, terlihat seperti mainan buatan manusia. Bintang laut memang banyak jenisnya, namun yang seperti itu baru kulihat untuk pertama kalinya.

 

DSC_0059

DSC_0114

IMG_5366

 

Walau siang semakin menantang, suasana di Pulau Katang tetap mengasyikkan. Aku dan kawan-kawan juga menikmati makan siang dengan menu ikan bakar. Ikan yang dibawa dari Pulau Nyamuk dibakar dengan peralatan alami seadanya. Saking alaminya, sampai-sampai daun dijadikan alas makan. Sama sekali tak merasa jijik, malah menambah kelezatan sambil bercengkrama bersama kawan. Aku masih ingat nikmatnya bersantap ikan ijo, ikan kambing-kambing, juga ikan semadar (baronang) bakar dengan nasi putih dan sambal yang dibawakan seorang warga Pulau Nyamuk. Hmm…. Sedap!

 

_MG_5811

_MG_5819

DSC_0242

 

Aku masih terpesona oleh hamparan laut biru yang dangkal serta siluet Pulau Nyamuk yang tampak jelas di seberang sana ketika seorang kawan mengajakku berkeliling Pulau Katang. Sungguh kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Aku pun turut ke dalam perjalanan. Namun belum setengah jalan, pasukan berhenti tiba-tiba. Seorang kawan yang merupakan pemuda Pulau Nyamuk bilang ia baru ingat kalau jalan yang akan dilalui ada makamnya. Ia bercerita, dulu ada mayat seorang yang diduga nelayan terapung di dekat Pulau Katang. Orang-orang yang menemukannya mengubur mayat itu di pulau tak berpenghuni ini. Karena mayat yang ditemukan tak beridentitas, orang-orang menyebut kuburnya “Makam Teman”. Ya, sesama nelayan adalah teman. Kemudian rencana berkeliling pun gagal dan berbalik arah kembali menuju poin semula. Entah karena menghormati penghuni makam, atau malah ngeri dengannya?

Pulau Katang, pulau tak berpenghuni yang menyimpan sejuta keindahan, sekaligus kisah yang bisa dibilang seram. Namun demikian, bisa berkunjung ke sana adalah hal yang menyenangkan. Begitu pula dengan kalian yang mungkin punya keinginan untuk datang ke sana. Nikmatilah keindahan alam Pulau Katang sepuasnya, namun jangan sekalipun merusaknya dengan sampah yang tak kalian pertanggungjawabkan.

 

IMG_4075

 

 

Tags: Karimun Jawapesona indonesiaPulau Katang
Previous Post

Pantai Kedung Tumpang, Primadonanya Tulungagung

Next Post

Cara Tulungagung dan Yogyakarta Sambut Bulan Suro

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Cara Tulungagung dan Yogyakarta Sambut Bulan Suro

Cara Tulungagung dan Yogyakarta Sambut Bulan Suro

Comments 4

  1. Rizal says:
    10 tahun ago

    daerah mana ini pulau kak?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Karimunjawa mas 🙂

      Balas
  2. cumilebay.com says:
    10 tahun ago

    Kalo pulau nya kosong, enak buat mojok pacaran plus2 yaaaa hua hua

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Wah.. Nyamuk itu Nyantri Mukti om. jadi ga baik pacaran di tanah santri :p

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller