Si Api Biru, Bima Sakti, dan Penambang Super di Gunung Ijen

Berkunjung ke Gunung Ijen bukanlah rencana saya. Wajar jika persiapannya tak matang. Lewat perbincangan santai di Pantai Temukus Bali, enam orang bertemu kata sepakat untuk reuni sekaligus pelesir ke Gunung Ijen, Banyuwangi. Amang, Irwan, Payun, Arin, dan Rizal adalah sahabat saya sejak SD. Merekalah yang jadwalnya sudah teragenda melakukan pendakian. Sementara saya hanya mengekor dan turut meramaikan acara reuni kecil ini. Saya senang bukan main. Pendakian Gunung Ijen tahun ini bukan lagi wacana. Saya mengurungkan niat membeli tiket pulang ke Jogja. Kemudian memilih berdiam diri lebih lama dua hari di Bali dari waktu yang telah direncanakan.

Berangkat dari Bali, kami genap sepuluh orang mengendarai motor berplat DK menuju Banyuwangi. Kami melewati pelabuhan penyeberangan menggunakan kapal Feri yang menghubungkan Gilimanuk–Ketapang dengan amat santai. Di Banyuwangi, kami berjumpa Mas Alan Nobita yang kini berprofesi sebagai pegawai Taman Nasional juga travel blogger. Diajaknya kami mengitari pusat Kota Banyuwangi dan mencicipi lezatnya Ayam Tempong Mbok Nah. Perut yang terisi cukup asupan akan menjadi tenaga selama pendakian. Kami segera pamit untuk menjajal dinginnya malam di kawasan Gunung Ijen, gunung dengan pemandangan kawah yang tersohor hingga belahan negara lain.

nasi tempong banyuwangi

Mas Alan Nobita, travel blogger Banyuwangi yang tulisannya bisa disimak di sini.
Mas Alan Nobita, travel blogger Banyuwangi yang tulisannya bisa disimak di sini.

Kawah Ijen merupakan kawah asam raksasa terbesar di dunia. Gunung Ijen juga menjadi salah satu gunung aktif di Pulau Jawa yang terakhir meletus pada 1999. Ketinggian dinding kalderanya mencapai 500 meter dengan total luas area kawah sebesar 5466 hektar dan kedalaman kawah mencapai 200 meter. Tingkat keasaman Kawah Ijen ini hampir mendekati angka nol dimana semakin rendah angka atau semakin tinggi tingkat keasamannya semakin mudah melarutkan berbagai benda-benda keras seperti batu (wikipedia).

Malam itu dinginnya bukan main. Pos pembelian tiket sudah dipadati ribuan wisatawan. Menurut salah satu warga yang berjaga, beruntung saya datang hari ini karena padatnya tak seberapa dibanding libur lebaran kemarin. Antrean toilet ikut memanjang. Warung kopi sesak wisatawan. Tak ada lagi ruang bagi kami untuk rehat dan berselonjor kaki. Semua ruas sudah diisi kelompok pendaki yang ingin segera menaklukkan gunung setinggi 2368 meter di atas permukaan laut.

Satu jam kami menunggu sampai pintu pendakian dibuka. Lagi-lagi karena kurang persiapan, barang bawaan saya tak bisa dititipkan. Tas berisi laptop dan pakaian selama di Bali terpaksa saya gendong selama pendakian. Tepat pukul 02.00 dini hari pos pendakian Paltuding dibuka. Berisik wisatawan membeli tiket mulai terdengar. Kami memilih untuk menjadi rombongan yang berangkat terakhir saja. Di antara kami, tak ada yang berpengalaman dalam pendakian. Semua adalah pemula yang datang sebagai pengagum keindahan daerah puncak.

Di antara istirahatnya para pendaki, saya menatap ke atas langit. Gugusan Bima Sakti dengan indahnya memajang diri. Di antara banyak keindahan yang dilewati, ternyata tak banyak pendaki yang menaruh perhatian pada Bima Sakti. Mereka dilewatkan begitu saja. Mungkin banyak yang mengira ia adalah gugusan bintang biasa, yang keindahannya dapat dinikmati di sudut-sudut kota, yang bisa muncul kapan saja tanpa harus melakukan pendakian. Sempurnanya Milky Way Ijen. Andai lebih pandai memotret, tentu hasilnya lebih memuaskan.

milky way kawah ijen

milky way kawah ijen

Tak sulit sebenarnya untuk mendaki Gunung Ijen. Tak ada kata tersesat di Gunung Ijen. Jalurnya telah dibuat senyaman mungkin untuk para pendaki. Normalnya, dua jam adalah waktu yang cepat untuk bisa sampai ke bibir kawah. Meskipun di antara rombongan sudah banyak yang menyerah, saya dan Amang tetap melakukan pendakian. Bagi kami, ada saatnya lelah terbayar. Ada saatnya pula keringat dihargai sebuah penghargaan. Tiga kilometer telah kami lewati untuk mencapai titik tertinggi Ijen, ketika semua yang terlihat di sana kelewat indah.

Blue Fire. Adalah sebuah pemandangan amat langka yang pertama kali saya jumpai. Pemandangan ini hanya ada dua di dunia, Islandia dan Ijen tentunya. Si Api Biru mulai menyihir seluruh wisatawan yang baru saja sampai di dinding-dinding kaldera. Untuk kesana, akan banyak melewati jalur berpasir dan berkerikil dengan kawah utama yang masih mengeluarkan asap belerang. Tarian Si Api Biru yang kian membesar justru makin menggoda. Wisatawan mulai merapat, menjadikannya sebagai latar background sebuah foto.

blue fire kawah ijen

blue fire kawah ijen

blue fire kawah ijen

Tak mau tertinggal terlalu jauh, saya dan Amang segera mengikuti mereka yang berburu Blue Fire. Waktu itu belum masuk shubuh dan hari masih cukup gelap untuk melihat tarian Si Api Biru. Di lain kesempatan, saya mencari warga lokal yang menjadi penambang. Masih tersisa hasil pecahan batu-batu belerang yang siap diangkut. Mereka belum terlihat di antara banyaknya kerumunan wisatawan yang menikmati tarian Api Biru. Sampai pada akhirnya, suara keras dari wisatawan mengagetkan saya.

“Naik….!”

Pada jam-jam tertentu, kawah Ijen mengeluarkan cukup banyak gas belerang. Gas beracun ini dengan pekatnya menutupi jalur pendakian, bahkan sampai ke atas. Semua terbatuk dan terlihat ada yang merangkak mencari jalan keluar. Mata saya cukup perih. Lalu membasahinya menggunakan air mineral. Sambil menghela napas, saya mulai melanjutkan perjalanan untuk segera naik. Hari yang sudah semakin terang membuktikan bahwa ada lagi pesona Ijen yang wajib dinikmati, yaitu sunrise Ijen.

belerang kawah ijen

Kawah Ijen

kawah ijen

gunung ijen

gunung ijen

kawah ijen

Fajar yang perlahan naik menghiasi kaldera dinding-dingding Kawah Ijen. Semakin naik, semakin elok pula pantulan cahaya yang langsung menyinari danau yang berisi air biru kehijauan. Di antara ruas-ruas jalan dinding kaldera yang dilalui wisatawan, saya dan Amang sholat subuh terlebih dahulu. Bahkan saya sempat tertidur pulas di atas batu demi menunggu ruas jalur pendakian agak sepi dari wisatawan. Selama menikmati pagi di Kawah Ijen, saya ditunjukkan pada pemandangan yang berbeda dari biasanya. Adalah keperkasaan para penambang belerang yang menarik perhatian saya. Beban seberat 80 hingga 100 kg harus dipikul pundak mereka setiap hari. Melewati kemiringan hingga 30 derajat dengan jauh hampir 3 Km, mereka sanggup menyelesaikan pekerjaan ini selama dua kali perjalanan.

Langkah kaki yang berat terus diusahakan mereka agar tetap bergerak maju. Sejak dini hari mereka sudah siaga dengan pecahan batu belerangnya. Betapa beratnya belerang yang dipikul dibanding laptop yang saya gendong sekarang. Para penambang itu nyatanya telah lama mengabdikan diri pada Gunung Ijen untuk keluarga, agar anaknya tetap sekolah. Di tengah kepulan asap beracun, sudah berapa parah rusak organ tubuhnya. Sementara kami para wisatawan yang baru mengenal Ijen sudah batuk keras saat menghirup asapnya. Terbuat dari apa tubuh mereka ini? Bertahan lama di antara mara bahaya yang nantinya dapat merenggut jiwa.

penambang belerang kawah ijen
Bapak Mulyono, setiap harinya memikul lebih dari 80 Kg batuan belerang. Dalam satu hari, Bapak Mulyono sanggup mengangkut batuan belerang sebanyak dua kali.

penambang belerang kawah ijen

penambang belerang kawah ijen

Saya menghampiri salah satu penambang yang istirahat meletakkan beban belerangnya. Bapak Mulyono namanya. Semangatnya ada karena putrinya yang baru duduk di Sekolah Dasar. Di antara para penambang lainnya, mungkin Bapak Mulyono masih terbilang yang paling muda. Kami berdua bercerita sedikit tentang aktivitas penambangan belerang. Kemudian ia memberikan sedikit buah tangan kepada saya. Hasil cetakan belerang yang dijadikannya sabun berbentuk kura-kura saya beli dengan harga Rp10.000,00. Bukan harga yang mahal untuk sebuah souvenir khas Gunung Ijen yang dibuat langsung dari tangan-tangan penambang belerang.

Souvenir dari Kawah Ijen
Buah tangan pemberian Bapak Mulyono yang saya beli dengan harga Rp10.000,00. Kawah Ijen sebagai destinasi wisata juga memberikan peluang kepada masyarakat lokal khususnya para penambang batu belerang dalam menjual souvenir yang dibuat dari belerang. Souvenir yang dijual berupa sabun dalam bentuk cetakan pohon cemara maupun kura-kura ini memiliki khasiat mengurangi gatal atau penyakit kulit.

Souvenir khas Kawah Ijen

kawah ijen

kawah ijen

Matahari sudah cukup tinggi. Segeralah saya turun kembali menuju Pos Paltuding. Di sela-sela perjalanan, panorama Gunung Raung tersaji dengan cantiknya. Adalagi gunung lainnya yang tak saya hafal namanya. Jelas Gunung Ijen menawarkan pemandangan yang beragam.

pemandangan di gunung ijen

gunung raung

pemandangan di ijen

pemandangan kawah ijen

Amat terkesan saya hari ini. Impian ke Ijen sudah terwujud lewat reuni kecil para sahabat dari Bali. Di balik pesonanya yang indah, Ijen memberikan ruang bagi saya untuk banyak belajar tentang kerja keras dan semangat. Pula, lewat para penambang super yang masih setia memperjuangkan hidup keluarganya. Malu rasanya jika kita masih mengaduh pada kekurangan hari ini.

Harga Tiket Pendakian Gunung Ijen (Juli 2016)

  • Retribusi pos pendakian Paltuding: Rp5.000,00 (wisatawan lokal), Rp100.000,00(wisatawan asing)
  • Tiket masuk kendaraan roda dua Rp2.000,00

Tips Mendaki Gunung Ijen

  • Untuk dapat melihat Blue Fire, pastikan sudah berada di Pos Pendakian Paltuding sejak 01.00 dini hari. Pendakian akan dibuka pada 02.00 WIB dengan memakan waktu 2 – 3 jam pendakian.
  • Walaupun jalur pendakian tidak ekstrim, gunakan perlengkapan dan pakaian gunung yang nyaman. Tak perlu membawa barang-barang yang berat selama pendakian seperti saya yang saat itu membawa laptop.
  • Gunakan masker selama pendakian. Sangat direkomendasikan untuk menggunakan masker jenis respirator. Jenis masker ini bisa disewa di dekat bibir kawah dengan harga Rp25.000,00.
  • Gunakan juga kacamata untuk mencegah iritasi dan rasa pedih di mata akibat terkena asap sulfur dari Kawah Ijen.
  • Perhatikan pemandangan sekitar selama pendakian. Ada gugusan Bima Sakti, Blue Fire, sunrise, dan beberapa gunung yang bisa memperkaya hasil foto.
  • Belanjakan uang kita sebagai kontribusi kita terhadap ekonomi masyarakat sekitar. Baik itu membeli masker, sewa masker, membeli souvenir belerang, dan sebagainya.
  • Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki kita, jangan mengambil apapun selain gambar, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu.
  • Saya selalu sedia air mineral, cokelat, dan permen karet selama pendakian.

 

Lokasi Gunung Ijen

Comments

comments

26 thoughts on “Si Api Biru, Bima Sakti, dan Penambang Super di Gunung Ijen

  1. Harga souvenirnya nggak naik banyak ya hehehe. Langkah awal membantu perekonomian mereka tapi di sisi lain cemas kelak mereka akan beralih profesi jadi pengrajin kerajinan belerang dan guide turis yang ingin lihat blue flire, tidak lagi jadi penambang. Eh ini kabar gembira atau buruk ya? 😀

    1. mungkin belum beralih profesi karena sbagian dari penambang menganggap mereka juga sebagai daya tarik. Bahkan kalau ada turis yg pengen foto mengangkat keranjang belerang dipersilahkan *tapi bayar. hehe. Mungkin bukan beralih profesi kali ya, tapi merambah ke bisnis souvenir dan jasa pemandu.

  2. Tulisannya keren nih, ngalir banget serasa ikut naik ke ijen… potonya kece semuaa…
    Tapi,
    Ada tapinya… kenapa souvenir kura-kuranya dipamerin seperti itu tanpa membawakanku 1?

  3. tulisan yang selalu ciamik dari Insan Wisata.

    penambang ijen sakti-sakti ya, berat belerangnya bisa -80-90 kg bisa diangkat jalan kaki 3 km. Jadi kangen Ijen,kangen ngopi bareng sama penambang belerang waktu rehat dulu.

  4. Ini salah satu tempat impian dan berharap suatu hari nanti bisa kesana. Untuk teman-teman yang senang berbagi cerita ringan untuk sekedar self healing, silakan mampir ke blog sederhana saya di: mantramantan.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.