No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Masjid Cheng Ho: Masjid Bernuansa Muslim Tionghoa di Palembang

by Hannif Andy Al - Anshori
Januari 25, 2016
4 min read
16

Bukan melulu tentang penganan khas yang terkenal seantero Nusantara. Bukan melulu tentang jembatan bersejarah era kemerdekaan yang ikonik. Pula bukan melulu tentang sungai terpanjang di pulaunya. Tetapi di salah satu sudutnya tersimpan keindahan arsitektur yang terbilang langka.

Masuknya Islam ke Indonesia ternyata bukan hanya dibawa oleh orang Arab. Turut andil orang Tiongha yang berperan menyebarkan Islam sampai pesisir. Sebutlah Cheng Ho dengan perjalanannya yang meninggalkan banyak pengaruh di Nusantara. Tak hanya di Semarang, jejak peradaban Laksamana Cheng Ho dapat pula dijumpai di Palembang.

DSC03300-01

DSC03299-01

 

Kedatangannya ke Indonesia bukan tanpa sebab. Ia bersama armadanya sedang melakukan ekspedisi perdagangan. Namun secara tidak langsung, ia memperkenalkan agama Islam di setiap tempat yang disinggahinya. Termasuk pula di Palembang yang sempat tiga kali dilaluinya. Untuk mengenang sosoknya, masyarakat lokal kemudian membangun sebuah masjid yang mereprentasikan dirinya. Masjid itu dinamakan Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya.

DSC03296-01

Tepat sebelum waktu dzuhur saya sempatkan berkeliling kawasan Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho yang berada di antara perumahan yang berlokasi di Jakabaring, Palembang. Seumur-umur, ini kali pertama bagi saya melihat bangunan masjid berwarna merah. Berbeda dengan peninggalan Cheng Ho di Semarang yang fisiknya tak menyerupai masjid karena memang fungsi utamanya ialah Klenteng.

Jika ditengok dari bentuk arsitekturnya, banyak kerumitan untuk mendesainnya. Meskipun secara fisik bangunan utamanya mirip masjid kebanyakan, namun corak Tiongkok tetap ditonjolkan. Sementara di sisi utara dan selatannya berdiri megah menara yang menyerupai pagoda yang masing-masing diberi nama Habluminallah dan Habluminannas.

DSC03254-01

DSC03251-01

DSC03241-01

Banyak filosofi di antara kedua menara tersebut. Terdapat lima tingkat yang menggambarkan jumlah sholat yang lima waktu. Tinggi menara masing-masing 17 meter, menggambarkan jumlah setiap rakaat yang dikerjakan seorang muslim dalam satu hari. Sementara itu, daun pintu dan jendelanya juga mencirikan arsitektur Tiongkok.

Ketika bertemu masjid yang memiliki riwayat sejarah, saya selalu ingin merasakan sujud di lantainya. Begitu pula saat datang ke Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya. Kaligrafi surah At Taubah ayat 26 terlukis di antara dindingnya. Berjejer pula beberapa mushaf di antara tempat imam berdiri. Lantas, terketuk hati ini untuk melantunkannya.

DSC03271-01

DSC03262-01

Pengaruh Cheng Ho nampaknya menjadi teladan daripada masyakarat yang berada di sekitarnya. Tak hanya sebagai rumah ibadah umat muslim, masjid ini juga menjadi pusat pendidikan santri dan kegiatan kemasyarakatan. Saya pun kagum pada salah satu bangunan yang masih sepi aktivitas penghafal cilik. Di sanalah setiap sorenya akan ramai kegiatan menghafal dan mempelajari al-Qur’an.

DSC03290-01

Kumandang dzuhur terdengar. Pikir saya, ini adalah hari Jumat karena sudah banyak shaf yang terisi. Teman saya juga beranggapan demikian. Ternyata bukan. Syukurlah masyarakat di sini terbiasa ikut memakmurkan masjid. Saya pun mengekor, merasakan kekhusukan di antara arsitektur yang membuat nyaman jiwa para musafir yang datang ke Palembang.

Memang. Banyak musafir yang datang ke masjid ini. Selain memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim, ketertarikan akan arsitekturnya memikat hati. Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya, di sanalah hati saya tertambat untuk melabuhkan dzikir dan doa. Melepas segala unsur keduniawian untuk menghadap Sang Pencipta.

Lokasi Masjid Cheng Ho

Tags: pesona indonesiawisata palembang
Previous Post

Tari Caci, Perang Antara Kesatria Manggarai

Next Post

Mengunjungi Candi Barong pada Waktu Terbaik

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Mengunjungi Candi Barong pada Waktu Terbaik

Mengunjungi Candi Barong pada Waktu Terbaik

Comments 16

  1. Nasirullah Sitam says:
    10 tahun ago

    Kok nggak ke Pulau Kemaro sekalian? Wehhh besok ke sana ya hehhehheh

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Waktu dari kementerian terbatas mas. wkwkwk.

      Balas
  2. Salman Faris says:
    9 tahun ago

    Ternyata bukan hanya di Jawa saja ya Ceng Ho mendarat, sumatera terutama Palembang pun disinggahi oleh Ceng Ho.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya mas. jalur cheng ho lumayan panjang

      Balas
  3. tutyqueen says:
    9 tahun ago

    mesjidnya oriental banget ya, next time wajib kesini nih 🙂

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya. sujud syukur jangan lupa yaa.

      Balas
  4. nengnunuz_ says:
    9 tahun ago

    Ah, kemaren ga sempet ke tempat ini..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      wah. besok harus ke sini mba. trus sujud sukur

      Balas
  5. Turis cantik says:
    9 tahun ago

    Bagus banget masjidnya ya, perpaduan dua budaya yg apik

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya mba. indah warnanya jg

      Balas
  6. Akarui Cha says:
    9 tahun ago

    Arsitektur masjidnya menggoda banget untuk dikunjungi. 🙂

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya Mba .mari kemari Mba.

      Balas
  7. M. Moko - garisbatas.com says:
    9 tahun ago

    Masjid Cheng Ho yang pernah saya kunjungi yaitu yang ada di Purbalingga, Purwokerto – Jawa Tengah. Nuansanya mirip seperti gambaran di atas. Kalau ke Palembang pasti akan saya kunjungi juga.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      wah. menarik y jejak Chengho di Nusantara. saya malah belum ke sana mas

      Balas
  8. Gallant Tsany Abdillah says:
    8 tahun ago

    Tulisan e dipublish ulang, Nif?
    Seneng kalo ngeliat masjid rame dan nggak hanya magrib aja, tapi hampir semua waktu salat.

    Balas
    • insanwisata says:
      8 tahun ago

      Bukan dipublish ulang mas. Ini test publish setelah maintenance web karena ada plugin yang error. hehe

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2023 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2023 a storyteller