No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Berpadunya Gunung Batur dan Pantai Watu Lumbung

by Hannif Andy Al - Anshori
Oktober 12, 2015
4 min read
2

Jangan bosan berwisata ke Gunungkidul. Sejauh yang saya tahu, Gunungkidul memiliki banyak pantai yang sangat alami. Keberagaman pemandangan, keindahan, bahkan keunikan pantai-pantai Gunungkidul pula yang membuat saya kerap menjadwalkan dan menyempatkan liburan ke salah satu pantainya. Sebut saja Pantai Watu Lumbung. Satu lagi pantai unik yang masih “perawan”.

Bukan sebuah kebetulan saya berwisata ke Pantai Watu Lumbung. Lagi-lagi, media sosial yang mengajak saya ke sini. Pantai Watu Lumbung terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Jepitu yang mana? Ambil saja jalur menuju Pantai Wediombo, setelah TPR-nya, tanyalah petugas. Berhati-hatilah saat menuju pantai ini karena jalan penghubung masih belum beraspal, terlebih lagi saat musim hujan, banyak parit di sini, jalanan akan becek dan licin.

DSC01152

Melewati jalan sepi yang penuh lubang dan minim hilir mudik kendaraan adalah petualangan yang menantang. Sampailah saya di salah satu kantong parkir yang tak dijaga. Pemandangan rumput tinggi menguning bagi saya lebih pas dibanding ketika musim hujan. Nampak di bawah sana ombak pantai masih bersantai menunggu terik matahari.

DSC00916

DSC00950

Saya turun menapaki jalan kering yang jarang dilalui. Kemudian berfoto sebentar mumpung sepoi belum menjadi angin laut. Di bawah sana, bebatuan besar yang tertanam di air laut telah menanti. Batu besar itulah yang disebut Watu Lumbung (Batu Lumbung). Dinamakan demikian karena bentuk batunya mirip lumbung padi. Seluruh indera saya dimanjakan oleh pemandangan di sekitar. Bagian baratnya, adalah gugusan Gunung Batur. Bagian selatannya, adalah hamparan pantai yang sedang surut. Nampak seorang nelayan telah siap dengan jaring ikannya.

DSC00958

DSC00970

Setidaknya, saat itu saya wisatawan pertama yang ada di Pantai Watu Lumbung. Adalah kesempatan langka bisa berfoto tanpa pemandangan yang “bocor”. Namun, pantai yang harusnya sedang surut itu tiba-tiba mendatangkan ombak yang besar dan mulai masuk ke area Watu Lumbung. Melihat bapak nelayan tadi menyudahi acara menjala ikannya, saya pun ikut bergegas naik menuju daratan. Gagal sudah kesempatan wawancara saya dengan masyarakat lokal. Perginya menghilang begitu saja tanpa salam ataupun sapaan. Jangan dikira pasir adalah daratannya. Di Watu Lumbung, daratannya lebih banyak bebatuan dibanding pasir putihnya. Jadi, berhati-hatilah karena batu yang berlumut sangat licin untuk jadi pijakan.

Pemandangan lain yang sangat unik adalah Watu Bolong (Batu Bolong) yang ada di sebelah barat. Nampak sekilas seperti plengkung, gapura, ataukah sebuah jendela? Tetaplah itu dinamakan batu. Dari sana, pemandangan Semenanjung Manukan (bagian dari Gunung Batur) terlihat. Saya pun menunggu momen dimana ombak datang dan deburannya melewati Watu Bolong. Berkali-kali memotret, namun ombak lebih cepat dibanding konsentrasi saya. Akhirnya, malah sebuah video pendek yang saya hasilkan.

DSC01066

DSC01093

Terlalu banyak waktu dan spot untuk berfoto di kawasan Pantai Watu Lumbung ini. Belum lagi gugusan Gunung Batur yang masuk dalam kategori Gunung Api Purba yang kehadirannya menggambarkan kegagahan alam yang membuat orang takjub terpana.

DSC00993

DSC01020

DSC00931

Pantai yang masih “perawan”, di sana pula peluang ekonomi diciptakan. Beberapa masyarakat lokal siap dengan warung-warung barunya yang masih tampak sepi dari belanja wisatawan. Tak pernah puas memang saya ketika berwisata ke tempat baru. Saya pun orang yang rela menghabiskan waktu hanya untuk menikmati suasana pagi hingga berpindah malam di satu tempat saja. Adalah sebuah kesempatan langka bisa berwisata ke sini. Sangat tak biasa pantai ini.

Siang mulai menantang, datanglah beberapa rombongan wisatawan, dan saya pun berpindah ke pantai lain. Roda motor kembali berputar melaju berat menanjaki jalan tanah, berpindah ke Pantai Timang.

Previous Post

Pantai Timang, Mempesona Karena Gondola

Next Post

Pemenang Lomba Film Pendek 'Pesona Wisata Java Promo'

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Lomba Film Pendek “Pesona Java Promo” 2015

Pemenang Lomba Film Pendek 'Pesona Wisata Java Promo'

Comments 2

  1. Nasirullah Sitam says:
    10 tahun ago

    Teman-teman sepeda minggu lalu ada yang ke sini. Semoga ajku juga bisa nyusul ke sini naik sepeda 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Ngeri. Nyepeda ke sini mas?

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller