Belang, Tarian Selamat Datang di Fafanlap

Jika dilihat dari sejarahnya, kebanyakan masyarakat yang menempati Kabupaten Raja Ampat merupakan keturunan dari Kesultanan Tidore. Catatan sejarah membawa kita kembali mempelajarinya dimana pada tahun 1453 Sultan Tidore yang ke-10, Ibnu Mansur bersama Sangaji Patani Sahmardan dan Kapitan Gurabesi (Kapitan Waigeo) memimpin sebuah ekspedisi besar yang berhasil menaklukkan tiga wilayah besar meliputi wilayah Raja Ampat atau Korano Ngaruha, Papua Gamsio, dan Mafor Soa Raha.

Sedangkan dalam ekspedisinya di Raja Ampat, Sultan Tidore berhasil pula menaklukkan wilayah Kolano Waigeo, Kolano Umwasol (sekarang disebut Misool), dan Kolano Waigama. Sebelum Malaka  jatuh ke  tangan Portugis, kesultanan-kesultanan di kawasan Maluku sedang dalam puncak kejayaannya. Di antara kesultanan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Tidore adalah yang paling menonjol.  Tak  hanya soal faktor geografisnya saja, Tidore di bawah kepemimpinan Sultan Khairun dan Sultan Baabullah menjalin kerjasama perdagangan dengan kawasan Raja Ampat, sehingga menjadikan kedua lokasi ini memiliki kekerabatan yang kuat.

Awalnya, Misool merupakan bagian dari Kesultanan Bacan, akan tetapi pada abad ke XVII Tidore berhasil mengalahkan Bacan dan memegang peranan yang cukup kuat di kawasan bagian barat Papua ini. Begitu pula dengan cerita rakyat yang berkembang,  dimana diceritakan  bahwa pada abad XV, Biak telah menjadi wilayah Kesultanan Tidore, dengan mengangkat  pejabat daerah yang bersangkutan dengan sebutan gelar seperti Kapitan, Sangaji, Korano, Dimara, Mayor dan sebagainya. Gelar yang hingga kini masih bisa ditemui  sebagai nama marga  keluarga-keluarga di Kepulauan Raja Ampat.

Kini Raja Ampat tak hanya saja ditempati masyarakat keturunan Kesultanan Tidore. Suku Jawa pun mendapatkan tempat layaknya masyarakat Papua asli. Begitu pula saat tiba di sebuah kampung tua di Misool Selatan, Kampung Fafanlap. Kampung yang dipadati lebih dari 200 Kepala Keluarga ini dibaiat menjadi kampung tertua di Misool Selatan.

Misool bukan saja sekadar wisata alam dengan panorama alam bawah lautnya, melainkan juga tentang tradisi masyarakat lokal yang terbilang unik. Sebuah keberuntungan yang tak terduga jika memiliki kesempatan untuk mengenal budaya dan tradisi masyarakat Fafanlap. Datanglah di tahun 2014 seorang wakil rakyat yang juga putra daerah Raja Ampat, Ferdinan Dimara yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Raja Ampat. Riuh masyarakat pun sibuk mempersiapkan tarian penyambutan. Ada semangat yang lama tertanam untuk berjumpa dengan salah satu wakil rakyat di Raja Ampat. Mungkin ada juga takut dan harap yang dirasakan karena cuaca dan kabar burung yang datang tak bersahabat. Jangan sampai tertunda suara ini tersampaikan, pikir masyarakat dalam hati. Semua menunggu di lapangan hingga pakaian kusam terlihat karena tetesan keringat. Sampai terdengarlah bunyi speedboad bermesin dua memecah ombak dengan sirine pertanda pejabat telah tiba.

DSC01214

Tarian selamat datang Belang merupakan tarian kehormatan yang berkembang dan dipertunjukkan bagi siapa saja tamu besar yang datang ke Misool Selatan, khususnya Kampung Fafanlap. Selain itu, tarian ini dipertunjukan atas kegembiraan hati dan sikap yang ramah bagi siapa saja tamu yang datang. Tarian Belang memang terdengar tak sepopuler Tari Yospan maupun Tari Perang yang biasa dipertontonkan maupun diulas banyak media.

Pada pelaksanaannya, Tari Belang biasa dimainkan menggunakan daun tikar sebagai perahunya. Masyarakat menyebutnya dengan nama wag (perahu). Dengan diiringi alunan musik tifa dan dendang lagu berbahasa Misool, Pak Sekda beserta asistennya diarak menggunakan perahu daun tikar. Tak hanya Pak Sekda, ikut juga perangkat kampung yang masuk dalam perahu daun tikar ini. Gerakannya yang energik dan terhitung sangat cepat ini terasa sangat menguras tenaga.

“Lomsi barasi amne lomsi barasi. Amne rayat Fafanlap amne barasi. Baba mjot be makanim amne. Baba mjot be makanim amne. Amne rayat Fafanlap baba mjot be makanim amne. Amne rayat Fafanlap baba mjot be makanim amne”. Begitu kiranya lagu yang didendangkan. Pada intinya, jika diterjemahkan lagu ini menceritakan tentang sambutan masyarakat Fafanlap dengan hati yang bersih.

DSC01223

DSC01224

Umumnya, perahu daun tikar ini diarak oleh sebanyak enam orang pria. Kostumnya pun tidak ditentukan. Bahkan saat itu terlihat mereka lebih mengutamakan anak-anak kampung yang lengkap dengan seragam sekolah untuk ikut menyambut tamu. Perahu ini dapat diisi oleh lebih dari sepuluh orang. Dalam rentang perjalanan arakan, ratusan anak-anak mengajak berjabat tangan. Ruas jalan semakin lengang dengan barisan yang menyerupai pagar. Di belakangnya berjejer barisan rombongan yang ikut mengarak sampai ke ruangan penyambutan. Setelahnya, akan ada rangkaian bunga yang dikalungkan langsung oleh gadis-gadis desa untuk tamu besar.

Tawa dan tepuk tangan mereka pecah, aku pun ikut tersenyum merekah. Kebahagiaan ternyata bermodal sangatlah sederhana. Lewat upaya menyambut datangnya seseorang dengan penuh jamuan dan hati yang bersih. Dengan ekspresi raut muka yang tak lagi diselimuti peluh dari segala aktivitas sehari tadi. Dan oleh sebab itu, masyarakat Fafanlap adalah masyarakat yang penuh rasa ramah. Mereka mengajarkanku tentang arif dan sikap hormat, teruntuk siapapun.

Referensi Sejarah Raja Ampat: 

Beautiful Raja Ampat (Suraji, Riyanni Djangkaru, Pinneng, Awwal, dan Dimas)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.