No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Pasar Tenun Rakyat: Bercengkerama ke Dusun Sejatidesa

by Reza Nurdiana
Mei 13, 2016
6 min read
6

Seorang anak perempuan berlari-lari kecil menuju halaman rumahnya. Satu set lengkap peralatan tenun ditaruh di sana. Benang warna-warni tersusun rapi pada kotak-kotak bambu, membentuk pola kain yang belum selesai digarap. Anak perempuan itu duduk di kursi menghadap alat tenun. Sebelumnya ia utarakan keinginan untuk menenun pada ibunya yang mengiyakan. Aku yang kebetulan sedang berada di sana untuk mengabadikan gambar lantas serius mengamati. Tangan dan kaki gadis kecil—yang tak sempat kutanya namanya, namun kutaksir umurnya sepuluh tahunan—nampak cukup mahir mengoperasikan alat tenun. Tak heran, desa ini memang punya potensi pengrajin tenun yang masih mengeksiskan diri hingga kini.

SONY DSC

Dusun Sejatidesa terletak di Desa Sumberarum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun yang berada cukup jauh dari pusat kota ini menjadi tempat bernaung para pengrajin tenun lurik. Lurik ialah kain bermotif garis-garis kecil yang kerap dijadikan pakaian tradisional bagi orang Jawa. Lurik yang diproduksi di Sejatidesa ialah jenis stagen, kain kecil dan panjang yang dikenakan wanita untuk mengencangkan perut serta membentuk postur badan. Uniknya, kain stagen lurik produksi Sejatidesa ditenun dari benang warna-warni bak pelangi. Lewat acara Pasar Tenun Rakyat yang bertajuk “Weaving for Life”, Yayasan Dreamdelion Indonesia bersama mitra (Global Environmental Facility-Small Grants Programme, Jelajah Indi Komunikasi, House of Lawe, dan Teras Mitra) memperkenalkan potensi lokal desa binaannya kepada khalayak luas. Kegiatan live in di desa penenun ini mengangkat tema “Finding Truly Happiness in Rainbow Village: Learn to Live in Simplicity”.

Selama dua hari dua malam, aku tinggal bersama warga Sejatidesa. Kedatanganku dan peserta lainnya disambut dengan amat hangat. Penganan khas desa tersaji di meja. Ada pisang rebus, singkong, serabi, gorengan, hingga es dawet. Kegiatan di hari pertama diawali dengan tamasya keliling desa. Dari sana aku tahu bahwa Sejatidesa dikelilingi oleh sawah, kebun tebu, juga hutan bambu. Selain menenun, penghasilan masyarakat juga didapat dari kegiatan bertani dan berternak. Sejatidesa juga memiliki rumah semai yang menyediakan bibit tanaman pencegah erosi, seperti bambu dan jati. Ada pula bibit tanaman mahoni yang kulitnya bisa dijadikan pewarna alami kain.

Sorenya, wanita-wanita penenun Sejatidesa menghadiahkan pengalaman belajar menenun melalui Workshop Tenun. Mereka mengenalkan satu per satu alat tenun yang digunakan. Pertama, benang warna-warni yang masih dalam bentuk gulungan ditata pada alat bernama Sekiran. Menyekir ialah proses menata benang membentuk pola warna kain tenun. Proses awal ini bisa dibilang yang tersulit, butuh ketelitian menghitung benang yang mencapai ratusan, serta menyetarakan warna agar membentuk motif yang selaras. Menenun kain stagen sendiri membutuhkan 50 pintal benang warna-warni yang disekir, kemudian diulang sebanyak  7 kali untuk mendapatkan 350 susun benang yang akan ditenun. Benang-benang yang disekir itu ditata pada alat bernama Bum, bentuknya seperti roda dengan permukaan lebar. Kemudian Bum dipasang pada ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan mulai ditenun. Dalam sehari, penenun di Sejatidesa bisa menghasilkan kain stagen sepanjang 20 meter. Tak mau ketinggalan, aku pun mencoba menenun. Ada tiga gerakan utama dalam menenun, yaitu tarik, injak, dan dorong. Ternyata sulit jika belum terbiasa. Alhasil, setelah beberapa menit bergulat dengan alat tenun, aku menyudahi praktik menenun yang tak kunjung kukuasai.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

IMG-20160425-WA0047

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Malamnya, di Joglo Pelangi milik Sejatidesa, peserta Pasar Tenun Rakyat diajak bermain gamelan, alat musik tradisional Jawa. Sedari kecil, anak-anak Sejatidesa belajar musik dan tarian tradisional. Para peserta yang berasal dari kota tentu saja kalah oleh kemahiran anak-anak kecil di sana. Meskipun begitu, para peserta tak malu belajar untuk membuat alunan gamelan jadi merdu. Lepas belajar gamelan, ternyata masih ada satu agenda lagi, belajar menari tradisional. Peserta berkumpul di halaman rumah warga yang cukup luas dan mengikuti instruksi pelatih yang juga warga Sejatidesa. Malam yang makin larut malah makin ramai dengan gelak tawa dan teriakan semangat para peserta yang belajar menari.

Esoknya, aku bangun pagi-pagi sekali. Pada hari kedua, agenda dimulai dengan senam pagi bersama warga Sejatidesa. Udara pagi di sana segar sekali, jauh dari polusi. Senam bersama warga pun menyenangkan, meskipun badan masih pegal karena belajar menari semalam. Usai senam, peserta mengekor arak-arakan warga dan sapi menuju Kali Progo. Di bantaran sungai, diselenggarakan upacara tradisi Baritan. Baritan berasal dari Bahasa Jawa, “bar wiwit pari, syukuran”, berarti setelah panen padi menyelenggarakan syukuran. Acara baritan tersusun dari kegiatan memandikan hewan ternak, melarung sesajen ke sungai, serta makan bersama. Sapi yang tadi diarak dimandikan, lalu warga berkumpul untuk memanjatkan doa sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas panen yang dilimpahkan. Pagi itu, sarapan disuguhkan di tepi sungai dengan menu sederhana khas pedesaan di atas pincuk (piring dari daun pisang). Nikmat. Setelah Baritan dilaksanakan, peserta melakukan gerakan tanam pohon di bantaran sungai. Puluhan bibit tanaman yang dibawa dari rumah semai disebar sebagai upaya konservasi lahan dan pencegahan erosi. Gerakan ini diberi nama “Benih Untuk Masa Depan”. Nama itu tentulah menyematkan harapan akan keberlangsungan hidup dengan lingkungan yang masih terjaga hingga masa mendatang.

SAMSUNG CSC

Istirahat sejenak selepas Baritan dan menanam pohon, agenda Pasar Tenun Rakyat dilanjutkan dengan Workshop Tie Dye. Tie dye atau ikat celup merupakan teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan pola tertentu. Di daerah Jawa, tie dye lebih dikenal dengan nama tritik atau jumputan. Di Sejatidesa, bahan pewarna yang digunakan ialah yang alami. Mulanya, kain dilipat sesuai dengan pola yang akan dibuat. Waktu itu aku memilih melipat kain membentuk tumpukan segi tiga, dijepit dengan stik es krim, lalu diikat karet gelang. Kain kemudian dibasahi dengan air detergen dan dibilas dengan air bersih, lalu dicelupkan ke bahan pewarna. Ada daun Indigofera tinctoria yang menghasilkan warna biru dan kulit kayu mahoni yang menghasilkan warna merah muda. Kain dijemur dan difiksasi dengan berbagai pilihan bahan, yaitu tawas, tunjung, kapur/gamping, serta asam cuka. Fiksasi berfungsi untuk mengunci warna agar tak luntur. Terakhir, kain dijemur kembali hingga kering dan bisa dilihat hasilnya.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

IMG-20160425-WA0049

Selesai belajar mewarnai kain dengan teknik ikat celup, peserta belajar membuat kerajinan. Di Joglo Pelangi, peserta diajari cara membuat dompet serba guna berhiaskan kain tenun lurik. Dibutuhkan keterampilan menjahit serta kesabaran untuk menghasilkan dompet yang rapi dan cantik. Namun karena waktu yang terbatas, banyak peserta yang tak berhasil menyelesaikan karyanya, termasuk aku yang harus melanjutkan di rumah. Tetapi membuat kerajinan ini begitu menyenangkan dan mengasah keterampilan.

Malamnya, Joglo Pelangi disemarakkan oleh berbagai pertunjukan di atas panggung. Seluruh warga Sejatidesa pun berkumpul untuk menonton. Anak-anak Sejatidesa menampilkan kebolehan mereka menarikan tarian tradisional. Bahkan para orang tua juga turut unjuk gigi melalui penampilan gamelan dan musik tek-tek khas lokal. Tak hanya itu, peserta Pasar Tenun Rakyat yang telah dipisah dalam beberapa kelompok ikut menampilkan pentas yang ditujukan kepada warga Sejatidesa. Pentas seni di malam terakhir kegiatan live in di Sejatidesa semakin mendekatkan para peserta dengan warga desa. Esoknya, peserta harus kembali pulang ke kota dengan membawa pengalaman berharga yang tak ternilai harganya.

SONY DSC
Acara ini diselenggarakan oleh Dreamdelion, GEF-SGP, Jikom ID, dan House of Lawe. Foto tanpa watermark insanwisata adalah hasil dokumentasi dari Aqid.

 

Lokasi acara

Previous Post

Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari: Selamat Datang di Aru

Next Post

Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post

Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir

Comments 6

  1. Nasirullah Sitam says:
    10 tahun ago

    Sepertinya Reza cuma akting ini hahahhahahhaha, Ups salam buat mbak Girra hahahhahahahah

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Reza emang pandai akting. Dimanapun. Selama ini ketemu om Sitam juga bagian dari akting. Bye!

      Balas
  2. Aristya says:
    10 tahun ago

    Tuh kan pendeksripsian mbak Reza selalu juaraa 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Makasih Tya.. lain kali undang lagi yakk 🙂

      Balas
  3. Aqied says:
    10 tahun ago

    Aku kangen masakan ibu homestay ku

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Aku kangen oleh2 mba aqid.. kalau ga bawain. Byee!

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2023 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2023 a storyteller