Merekam Warna Senja Langit Yogyakarta

Bagi kami, roman alam antara senja dan Yogyakarta itu tiada habis keindahannya. Kombinasi warna senja yang jingga dan merah keunguanโ€”yang lebih romantis disebut lembayungโ€”selalu membuat kami tersihir untuk sejenak berhenti dari pengembaraan. Menikmati atmosfernya yang begitu menyejukkan. Merekam momen itu lewat mata tustel, agar manisnya sewaktu-waktu dapat terngiang kembali. Dan terbuai dalam lamunan yang bertumpu pada satu titik oranye di ambang cakrawala.

Lewat tulisan dan gambar-gambar ini, kami bagikan warna senja langit Yogyakarta yang telah direkam dalam memori. Masih belum tuntas memang, namun bolehlah dibagi-bagi ketimbang harus menunggu lebih lama lagi.

Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta

Bisa dibilang, Parangtritis kala matahari masih di atas ubun-ubun memang hanya dibuat gerah oleh wisata massal. Tetapi tak selamanya ramai itu mengusik Parangtritis, ada masa untuk ia rehat sejenak. Maka biarkan ombak berpasir hitam ini mendapatkan ketenangannya, sebagai penghormatan pada matahari yang telah bekerja seharian. Sembari diiringi suara andong yang masih hilir mudik, langit bersolek dengan kuas jingga raksasa. Bola emas, yang lebih akrab disapa โ€œsunsetโ€ oleh kawula muda, perlahan mendekati horizon yang siap memeluknya hingga esok pagi tiba. Para peselancar yang telah puas menari dengan ombak pun turut menyudahi pertunjukannya, lalu berjalan pulang diantar senja. Parangtritis tatkala senja memang memesona, berpadu dengan lembayung yang mengguna-guna semua mata.

DSC02699

DSC02715-01

Gumuk Pasir Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta

Meski terletak di kawasan pesisir, pasir yang kami injak bukan berasal dari pantai, melainkan gunung! Fenomena alam ini merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Arus Kali Opak dan Kali Progo yang bermuara di pantai selatan membawa material aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan Merbabu. Material yang akhirnya terkikis menjadi debu kemudian terbawa angin hingga membentuk gundukan pasir. Pasir yang begitu lembut, sama lembutnya dengan warna senja kami di hari itu. Dari atas gundukan pasir, momen senja dengan matahari terbenamnya terlihat elok sekali. Sembari menghirup udara pesisir, dengan baju yang tertiup angin, beratnya berjalan di atas pasir ini tak terasa lagi. Pula, kami bisa menatap langit luas mulai dihiasi bulan dan bintang memayungi gumuk pasir.

DSC02676-01

DSC02634-02

Kedai Wedangan Watulumbung, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta

Kedai unik ini desainnya didominasi kayu dan bambu. Meja kursinya lucu, juga ada perpustakaan mungil di salah satu sudutnya. Menikmati senja dari kedai di atas bukit ini memang bukan pilihan yang salah. Langsung beratapkan langit membuat semua orang di sana kebagian pemandangan senja dari kursi masing-masing. Begitu pula dengan kami yang tak ketinggalan momen senja yang pada hari itu warnanya merah muda keunguan. Sembari ditemani susu coklat hangat, es teh lemon, pisang bakar, dan mie rebus pedas, nikmatnya jadi berlipat ganda.

DSC06321-01

DSC06239

Pantai Baros, Bantul, Yogyakarta

Sebelum sampai di pantainya yang sepi, kami harus melewati hutan mangrove yang dijadikan kawasan konservasi. Area hutan yang tanpa penerangan memang terkesan seram, tapi menikmati senja yang cerah di sini tak boleh dilewatkan. Angin pantai yang bertiup kencang membuat kami bahkan sulit membuka mata lebar-lebar saat melihat matahari terbenam. Kadang kami terkikik geli jika mengingat saat itu memeragakan berbagai pose aneh di depan tustel. Suasana ngeri pantai yang sepi pun terusir dengan ramah-tamah para nelayan yang pulang melaut. Hingga senja habis dan matahari pulang ke peraduan, kami bergegas kembali, lalu ngeri lagi saat melewati hutan mangrove yang makin ditelan gelap.

IMG_4681-01

IMG_4724-01

Keraton Ratu Boko, Sleman, Yogyakarta

Tak seperti candi lain yang dibangun sebagai tempat pemujaan, Ratu Boko memang dulunya sebuah kerajaan. Memiliki komplek yang luas, situs arkeologi ini terdiri dari gerbang, pendopo, hingga kolam pemandian. Di antara banyak area yang dimiliki, gerbang utama yang jadi favorit pemburu senja. Kerajaan yang terletak di atas bukit ini memang amat strategis untuk menyaksikan momen matahari terbenam. Kami sengaja datang saat hari masih terang agar bisa berkeliling seluruh kompleknya sebelum senja datang. Bagi kami, senja adalah bonus dari perjalanan menguak sejarah lampau yang ceritanya abadi hingga kini.

DSC05642-01

DSC05835-01

Candi Abang, Sleman, Yogyakarta

Abang dalam Bahasa Jawa berarti warna merah. Dinamakan demikian karena candi ini dibuat dari tumpukan batu bata merah. Tentu saja ia menjadi yang paling beda di antara semua candi di Yogyakarta yang tersusun dari batu andesit. Karena bata merah tak sekuat andesit, candi ini kemudian dikubur dan kini terlihat seperti bukit yang ditumbuhi rerumputan hijau dan kembang liar. Untuk menikmati senja yang menawan, kami harus naik sampai puncak bukit. Beruntung, kami yang datang di tengah musim penghujan disuguhi pemandangan senja yang cerah. Lembayungnya pun mampu mengalahkan mendung yang merundung seharian. Menikmati senja dari atas bukit Candi Abang memang menyenangkan! Ah, bukankah senja memang selalu indah dipandang dari ketinggian?

DSC01389

DSC01437-01

Senja dan Yogyakarta. Keduanya memang begitu menawan saat dipertemukan, membuat kami tak bosan-bosan. Namun sekadar menikmati senja romantis bukan yang kami inginkan. Karena Yogyakarta juga punya sejuta cerita turun-temurun yang dengan memahaminya, kami bisa menghargainya dengan takut membuat onar yang merugikan.

Comments

comments

29 thoughts on “Merekam Warna Senja Langit Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *