Telusur Keragaman Geologi Geopark Ciletuh

Taman bumi itu kini lebih akrab dikenal dengan istilah geopark. Ia adalah sebuah kawasan yang memiliki banyak unsur geologi, tempat masyarakat lokal berperan menjaga dan merawat warisan alam di dalamnya. Sampai saat ini, baru ada 35 negara yang telah tergabung dalam jaringan Global Geopark Network. Tiongkok masih menduduki negara dengan jumlah geopark terbanyak. Sementara Indonesia, baru ada dua, Batur Global Geopark dan Gunung Sewu Geopark.

Beruntunglah Sukabumi dengan semakin terkenalnya kawasan Geopark Ciletuh. Dan sebentar lagi, di tahun 2017 namanya akan melejit. Itupun jika UNESCO mengakui. Ciletuh bagi saya adalah kawasan geopark terkemuka dengan ragam warisan alam, geologi, dan kebudayan yang amat langka. Potensi ini kemudian dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan nilai estetika yang memukau.

Proses pembentukan warisan alam ini telah memakan waktu berjuta tahun lamanya. Kawasan ini merupakan hasil dari tumbukan dua lempeng yang berbeda, yaitu Lempeng Eurasia (lempeng benua) yang berkomposisi granit (asam) dan Lempeng Indo-Australia (lempeng samudera) yang berkomposisi basal (basa), yang menghasilkan batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku basa hingga ultra basa. Karena ciri khas geologinya yang tidak di temukan di tempat lain, menjadikan Ciletuh sebagai geopark (Taman Bumi) Nasional di Indonesia 1.

****

Belum habis menyusuri kawasan Geopark Ciletuh, dibawalah rombongan famtrip menuju Pantai Palangpang. Di tengah deburan ombak yang cukup keras, saya harus memasang telinga lebih seksama untuk mendengar penjelasan pemandu lokal (belum tahu namanya) yang saya kenal sebagai nelayan di Palangpang. Dengan menaiki perahu tempel yang biasa digunakan menjaring ikan, kami mulai menyusuri jenis bebatuan temuan yang tersebar di sepanjang pantai. Sangat kentara bagaimana Ciletuh menunjukkan umurnya. Kami pun mulai berlayar.

Pantai Palampang

“Yang itu namanya Pulau Mandra”, tunjuk pemandu kami pada salah satu pulau. Dinamakan Mandra karena letaknya berada di Desa Mandrajaya. Pulau ini cukup populer di kalangan masyarakat lokal sebagai tempat memancing ikan. Juga karena yang paling dekat dari Pantai Palangpang.

Pulau Mandra Geopark Ciletuh

Pulau Mandra

pulau Mandra
Pulau Mandra. Pulau dengan luas kurang dari 1 km persegi ini terletak di Desa Mandrajaya. Akses menuju pulau ini sekitar 5 menit dari muara Sungai Ciletuh. Pulau ini populer sebagai tempat memancing bagi penduduk lokal.

“Kalau yang itu. Namanya Pulau Kunti”, tunjuknya lagi. Nampaknya saya berada pada posisi yang salah. Suaranya harus beradu kencang dengan suara mesin tempel perahunya. Saya mendengar samar. Tepat di depan Pulau Kunti, terdapat Gua Laut Kunti. Gua dengan tinggi 3 meter dan panjang 4 meter ini memiliki struktur batuan campur aduk, yang merupakan campuran dari batuan kerak benua dan samudera yang diendapkan dalam sebuah palung yang sangat dalam. Dan karena proses geologi, terangkatlah ke permukaan sampai nampak seperti sekarang.

pulau kunti

Pulau Kunti
Pulau Kunti. Pulau ini berada di ujung barat Desa Mandrajaya. Pulau Kunti dapat ditempuh dengan perahu tempel selama 10 menit dari muara Sungai Ciletuh.

Kami terus menyusuri dengan kecepatan yang tak bertambah. Bapak pemandu memulai lagi ceritanya. Ditunjukannya pada kami beberapa keramba ikan di lautan. Sembari cerita tentang kehidupan masyarakat nelayan dan hasil tangkapnya, ia kembali menjelaskan soal pulau dan bebatuan yang ada di sana. Jika diingat satu-satu namanya, tentu akan sulit. Saya lebih cepat menghafal karena untungnya beberapa temuan di sini dinamakan mirip sesuai dengan bentuknya. Seperti Batu Punggung Naga. Dinamakan demikian karena komplek bebatuan ini mirip dengan duri-duri punggung seekor naga. Selain batu naga, terdapat pula Batu Kodok, Batu Batik, Batu Alien, Batu Singa Laut, Batu Badak, Batu Buaya, Batu Komodo, Batu Pagar, Batu Banteng, Batu Kerbau, serta Batu Kura-kura. Ya, semua itu diambil dari nama hewan karena unsur kemiripan dengan struktur bentuk rupa bebatuannya.

Pantai Palampang
Keramba ikan

Batu Punggung Naga

Batu punggung naga
Komplek batuan yang menyerupai duri-duri punggung naga dapat diakses dalam waktu 20 menit dari pantai Palangpang. Komplek batuan ini merupakan lokasi yang paling ideal untuk mempelajari secara khusus tentang batuan sedimen batu pasir kuarsa yang merupakan bagian dari Formasi Ciletuh yang berumur Eosen. Foto oleh: Hannif Andy. Referensi: http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/

Batuan di Ciletuh

“Nah, yang ini namanya Gua Laut Sodong Parat.”

Gua Laut Sodong Parat adalah lokasi persinggahan terakhir kami. Gua ini menembus sisi lain dari tebing dengan panjang hampir 7 meter. Batuannya berupa ofiolit yang terdiri atas gabro dan amfibolit bertekstur sangat kasar. Namun sayang, di antara sekian banyak tempat yang ditunjukkannya, kami tak bisa merapat ke pinggiran. Ombak yang besar cukup mengkhawatirkan muatan perahu.

Gua laut Sodong Parat terletak di tanjung tidak jauh dari pantai Cikepuh. Gua ini menumbus sisi lain dari tebing dengan panjang gua mencapai 7 meter. Pada saat pasang, gua ini dapat dilalui dengan menaiki kanu, tetapi pada saat surut, gua dapat dilalui berjalan kaki. Batuannya berupa ofiolit yang terdiri atas gabro dan amfibolit bertekstur sangat kasar.

Bapak pemandu masih dengan asyiknya berkisah. Saya hanya mendengarnya samar. Ia lekas mengajak kami pulang. Namun ada yang aneh. Perahu tempel di luar rombongan kami justru mati mesinnya dan terpaksa harus ditarik perahu tempel kami. Apakah ini kebetulan? Ternyata beberapa hari setelah trip berlangsung, grup whatsapp kami ramai membicarakan kemistisan Palangpang dan beberapa pulau di sana. Konon, kejanggalan ini tak hanya sekali terjadi. Wisatawan lain yang mencoba datang menyusuri pantai juga memiliki pengalaman yang sama. Menarik!

Di tengah rasa kecewa tak bisa turun dari perahu tempel untuk melihat lebih dekat Batu Batik dan Gua Laut Sodong Parat, kami justru dihibur oleh tarian genit para lumba-lumba di Palangpang. Mereka melompat indah di antara perahu tempel kami. Saya  segera memotretnya. Tapi tarian genitnya sangat sulit didokumentasikan. Sampai pertunjukan selesai, saya tak mendapat gambar. Nampaknya mereka hanya sedang menyapa kami. Akhirnya, pemandangan perjumpaan dengan lumba-lumba dan tarian genitnya adalah keindahan Pantai Palangpang terakhir yang kami nikmati.

Matahari mulai condong ke barat. Perjalanan kian garing. Bapak pemandu tak lagi bercerita. Ia nampak kehabisan kata-kata. Sementara yang lain juga tak lagi bersuara. Hanya deru suara mesin tempel yang menertawakan kami yang tak bisa mengabadikan gambar lumba-lumba. Kami berada di barisan paling belakang. Berat muatan perahu kami karena menarik perahu yang macet mesinnya.

Saya merebahkan badan di ujung kepala perahu tempel. Tidur terlelap sembari meresap sebuah refleksi akan warisan alam. Ciletuh, semoga tetap dinikmati. Bukan saja pada geliat pariwisatanya yang indah, melainkan juga dengan cara pandang baru untuk dapat menikmati estetikanya dari sisi ilmu kebumian. Ada sebuah harap pada Ciletuh, menjadikan tanahnya Gemah Ripah Repeh Rapih. Subur, makmur, serta damai.

Tulisan ini merupakan dokumentasi catatan perjalanan dalam kegiatan FamTrip Geopark Ciletuh dan Pelabuhanratu bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Tulisan lainnya dapat dibaca di sini:

Referensi: 

  1. Potensi Warisan Geologi dan Geowisata Geopark Nasional Ciletuh Jawa Barat.

Lokasi Pantai Palangpang

Comments

comments

22 thoughts on “Telusur Keragaman Geologi Geopark Ciletuh

  1. Saya dalam waktu dekat akan ke Pantai Cileteuh, sebelah baratnya Geopark ini. Ada urusan pekerjaan di sana. Dan kalau melihat dari peta Google, akses jalannya lumayan berliku ya, Mas?

  2. Indonesia baru dua ya Geoparknya? Padahal alam kita luar biasa. Tinggal membentuk manusianya yang susah 🙁

    Semoga status geopark dijawab lebih oleh pengelola Ciletuh, tetap terjaga kelestarian dan kebersihannya. Mungkin kapan-kapan bisa mengikuti jejak Mas Hanif ke sana 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.