“Merdeka, lalu apa?”
Kalimat tanya itulah yang beberapa kali disebut malam itu. Terang saja. Malam itu, tepatnya Hari Jumat, 4 September 2015, dihelat acara PechaKucha Night Jogja Volume 9. Tabuh tujuh malam, orang-orang sudah berantrian keluar dari elevator menuju lantai teratas Greenhost Boutique Hotel Prawirotaman yang biasa disebut Rooftop. Acara talkshow ini ternyata mendapat antusiasme cukup besar dari khalayak muda, lho!
Lalu apa hubungannya dengan kalimat tanya tadi? Itu adalah tema yang diusung PechaKucha karena momen acaranya bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI beberapa waktu lalu. Ada sepuluh pembicara dari kalangan berbeda-beda yang membagi cerita mereka tentang makna kemerdekaan dari sudut pandang masing-masing. PechaKucha sendiri merupakan forum sharing bahasan-bahasan kreatif yang tersusun dalam format 20×20. Format 20×20 adalah penyampaian materi dalam 20 slide presentasi yang masing-masing slide-nya dijelaskan dalam waktu 20 detik. Jadi, informasi yang disampaikan diharapkan singkat, padat, dan menginspirasi.
Tabuh tujuh lebih lima belas menit, Rooftop mulai dipenuhi penonton yang lesehan diterangi lampu kuning terang yang serasi dengan arsitektur unik Greenhost Boutique Hotel. Seantero Rooftop semerbak oleh aroma kopi yang dijajakan Wikikopi yang membuka lapak di sebelah meja milik Menyapa Indonesia yang juga menyediakan olahan UMKM desa binaannya.
Tiba saatnya acara inti, penampil pertama datang dari sini, Insanwisata! Founder Insanwisata dengan gaya bicaranya yang khas menyapa semua yang hadir di sana. Dengan lugas ia menceritakan pengalamannya. Bahwa jalan-jalan bukan hanya bersenang-senang atau menghamburkan uang, tetapi menambah pengetahuan dan peduli sosial. Baginya, merdeka lalu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui transfer ilmu pariwisata. Raut wajahnya yang riang terlukis dari senyumnya yang lebar, ada guratan bahagia karena bisa berbagi pengalaman yang menginspirasi.
Selain Insanwisata, tampil pula sembilan pembicara lain dari Cloud Studio, Kartina Maryati, Sebatang Lestari, Wikikopi, Hipwee, Prihatmoko Moki, Fruitalk, Errik Irwan, dan Go-Jek. Mereka tampil dengan pembawaan masing-masing. Ada yang lucu, datar, memiliki bahasan yang agak berat, sampai yang santai tapi keren.
Cloud Studio, membahas mengenai konsep ruang dan gaya arsitektuk modern yang epik. Kartina Maryati, mengajak audiens untuk menjaga kelestarian laut. Sebatang Lestari, adalah komunitas pemberdayaan masyarakat dari kelompok mahasiswa peraih beasiswa LPDP. Wikikopi, yang juga bercerita tentang petani kopi kita yang belum banyak mengerti cara mengolah kopi. Hipwee, portal asik dan ramai viewer yang ternyata hanya diisi enam kontributor. Prihatmoko Moki, seniman lulusan ISI satu ini ternyata sudah berkarya sampai luar negeri. Fruitalk, melihat buah dari sudut pandang yang berbeda. Errik Irwan, komikus yang memaknai kemerdekaan dengan berangan-angan suatu saat anak bangsa bisa mendarat di Planet Mars. Dan terakhir, Go-Jek yang memerdekakan tukang ojek lewat teknologi.
Cloud Studio – Dion Nurtanto Kartina Maryati Sebatang Lestari – Bondan Widyatmoko Mas Uhid – Wikikopi Facilitator Aulia Rizda – Hipwee Prihatmoko Moki Errik Irwan Alamanda Shantika – Go JekKonsep PechaKucha ini memang keren. Bukan hanya tema yang nasionalis, tapi hidangan coffee break-nya juga Indonesia banget! Nikmatnya teh manis berpadu dengan telo (singkong) goreng dan kacang rebus. Pemilihan lokasi di Rooftop Greenhost Boutique Hotel juga sangat pas! Hotel yang satu ini konsepnya hijau, setiap lantai dihiasi berbagai tanaman menjalar. Apalagi pemandangan dari lobby, super cantik!
Teman-teman yang ingin juga berada di serunya PechaKucha Night Jogja bisa pantau infonya di media-media yang dimiliki PechaKucha. Masih ada PechaKucha Night Jogja Volume 10 tiga bulan ke depan di tempat yang sama. Sampai jumpa!









