No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Mengabadikan Pesona Kawah Putih Ciwidey

by Hannif Andy Al - Anshori
September 2, 2016
5 min read
36

Om Cumi tampak bersemangat. Kelak ia punya koleksi foto baru dengan gaya unik yang siap dipamerkan di blognya. Sementara, saya waktu itu senangnya bukan main. Bak anak kecil yang baru saja dibelikan mainan baru dari Ayahnya. Semua tampak bersemangat mengawali destinasi pertama Famtrip Ciletuh dan Pelabuhanratu. Meskipun Ciwidey sebenarnya tidak termasuk ke dalam kawasan Ciletuh, amat disayangkan untuk dilewati begitu saja.

Udara menjadi makin sejuk ketika mobil Hiace melalui jalan yang sesak pepohonan. Kabut pagi itu masih mengepung kawasan wisata kawah putih. Tak lama kemudian, kami melewati gerbang pintu masuk bertuliskan “Kawah Putih Ciwidey”. Kami pun serta merta disambut para pedagang pakaian hangat.

kawah putih ciwidey
Rombongan peserta Famtrip Geopark Ciletuh dan Pelabuhanratu 2016.

Jauh sebelum kami, sudah ada Franz Wilhelm Junghuhn (ahli botani dan geologi) yang lebih dulu mengeksplor Kawah Putih Ciwidey. Tepat pada tahun 1837, ia memberanikan diri pergi ke puncak Gunung Patuha demi kehausan akan wawasan keilmuan. Padahal, masyarakat lokal telah menganggap Gunung Patuha sebagai kawasan yang angker sampai tak berani masuk ke dalamnya. Tak seperti masyarakat lokal lainnya,  nyali Junghuhn tak ciut mendengar mitos hutan angker. Justru ia malah menemukan banyak keindahan ketika ia berdiri di puncak Gunung Patuha, salah satunya adalah kaldera kawah putih dengan bau belerang yang menyengat. Ketertarikannya pada tanah Jawa dengan menjelajah beberapa gunung api di sana tak berhenti sampai di Gunung Patuha saja. Ia juga sukses menelurkan beberapa karya, salah satunya adalah buku berjudul ‘Jawa – Bentuknya, Permukaannya, dan Susunan Dalamnya’. Tanpa sebuah penelitian yang panjang dan dalam, tentu Kawah Putih Ciwidey tak pernah dikenal asal usul terbentuknya. Seperti saya yang tak pernah puas melihat keindahan tanpa unsur cerita di dalamnya. Saya perlu mengulasnya lebih dalam. Beruntungnya, papan interpretasi alam sedikit membantu saya mengenal sekilas Kawah Putih Ciwidey.

Proses pembentukan Kawah Putih Ciwidey ternyata bermula dari letusan Gunung Patuha yang terjadi pada abad ke-10. Disusul kemudian letusan Patuha pada abad ke-12 yang kemudian membentuk danau yang indah. Gunung Patuha dianggap sebagai gunung tertua di Pulau Jawa oleh masyarakat Ciwidey. Nama Patuha sendiri diambil dari kata Pak Tua (sepuh). Itulah sebabnya sebagian masyarakat juga menyebutnya sebagai Gunung Sepuh.

Memang, terlalu pagi kami datang ke sini. Kabut masih enggan berpindah dari kaldera Ciwidey. Namun bukan berarti keindahan Kawah Putih Ciwidey tak dapat dinikmati. Selalu ada cara untuk menyesap harmoni alam ciptaan Tuhan. Kami masih bisa memanjakan mata dengan lebatnya pepohonan dan basahnya lumut di antara bebatuan.

“Hanif, fotoin aku. Kaya gini ya”, cepat Om Cumi menyodorkan kamera sambil menunjukkan posisi pengambilan gambar. Kedua tangannya sudah gemetar menggigil kedinginan. Apalagi ia akan foto tanpa busana demi karir di blognya. Baginya, foto seperti itu amat mujarab menarik minat baca pengunjung blognya. Penasaran dengan foto uniknya? Silahkan mampir saja langsung ke blognya di cumilebay(dot)com. Saya agak maklum pada tingkahnya. Darinya saya banyak belajar untuk menjadi orang yang pandai bersyukur dan tak lalai pada kewajiban. Sendau gurau di antara kami juga yang mewarnai perjalanan ini. Nanti. Ya, nanti saya tuliskan cerita khusus tentang profil diri Cumilebay dan warna-warni perjalanannya.

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey
Om Cumi masih berbusana lengkap.

Pemandangan ikonik di sini tentu kawah putih itu sendiri. Namun pemandangan menarik lainnya adalah jajaran pohon  dan tumbuhan tropis yang ada di bukit hutan. Maka, berfoto di sini wajib hukumnya. Jika semua gaya sudah dicoba, segeralah berpindah ke gardu pandang. Nikmati suasana sunyi Kawah Putih Ciwidey dari sini. Sesap udara sejuknya. Dan bergayalah seolah kita tak melihat kamera.

kawah putih ciwidey

Meskipun masih diselimuti kabut, gardu pandang masih apik dijadikan latar berfoto. Selain itu, ada lagi daya tarik yang ceritanya berangsur ditinggalkan. Di salah satu jalan turun menuju kawah, terdapat gua yang cukup dalam. Apakah gua ini angker? Atau justru telah menjadi tempat persembunyian berabad-abad yang lalu? Sayangnya, saya tak mendapati ceritanya.

kawah putih ciwidey

Perlahan, kabut mulai tersibak. Bau belerang pagi itu tak begitu menyengat. Di antara beberapa kawah yang pernah saya kunjungi, Kawah Putih Ciwidey memiliki kadar bau belerang yang tidak begitu mengganggu pernapasan. Kami segera turun mengambil gambar. Keindahan Kawah Putih Ciwidey perlahan mulai tampak. Ia adalah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha yang namanya juga tersohor di Bandung. Airnya berwarna putih kehijauan. Kadang, ia bisa berubah warna. Kawah Putih Ciwidey menunjukkan betapa luar biasanya mahakarya Sang Pencipta. Tepat berada di ketinggian 2434 meter di atas permukaan laut, kami masih menggigil kedinginan. Kedua tangan saya telah beku sehingga sangat sulit mengatur mode pengambilan gambar di kamera. Setiap kali ingin mengambil gambar, saya harus mengusap-ngusapnya di saku celana supata cepat hangat.

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

kawah putih ciwidey

Ketika sudah cukup hangat. Saya mendongakkan kepala ke atas. Kabut telah pergi rupanya. Kini diganti oleh cerahnya langit. Selamat pagi semesta! Bergegas saya mengabadikan kawah yang warnanya kini putih kebiruan. Tuhan Maha Adil. Ia buat kami menggigil kedinginan dan sekarang Ia suguhi pemandangan yang amat menakjubkan. Sembari menyesap udara pagi bercampur bau belerang di Kawah Putih Ciwidey, dalam hati saya berdoa, semoga saya masih dikuatkan menjelajah negeri ini. Merasakan kebebasan menghirup udara yang segar di setiap sudutnya. Maka, bantulah kami ini yang haus pada indahnya destinasi. Bantulah kami untuk merawat dan mencintai Ibu Pertiwi.

Tak lama, rombongan kami lekas mengajak berpindah tempat. Katanya, ada destinasi lain yang tak kalah indahnya dari Kawah Putih Ciwidey. Ada apa lagi kira-kira di sekitaran Ciwidey? Kawah Putih Ciwidey, semoga tetap indah dalam kenangan.

kawah putih ciwidey
Kami yang kagum pada keindahan Indonesia. 5 Travel Blogger Famtrip Ciletuh dan Pelabuhanratu. Dari kiri ke kanan: Mas Timo, Hannif, Om Cumi, Bang Aswi, dan Mas Harris Maulana. Monggo, simak tulisan dan keseruan mereka di blognya!

P.S: Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp18.000,00 dan untuk wisatawan mancanegara Rp50.000,00. Bagi wisatawan yang menggunakan shuttle/ angkot dari TPR dikenakan biaya Rp12.000,00 (pulang pergi). Sedangkan bagi yang masuk membawa mobil pribadi dikenakan biaya tambahan Rp150.000,00 (tarif Agustus 2016).

Tulisan ini merupakan dokumentasi catatan perjalanan dalam kegiatan FamTrip Geopark Ciletuh dan Pelabuhanratu bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Tulisan lainnya dapat dibaca di sini.

  • Menyambangi Amfiteater Alam di Puncak Darm
  • Mengabadikan Pesona Lanskap Kawah Putih Ciwidey
  • Curug Cimarinjung, Indah Laksana Emperan Nirwana
  • Telusur Keragaman Geologi Geopark Ciletuh

Lokasi Kawah Putih Ciwidey

Previous Post

Menyambangi Amfiteater Alam di Puncak Darma

Next Post

Curug Cimarinjung, Indah Laksana Emperan Nirwana

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Curug Cimarinjung, Indah Laksana Emperan Nirwana

Curug Cimarinjung, Indah Laksana Emperan Nirwana

Comments 36

  1. mawi wijna says:
    10 tahun ago

    Aku mau tanya perihal Kawah Putih ini.

    1. Berapa tiket masuknya sekarang untuk wisatawan domestik?
    2. Apa ada tarif khusus untuk pemotretan model, jika iya berapa tarifnya?
    3. Dengar-dengar tarif masuk untuk mobil mahal sekali. Adakah solusi yang murah bagi wisatawan yang datang pakai mobil?

    Semoga dirimu tahu jawabannya ya Nif. 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      halo mas Mawi. wah pertanyaanmu cukup berat e mas. wkwk
      oke aku jawab ya.
      1. tiket masuknya 18.000 mas
      2. kalau pemotretan model, kalau ala2 kaya om cum gt asal g keliatan dan menarik perhatian yo g bayar. kalau prewed 500rb
      3. kalau pakai mobil sendiri. kalau mau murah bisa berhenti d parkiran, terus naik angkot (shuttle) 12.000/pp
      Kalau mau bawa mobil sampai atas, bayare nambah 150.000 mas.

      yeay. bisa menjawab atas bantuan kawan2 d grup ciletuh.

      Balas
  2. Hastira says:
    10 tahun ago

    tetap indah , alam indonsia. Waktu ke sana sedang hujan jadi gak banyak yg bisa dilihat dari dekat

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Terimakasih Mb Hastira sudah sering mampir.
      Wah sayang sekali ya Mba.. berarti mba harus main ke sini lagi biar dpt foto yg ciamik

      Balas
  3. cumilebay.com says:
    10 tahun ago

    Aku tunggu kamu menulis profile ku hua hua hua

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Sponsored post? Berani bayar berapa om?

      Balas
  4. Travelling addict says:
    10 tahun ago

    Wah serunya bisa jalan2 bareng blogger hiets, btw minta tips dan sarannya dong maz supaya bisa ikutan famtrip oleh dinas parawisata bandung 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      alhamdulillah. saya jg seneng banget dan kaget bisa main bareng sama mereka.
      walah walah. aku cuma diundang doang 😀 ga pernah punya tips khusus buat dapat undangan mas. aku pun harus banyak berguru dari banyak orang 😀
      Khususnya berguru sama sampeyan mas 🙂
      kalau saran, tekuni hobi ngeblognya mas. kita g tau rejeki datangnya darim pintu mana 🙂

      Balas
  5. Akarui Cha says:
    10 tahun ago

    Walaaahhhh aku waktu main ke Kawah Putih belum nyoba main ke gardu pandangnyaaa … hiks.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      waah. sayang sekali. berarti harus main ke sini lagi kak

      Balas
  6. Sie-thi nurjanah says:
    10 tahun ago

    Ohh..ini yg grup ke cileteuh ya??
    Asyik sekali dapet spot kawah putih ga terlalu ramai..puas explorenya

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      iya mba. grup yg ke ciletuh.
      haha. kita ke sini kepagian. tapi dinginnya puool. dan kabutnya cukup tebal

      Balas
  7. Nasirullah Sitam says:
    10 tahun ago

    Nggak seru ahh, nggak ada foto om cumi pakai kancut di sini hahahahahha. Nggak boleh foto di dekat kawahnya ya? Atau sengaja nggak foto di dekat kawahnya?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      sebenernya boleh. cuma karena temen2 sudah puas mendapat foto om cumi berkancut. kawah ga lagi menarik. cuma aku yang motret sampai bawah. sendirian lagi. kan kasian ,
      emang g tak kasih foto kancutan. ini blog syariah. wkwkw. halal

      Balas
  8. Molly says:
    10 tahun ago

    Profesional banget ya mas, walau dihantam udara dingin menusuk tulang tapi ekspresi pas difoto tetep terjaga. Keren-keren fotonya! Hehehe.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      haha. makasih mas. tapi bukan karena profesional sih. kamera aja yang agak mendukung. wkwk

      Balas
  9. Andi Nugraha says:
    10 tahun ago

    Wah jadi kangen ke tempat ini lagi nih.. keren2 viewnya..

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yuk bro ke sini lagi. hehe.

      Balas
  10. Endah Kurnia Wirawati says:
    10 tahun ago

    Beuhh.. ada mas cumi disini..
    Paling enak ke kawah putih emang pas bukan weekend
    lebih sepi dan bisa puas foto2nya.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Om cumi dimana2 e…iya…sepi malah enak..tp sayang kita kepagian. Kabut masih tebal

      Balas
  11. putri normalita says:
    10 tahun ago

    JAdi mas hanif menyaksikan langsung adegan mas cumi kancutan dong ya???
    huwaaa huwaaa, kamu harus segera mensucikan diri mas. xixixixi

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      haha. sudah 4 tempat nih mbaa. dan apesnya aku yg motretin 😀
      iya, udah wudhu dan membasuh pakai pasir

      Balas
  12. Dwi Susanti says:
    10 tahun ago

    Hanif, harusnya kamu sekalian prewed lho :p

    Kalau udah mendekati kawah, kuat banget ga pake masker?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      g pake aku mba. apalagi om cum. kuat g pake baju. haha. tapi belerangnya g begitu bau kok. lebih keras ijen dan sikidang

      Balas
  13. angkisland says:
    10 tahun ago

    PEngen balik lg dimari rasanya mas tp entah kapan deh hehe

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yo mrene pisan maneh. ben lengkap penasaranmu mas

      Balas
  14. Johanes Anggoro says:
    10 tahun ago

    kawah putih kalo sedang berkabut memang mistis2 romantis gmn gitu ya :3
    saya pas kesana sedang cerah2nya, tapi ttp aja dingin ya hehehe

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Iyaa.. pas berkabut aja dinginnya bukan main. Menggigil

      Balas
  15. Fahmi Anhar says:
    10 tahun ago

    bawa mobil pribadi sampai atas kena charge tambahan 150 ribu? overrated nggak sih menurutmu kak?

    tapi tempatnya buat foto-foto emang cakep ya. jadi pingin kesana!

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      iya mas. kalau mobil muatannya banyak kaya hiace sih kayanya ga sih. tapi kalau bawa mobil avanza gt overrated.
      lhoh mas Fahmi blm pernah ke sini toh

      Balas
  16. Gallant says:
    10 tahun ago

    Om Cumi idola kita semua!!
    aku juga belom pernah ke sini 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Km jalannya kurang jauh e mas

      Balas
  17. Jasmi Bakri says:
    9 tahun ago

    2.5 tahun hidup di Bandung cuma sekali main ke kawah putih. Lagian juga waktu itu belerangnya lagi tinggi. Jadi gak bisa lama2.. kangen Bandung.. 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      hehe. aku baru dua kali ke Bandung. pengen ke saung Udjo

      Balas
  18. Dilan says:
    9 tahun ago

    pertama kali saya kesini waktu tahun 2010, touring anak2 kelas walaupun ada beberapa insiden yang tidak mengenakan, but thanks for sharing,

    mengenang masa dulu

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Menarik tuh ditulis Mas

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller