Singaraja, Kota Bersejarah yang Kaya Ragam Wisata

Selamat datang di Kota Pendidikan. Kota yang dulu pernah dijadikan sebagai ibu kota Pulau Dewata sebelum tahun 1950. Kota tempat saya lahir dan tujuh tahun mengenyam pendidikan. Kota yang asri dengan nilai kerukunan yang amat toleransi.

Sayang seribu sayang. Seringnya, Singaraja hanya menjadi destinasi yang sekali dilewati. Selama mengikuti kegiatan study tour dari sekolah, begini rute yang biasanya diambil: berangkat dari Jawa berwisata ke Bali – menghabiskan tiga hari di Denpasar – menutup hari di Bedugul – pulang melewati Singaraja. Ah, kasihan sekali kota kelahiranku ini. Sepanjang pemandangan yang dilewati memang tampak biasa. Dari kaca-kaca jendela bus pariwisata, Singaraja memang belum memanjakan mata.

Tapi itu dulu. Sekarang? Sepertinya masih sama jika kita menggunakan jasa biro yang menjual paket Bali Selatan sebagai destinasi utama. Di Singaraja, khususnya di daerah-daerah tertentu, sudah mulai ramai pelancong. Ditambah lagi, Singaraja sudah jemput bola. Menangkap segala peluang untuk menarik perhatian wisatawan. Saya ikut merasakan. Mengamati langsung bagaimana proses pembangunan pariwisata minat khusus maupun massal. Apalagi berkat media sosial Instagram, beberapa tempat wisata yang jarang ada kunjungan mulai dicari wisatawan. Sekali lagi, selamat datang di Singaraja. Kota bersejarah yang kaya ragam wisata.

Tugu Yudha Mandala Tama, Eks Pelabuhan Buleleng: Mengenang Sejarah

Jauh sebelum Bali terkenal, Singaraja pernah menjadi bagian dalam memperjuangkan kemerdekaan. Bukti nyata itu ada pada destinasi kebanggaan di wilayah pesisir Singaraja. Terdapatlah Pelabuhan Buleleng yang punya riwayat perjuangan kemerdekaan. Di tahun 2000-an belum seramai dan serapi ini. Masih banyak kapal-kapal ikan dan barang yang mampir merapat di sini. Sekarang, Pelabuhan Buleleng telah bersolek diri. Pelabuhan Buleleng telah disulap menjadi tempat nongkrong kawula muda dan pelancong dalam kota. Bagi saya, tempat ini favorit. Bersenandung ria sembari menanti fajar kembali ke peraduan. Menjemput malam dengan sambutan para bintang yang bertaburan. Semilir ombak menyisir rambut dengan sepoi. Deburan suaranya adalah musik alam yang indah. Syahdunya senja kala itu.

Tepat di antara bangunan-bangunan bersejarah lainnya, berdiri gagah seorang prajurit muda kekar dengan bambu runcing di tangan kanannya. Di sini, masyarakat setempat melawan pemerintahan Belanda. Di sini pula, masyarakat setempat menunjukkan keberaniannya dengan cara merobek warna biru pada bendera Belanda. Atas peristiwa itu, pada tahun 1987 pemerintah Singaraja membangun Tugu Yudha Mandala Tama.

pelabuhan buleleng

pelabuhan buleleng

pelabuhan buleleng

Patung Tugu Yudha Mandala Tama masih berdiri gagah dengan merah putih di tangan kanannya. Saya meragukan, adakah setiap wisatawan yang datang ke sini kemudian mengenal riwayatnya? Bangunan tua yang kejayaannya berangsur ditinggalkan. Tapi memang, pada kenyataannya alam di sini cukup indah. Paling tidak, Pelabuhan Buleleng masih ramai didatangi pelancong yang berburu kuliner di restoran apung atau sekadar menyesapi semilir angin sore berlatar senja.

pelabuhan buleleng

Beberapa langkah di sebelah timur, terdapat pula sebuah klenteng dengan arsitektur bergaya oriental yang dikenal dengan nama Ling Gwan Kiong, tempat ibadah Tri Dharma (Tao, Buddha, dan Kong Hu Cu) yang sampai sekarang masih aktif digunakan untuk tempat berdoa. Sementara itu, beberapa langkah saja menuju barat, terdapat kampung pesisir yang dinamakan Kampung Bugis yang mayoritas masyarakatnya adalah muslim. Betapa Singaraja membuktikan, bersahajanya hidup berdampingan di antara umat yang berbeda agama.

klenteng di pelabuhan buleleng

Masjid Kuno dan Masjid Jami’ Singaraja, Membaca Sejarah Islam di Buleleng

Sejak 1800-an, pengaruh Islam di Singaraja sudah sangat terasa. Lalu mengapa masjid kemudian menjadi tempat yang menarik bagi saya? Bukan lain karena sejarah dan peninggalan para Raja Buleleng. Adalah Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi yang menjadi bagian memperkaya sejarah berdirinya Masjid Jami’ lewat pemberian Al-Qur’an pusaka. Dikatakan Al-Qur’an pusaka karena kitab ini diperkirakan ditulis pada 1820 pasca Perang Saudara. Sementara Masjid Kuno, adalah masjid tertua di Pulau Bali. Sejarah masuknya islam di Pulau Bali sudah saya ceritakan dalam artikel “Membaca Sejarah Islam di Buleleng Lewat Masjid Kuno dan Masjid Jami’ Singaraja”. Silakan disimak!

DSC08523

Menikmati Segarnya Air Terjun Aling-Aling bersama Krisna Adventures

Masyarakat Singaraja tak perlu repot merencanakan liburan yang hanya jatuh di akhir pekan.  Tak perlu pula harus mengeluarkan banyak uang untuk berkendara ke Denpasar. Jika merindukan suasana desa dengan suasana khas Ubud, segeralah datang ke Air Terjun Aling-Aling yang berada di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Sepanjang perjalanannya adalah pemandangan sawah yang tak pernah dilewati bus besar pariwisata yang membawa rombongan anak sekolah dari luar Bali. Lingkungannya masih asri dengan petak-petak sawah di kanan dan kiri. Air bersihnya melimpah mengaliri setiap anak sungai di antara rumah-rumah. Air terjun dengan ketinggian 35 meter ini memiliki muara pada kolam yang jernih dan cukup dalam. Untuk mendapatkan latar gambar yang baik, datanglah di saat musim kemarau karena warna airnya menjadi biru saking jernihnya. Tepat di atas Air Terjun Aling-Aling sebenarnya terdapat tempat yang jauh lebih indah, Secret Garden namanya. Penasaran akan keindahannya? Sambangilah Aling-Aling Singaraja!

Krisna yang datang sebagai pengembang wisata cukup kreatif memoles kawasan ini. Saya cukup puas, akhirnya Singaraja punya tempat wisata yang beragam. Mulai dari alam sampai dalam bentuk outbound seperti wisata berkemah, flying fox, paintball, ATV ride, dan lainnya. Selain membangun kawasan Air Terjun Aling-Aling, Krisna mengenalkan banyak wisata buatan seperti Krisna Water Sports dan Krisna Adventures. Dengan mengusung konsep One Stop! Marine Recreation, Krisna menjual aktivitas wisata parasailing, banana boat, jet sky, donut boat, fly fish, fly board, canoe, dan dolphin watching di sepanjang Pantai Lovina – Temukus.

AIR TERJUN ALING ALING

AIR TERJUN ALING ALING

AIR TERJUN ALING ALING

Berendam Hangat di Air Panas Banjar

Yang satu ini adalah favorit keluarga saya. Setiap mudik ke Bali, pasti teragenda berendam di Air Panas Banjar. Supaya rasa pegal cepat hilang alasannya. Sejarah mencatat, pada masa pendudukan tentara Jepang di Bali, mereka kerap melakukan pemugaran di sumber air panas ini. Tanpa mengurangi keasrian, pohon dan tumbuhan hijau dibiarkan subur meneduhkan kawasan.

AIR PANAS BANJAR BALI

AIR PANAS BANJAR BALI

Lapar Tengah Malam, Pasar Banyuasri Tempatnya

Jika pasar malam identik dengan pesta rakyat penuh wahana seperti bianglala dan tong setan, tidak untuk Singaraja. Bagi saya, inilah pasar malam sesungguhnya. Seperti pasar tradisional pada umumnya. Selain menjual kebutuhan pokok harian masyarakat, ada pula masyarakat yang membuka lapak warung makan. Alasan pasar ini buka tengah malam karena pagi harinya digunakan sebagai terminal. Buka tengah malam lantas tak menjadikannya sepi pelanggan. Saya mencicipi nasi kuning di sini. Harganya murah meriah. Cukup merogoh kocek Rp 5.000,00, saya bisa mendapat sebungkus nasi kuning lengkap dengan lauknya.

pasar banyuasri tengah malam

pasar banyuasri tengah malam

Bersantap Kuliner Serba Ikan di Pantai Temukus 

Bagi saya, tak lengkap datang ke tempat wisata tanpa mencicipi kuliner khasnya. Bukan Ayam Betutu bukan juga Sate Lilit, adalah ikan segar yang menjadi tujuan saya selama menjadi pelancong di Singaraja. Tak sulit menemukan ikan segar di sini karena Bali dikelilingi banyak pantai dengan hasil laut yang melimpah. Pantai Temukus selalu menjadi pilihan saya. Bersantap ikan bakar sembari menikmati senja adalah momen terbaik di Singaraja. Pandangilah ufuk barat Pantai Temukus. Fajar selalu tampak sempurna menutup harinya. Berlatar pantai berpasir hitam, langit yang biru perlahan berubah menjadi oranye keunguan. Cahayanya memantul bagaikan cermin. Sampai malam tiba, Pantai Temukus tetap hangat dijadikan tempat santai keluarga. Meskipun harus bersusah payah mengeraskan volume suara yang bersaing dengan debur ombak, cahaya remang Pantai Temukus di bawah taburan bintang tetap jadi  juara. Indah sekali.

Pantai temukus

Pantai temukus

Menutup Hari di Pantai Lovina, Sampai Jumpa Lagi Singaraja!

Ikon lumba-lumba menjadikan pantai ini cukup terkenal. Adakah pemandangan lain selain menikmati wahana Krisna Water Sports dan bertemu lumba-lumba yang riang di pagi hari? Tentu ada. Tidak lain adalah senja. Lagi-lagi alam punya pertunjukan ajaib setiap hari. Setiap sorenya, kafe-kafe sekitar pantai akan sesak turis mancanegara. Sementara di sepanjang pasirnya, kawula muda masih asyik bermain pasir. Kapal-kapal nelayan yang telah merapat sejak sore adalah latar apik untuk didokumentasikan. Sementara itu, sembari langit bersolek menghias diri, saya berjalan dari ujung ke ujung. Bertemu mereka yang senyumnya hangat menyapa. Dengan busana Bali yang siap memanjat doa. Dupa-dupa mulai dinyalakan. Baunya semerbak di pantai. Membangun suasana mistis dengan aroma khas Bali.

Di sudut lainnya, saya bertemu anak pantai yang dengan riangnya bermain bola. Bermandi pasir kemudian membilasnya dengan cara berendam di bibir pantai. Begitu seterusnya sampai Ibunya lekas menyuruh pulang. Pantai Lovina bagi saya, adalah tempat menutup hari yang pas. Biarpun sesak wisatawan, rumah para lumba-lumba ini selalu menjadi pilihan. Senja adalah rayuan yang selalu membuat saya berhenti dari penjelajahan. Membuang waktu untuk menikmati keindahannya yang hanya sebentar.

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

pantai lovina

Begitulah Singaraja. Baru sedikit yang bisa diulas karena waktu yang cukup terbatas. Jangan kemudian berpikir lagi wisata Bali hanya ada di selatan. Berkendaralah ke Bali Utara dan temukan ragam wisatanya. Dan Singaraja akan menyambutmu dengan keindahannya, keramahan masyarakatnya, dan petualang yang membuatmu terus berkesan. Bali, destinasi yang terus ingin saya datangi. Berkali-kali ke sini tidaklah akan membuatmu bosan. Karena pesona Bali, bukan hanya terkumpul di selatan.

Comments

comments

28 thoughts on “Singaraja, Kota Bersejarah yang Kaya Ragam Wisata

  1. Ternyata banyak sekali yang bisa dinikmati oleh wisatawan di Singaraja. Alam dan budayanya unik. Begitupun sejarah yang pernah bergulir di sana. Semoga para pemegang kepentingan di Singaraja tidak lelah mempromosikan daerahnya sehingga kunjungan wisatawan ke Bali tidak selalu berkumpul di bagian Selatan. Amin

  2. aku dulu studi tournya malah nggak lewat singaraja sama sekali Nif.
    habis dari Bedugul langsung ditutup lewat Tanah Lot dan cus ke Gilimanuk.
    Singaraja cuma denger dari cerita ayahku pas aku masih kecil, beliau pernah dapet Penataran guru di sana terus sempat main ke Lovina. :”)

  3. tahunya Singaraja ya cuma Lovina, ternyata banyak juga objek wisata lain yang oke. waktu liburan ke Bali setelah lebaran kemarin, kami rental mobil, dapat driver Bli Gde Adi yang orang Singaraja asli. Dia bilang next kalau ke Bali lagi suruh kontak dia, mau diajak main ke rumahnya di deket Lovina. Eh ternyata di kota ini pula kamu menikmati masa sekolah bro. seru yak!

    1. hehe. iya Mas. ini kampung halamanku. masih banyak lagi yang belum sya ulas. mau saya jadikan dua bagian tulisan. hehe. Singaraja mah cuma dilewati aja. jarang wisatawan menghabiskan waktu ke Singaraja. kalau ke sini lagi main rumah mas. Rumah sya dekat jg sama lovina. jalan kaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.