No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Pulasan Warna Kain Pantai Tepian Sungai Bengawan

by Hannif Andy Al - Anshori
Juli 13, 2017
7 min read
60

Lama sebelum matahari terlalu tinggi dan terik, saya sudah menyisiri tepian jalan Sungai Bengawan Solo. Bersama Aji, pewarta foto dan video yang juga punya ketertarikan pada bidang industri kreatif, kami berdua mencari lokasi pembuatan kain pantai yang dikabarkan oleh warganet melalui sosial media.

Berada di tengah pedesaan membuat destinasi ini semakin menarik untuk dikunjungi. Terletak di Desa Krajan, Kecamatan Mojobalan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sentra industri kain pantai ini tak begitu kondang seperti keberadaan batik Solo.

Anehnya, sulit menemukan simbol visual yang menyatakan bahwa Desa Krajan adalah sentra industri kain pantai. Saya masih harus bertanya-tanya karena tak ada petunjuk yang menyematkan kata selamat datang, atau bentuk sambutan lainnya. Padahal, jika menilik dari gang ke gang, sangat mudah ditemui perajin kain pantai.

Tak jauh dari pintu masuk desa, tepat di tepian Sungai Bengawan, terbentang apik pulasan kain yang menggoda mata. Begitu menarik, mengisi ruang-ruang kosong yang lengang menaungi perkampungan kecil Desa Krajan. Di gubuk kecil inilah, jumpa pertama saya dengan Sis (39 tahun).

Sis, panggilan akrab pembuat kain pantai yang tak ingin disebut sebagai pengusaha ini menyambut kami ramah. Ia menanggalkan perlengkapan memulasnya, kemudian mempersilakan kami melihat-lihat koleksinya. Mestinya, Hari Minggu ini Sis punya waktu untuk bercengkrama bersama anak dan istri. Tapi ia memilih kerja lembur supaya cepat merampungkan pesanan kain dari Sumatra.

Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Tepat di tepian Sungai Bengawan, masyarakat perajin menjemur kain pantainya. Tak butuh waktu lama untuk membuat kain pantai cepat kering. Asal mendapat panas matahari yang pas tanpa diwarnai angin kencang, perajin tidak akan kerepotan mengurusnya.

Bisnis yang tak memiliki merek ini ternyata sudah terkenal di Indonesia. Pemesannya pun datang dari Bali, Sumatra, Kalimantan, dan hampir seluruh daerah di Pulau Jawa. Siapa yang bakal mengira? Meski belum pernah ada yang memastikan semua kain pantai yang dijual di Bali adalah buatan solo, Sis mengaku, pemesannya paling banyak datang dari Bali.

Seraya menjawab rasa penasaran saya, Sis tetap memulas kain pantai pesanannya. Dibantu istrinya yang terampil dan tak banyak bicara, Sis sanggup menyelesaikan satu hingga dua kodi per hari. Jika diperhatikan, tak sulit untuk membuat kain pantai seperti yang Sis dan istrinya kerjakan. Semua bergantung pada desain dan pemilihan warna. Semakin ramai warnanya, semakin meriah pula kain pantai Bengawan.

Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Sis sedang menjemur puluhan lembar kain pantai di tepian Sungai Bengawan Solo
  • Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
  • Kain Pantai Solo Sungai Bengawan

Kain shantung dipilih sebagai bahan dasar pembuatan kain pantai. Lalu dengan spon, Sis dan istrinya memulas warna sesuai dengan desain pemesan. Satu lembar kain pantai yang sudah siap jual dibandrol dengan harga 30 ribu rupiah. Beberapa sampel dagangan yang dibawakan oleh Sis menjadi buah tangan incaran saya. Meski bukan sebagai kolektor kain, saya berpikir tak ada salahnya meramaikan dagangan mereka.

Di bagian lain, tanpa perlu menyewa lahan, Sis menjereng berlembar-lembar kain pantai yang sudah selesai dipulas warna. Tepat di tepian Sungai Bengawan, Sis menjemur kain pantainya. Tak butuh waktu lama untuk membuat kain pantai cepat kering. Asal mendapat panas matahari yang pas tanpa diwarnai angin kencang, Sis tak akan merasa kerepotan mengurus kain pantainya.

Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Kain shantung dipilih sebagai bahan dasar pembuatan kain pantai. Lalu dengan spon, Sis dan istrinya memulas warna sesuai dengan desain pemesan.

Kami segera menutup bincang. Tapi langkah kaki kami tak ingin segera menyudahi rekreasi. Berkat petunjuk dari beberapa informan, akhirnya kami dibawa menuju tempat pembuatan kain pantai dengan skala yang lebih besar.

Kain pantai kawasan Desa Krajan

Matahari pukul 12.00 siang terasa seperti memanggang kawasan Desa Krajan. Beberapa pabrik dan perajin rumahan kain pantai sedang libur bekerja. Mujurnya, ada satu yang tetap buka. Seluas mata memandang, hanya terlihat berlembar-lembar kain yang dijereng memanjang. Puluhan pekerja pun tampak hilir mudik dalam kesibukan. Di bawah komando Sigit, puluhan orang ini bekerja sebagai pemulas kain pantai.  Berbeda dengan Sis, kain yang digarap Sigit adalah kain pulasan yang dijual meteran.

“Biasanya dibuat daster dan pakaian, Mas”, aku Sigit.

Tak ada hitungan pasti untuk jam kerja yang berlaku bagi karyawan. Dimulai sejak pukul 08.00 pagi, para karyawan biasa mengakhiri pekerjaan jika tenaga sudah habis terkuras, atau menggarap sawah.

“Modelnya borongan, Mas. Per 30 meter dihargai tujuh ribu. Kita jual lagi per meternya sembilan ribu”, tambah Sigit.

Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Meningkatnya jumlah permintaan menjelang lebaran membuat para perajin kain pantai kerja lembur dalam menyelesaikan pesanan. Kain pantai per tiga puluh meter ini dijual dengan harga tujuh ribu rupiah.

Cikal bakal pembuatan kain pantai kawasan Desa Krajan ini dimulai pada tahun 1996 oleh Sriyono, atau yang akrab disapa Ko Sri. Usaha kain pantai ini kemudian diteruskan oleh anaknya, Sigit dan saudaranya. Namun, hanya usaha Sigit yang masih bertahan sampai sekarang. Sementara milik saudaranya, lebih dulu gulung tikar karena tak terlalu telaten dalam melakoni dagangannya.

Dalam bisnis kain pantainya, Sigit hanya menggarap dua model jenis pewarnaan, yaitu jumput dan celup. Tak ada kiat promosi yang menjadi jurus Sigit dalam membuat laris dagangannya. Pemasaran ‘getok tular’, dari mulut ke mulut masih dianggap cara yang paling praktis untuk berjualan. Bahkan ia tak ada niatan untuk mematikan pasaran para pedagang yang menjual kembali kain-kainnya dengan harga yang lebih mahal.

Baginya, garis takdir sudah ditentukan. Fokus pada apa yang sekarang ditekuni adalah cara Sigit menghargai rintisan bisnis orangtuanya. Dengan berbagai harapan, tentunya buah ketekunan yang akan diunduhnya dapat dinikmati bersama keluarganya.

Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Kain shantung digelar memanjang di atas seng. Ada yang kebagian mengikat kain dengan karet, ini yang jenis jumput

Musim hujan berkepanjangan tak ramah bagi pebisnis kain pantai. Pasalnya, para pekerja akan merasa kerepotan untuk mengejar setoran borongan. Dapat dimaklumi, pekerjaan seperti ini sangat mengandalkan panas matahari agar warna kain menjadi sempurna.

“Semakin panas seng-nya, semakin bagus warna yang dihasilkan”, ungkap Sigit lagi.

“Kain shantung digelar memanjang di atas seng. Ada yang kebagian mengikat kain dengan karet, ini yang jenis jumput. Kalau yang jenis celup lebih mudah. Kain direndam menggunakan bahan pewarna rhemasol, kemudian dilukis menggunakan warna. Terakhir, warnanya dikunci dan dicuci”, pungkasnya mengakhiri perbincangan.

Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Kain Pantai Solo Sungai Bengawan
Kain direndam menggunakan bahan pewarna rhemasol, kemudian dilukis menggunakan warna. Tahap terakhir, warnanya dikunci dan dicuci.

Umumnya, Minggu adalah hari libur untuk seluruh pekerja pabrik maupun rumahan. Meningkatnya jumlah permintaan menjelang lebaran membuat Sigit dan Sis harus kerja lembur dalam menyelesaikan pesanan. Kami banyak menangkap momen saat tangan mereka bekerja sangat cepat.

Baca juga : Satu Hari di Solo

Mengamati cukup dekat proses memulas yang nampaknya sangat mudah, namun menuntut ketelitian. Meski hanya motif bergaris, kain pantai kreasi Sigit masih menjadi langganan kota-kota besar di Indonesia. Sis dan Sigit, dari tangan keduanyalah tercipta kreasi kain pantai yang dikenakan turis sebagai buah tangan hasil pelancongan.

Previous Post

Wajah Bersahaja Para Abdi Raja

Next Post

Yogyakarta-Medan Bersama Citilink

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Embung Desa Wisata Banjaroya

Yogyakarta-Medan Bersama Citilink

Comments 60

  1. Elisabeth Murni says:
    9 tahun ago

    Aaaaaak senang. Berada di antara kain cantik warna-warni gini semacam surga kecil buat saya. Mesti aromanya khas banget ya, rhemasol. Etapi ini ngunci kainnya cukup dicelup apa direbus juga kaya batik sih?

    Kalo aku ikutan kesana mesti kalap beli kainnya.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Berdasarkan informasi dari Mas Sigit, cukup dicelup saja Mba.
      Aku awalnya pingin kalap Mba. Tapi sempelnya terbatas. Jadi beli seadanya dulu. Ini mau bikin agenda ke sana lagi 😀

      Balas
  2. Aji Sukma says:
    9 tahun ago

    Balik ke sana lg yuk bret, kali aja ada motif baru. Pengin beli buat alas bejemur di pantai. hihiii Niatnya biar kayak bule, jatuhnya kayak dugong -_-

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Kemarin aja ga mau beli. Sekarang ngajakin balik. kan aku capek

      Balas
    • Deddy Huang says:
      9 tahun ago

      emang kemaren situ belanja kain mas aji?

      Balas
  3. Endah Kurnia Wirawati says:
    9 tahun ago

    Wahhh keren warna-warna kain pantainyaa..
    mauuuu!!!

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya. Sini aja Mba, ke Solo. Hehe

      Balas
  4. Dewi Rieka says:
    9 tahun ago

    Akkk ikut dong kak kalo ke sana lagii..cantik banget kainnya, ternyata dari Jateng yaaa..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya, dari Solo Mba. Hehehe.
      Ayo ke sana lagi. Borong kain

      Balas
  5. Charis Fuadi says:
    9 tahun ago

    bagus ya…kalau ini di jemur melebar gt warna warni…ada yg digantung gak ya pas pengeringannya…kalau lewat bisa jd kaya film india gt he he

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Rata2 dijereng mas. Pas ke sana ga ngeliat ada yang digantung
      Iya, kaya film India ya. Aca-aca

      Balas
      • adi pradana says:
        9 tahun ago

        bisa tuh buat pelm india india…. hehehe

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          Hehe. boleh mas dicoba

          Balas
          • adi pradana says:
            9 tahun ago

            Aq jadi pemeran cowoknya, mimin insanwisata jadi yg ceweknya ya… mukanya ditutupin lendang gitu…. malumalu kucing… hehehe

          • insanwisata says:
            9 tahun ago

            Duh, ga bisa bayangin deh

  6. Lusi says:
    9 tahun ago

    Wah padahal kalau ke Bali oleh2nya ini buat teman2 di Jogja. Mbolak mbalik hehehee

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Nah kan. hehe.

      Balas
  7. Halim Santoso says:
    9 tahun ago

    Momen e pas kabeh. Biasane yen mlilpir ke sana malah dapat yang lagi njemur kain sablonan. Yang kain toletan justru ketemu yang sudah dioper rumahan. Nice, gan. 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iyo mas, kebetulan pas. Padahal minggu lho. Berkah ramadan banget pokoe.

      Balas
  8. Deddy Huang says:
    9 tahun ago

    menarik buat diketahui tentang pesona kain ini. dijual berapaan sama pengrajin?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      harga sudah ada di tulisan mas 😀

      Balas
      • Deddy Huang says:
        9 tahun ago

        Oh ya, 30 rb aku fast read kebaca 30 meter yg diba bawahnya

        Balas
  9. Nasirullah Sitam says:
    9 tahun ago

    Sekarang sudah punya patner main buahahhahaha. Waiki blusukan ke mana-mana sudah berdua saja. Kayaknya kami terlupakan buahahahha.

    Apik yo rek liat kain segitu panjang dijemur di tengah-tengah sawah. Warnanya cerah

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Jelas.. Pokoknya duo ebret. Wkwkw.
      Blusukan ke desa. kecanduan deswita

      Balas
  10. Fajrin Herris says:
    9 tahun ago

    Wah harga kain pantainya lumayan murah ya, Mas.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya mas

      Balas
  11. Indah Julianti Sibarani says:
    9 tahun ago

    Ciye yang sekarang berduaan sama Aji ke mana-mana, moga sammara ya 🙂
    Btw, hijabku banyak yang dari kain shantung, karena mudah diatur.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Aamiin. Makasih doanya. doain cepet lahir anaknya. Wkwkw
      Warna hijabnya gini juga ga? warna warni

      Balas
  12. Rifqy Faiza Rahman says:
    9 tahun ago

    Reportase yang menarik. Ternyata ini bisa dibilang termasuk sentranya juga yaa? Kain pantai yang dibikin di daerah yang tidak punya garis pantai. Kapan-kapan ajaklah kalau ngebret lagi ke industri kreatif 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      maturnuwun mas papan.
      bisa dikatakan sentranya. karena banyak perajin. mulai dari rumahan hingga pabrikan mas.
      ayok ngebret bareng

      Balas
  13. insanwisata says:
    9 tahun ago

    yups mas Jo. Yuk diramaikan dagangannya

    Balas
  14. Matius Teguh Nugroho says:
    9 tahun ago

    Ini menarik, bro. Jadi ternyata kain-kain pantai yang dijual di Bali dan pantai-pantai populer ini rupanya dari sini, dari tepi Sungai Bengawan Solo yang jauh dari pantai. Kalau aku jadi mereka, aku akan nyesek karena nggak mendapat pengakuan melalui label atau merek 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      yes, mas. Ayo tumbas Rene mas

      Balas
  15. bena says:
    9 tahun ago

    kamu pinter mas ngambil angle jalan ceritanya, hehehe.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Makasih Bena. 🙂

      Balas
  16. Ulu says:
    9 tahun ago

    Wow ternyata kain pantai di bali itu asalnya dr jawa tengah 😀 itu limbah cat kainnya dibuang ke mana, mas? Klo di bandung mah pada buangnya ke sungai citarum. Ga heran pabrik2 konveksi di bandung berdiri ga jauh dr sungai citarum. Heuheu.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Meski lokasi pembuatan kain dekat dengan Sungai Bengawan, saya kurang paham limbah dibuang ke mana. Belum cek sejauh sana e.
      Bisa jadi, kain yg kita beli di Bali dari sini. Tidak semua sih. Tapi memang ada pemborong dari Bali

      Balas
  17. Fajrin Herris says:
    9 tahun ago

    Motif2 kainnya sangat bagus2, Mas. Pembuatannya juga tidak terlalu ribet ya

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya mas

      Balas
  18. Salman Faris says:
    9 tahun ago

    Duh jadi gatel pengen punya kain2 cantik dan warna warni ini hehehe

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      beli mas. Buat mantai

      Balas
  19. Lokal Karya says:
    9 tahun ago

    wah ternyata ya, sarung pantai ini dibuat bukan di Bali toh, tp di tepian Bengawan Solo. Ah, pengen mampir kapan2. TFS kak 🙂

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ya tidak semua yang dibeli di Bali itu dibuat di sini. Bisa jadi hanya beberapa penjual yang ambilnya dari sini

      Balas
  20. Pritahw says:
    9 tahun ago

    wah, setiap ngeliat kain, meskipun juga bukan kolektor, knapa tetep pengen beli ya 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ya udah. ayo beli Mba. hehe

      Balas
  21. Bee Balqis Blog says:
    9 tahun ago

    Mama demen banget kemana mana belinya kain pantai. Katanya adem dibawa selimutan. Hehe. Udhlah bawa mama kesini aja kapan kapan.

    Btw itu saya gak salah baca ya “Per 30 meter dihargai tujuh ribu”? Murah banget 7ribu per 30m. Semeter 9ribu. Dibeli terus dijual di pontianak lagi, untung banyak kayaknya nih *otak bisnis hehe

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ga salah kok Mba. Memang harga segitu untuk pewarnaannya. Modelnya borongan

      Balas
  22. Donna Imelda says:
    9 tahun ago

    Jadi pengen borong hehehe. Murah kalau beli di sini ya. Harus banyak gak? Kain pantai adl barang wajib serba guna saat traveling. Harus ada dan di bawa. Bukan sekedar kain pantai dan untuk berpose.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Saya beli satu boleh kok Mba.
      Kalau cewe, pastinya bakal borong kain.wkwkw. Buat daster di rumah

      Balas
  23. Gara says:
    9 tahun ago

    Kalau mau beli kain pantai ternyata tidak selalu harus jauh-jauh dan mahal-mahal ya Mas, hehe. Beli di pengrajin bisa punya dampak yang baik juga. Setuju dengan teman-teman yang lain, saya suka reportase dan penulisannya. Banyak yang saya bisa pelajari di sini terkait peliputan sosok dan kegiatan masyarakat. Tulisannya jadi hidup dan tidak sekadar mengandalkan kekuatan data. Saya mau juga dong Mas diajak kalau sedang liputan seperti ini, pingin ikut belajar, hehe…

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Walah Mas Gara. Baru semalam kita ngobrolin gaya tulisan mas Gara yang cukup dalam dan lengkap. Saya malah justru pengen menantang diri untuk bisa berani berekspresi seperti tulisan2nya Mas Gara. Kapan dong Mas Gara main? saya tak ngikut. Saya tak belajar dulu dari cara bermainnya Mas Gara. Hehehe. Sampai sekarang masih geleng2 kalau baca tulisanmu. Ngulas perut patung aja bisa panjang banget.
      Saya masih perlu banyak belajar Mas. Ayo sinau bareng!

      Balas
  24. erich sanam says:
    8 tahun ago

    Tolong kontak aku(erich) 082217230500/Biak-Papua.

    Balas
  25. Putput says:
    8 tahun ago

    Kak klo boleh tau.. Ini alamat pas nya mana ya? Duuhh pgen berkunjung nihh

    Balas
    • insanwisata says:
      8 tahun ago

      di dekat Sungai Bengawan mba

      Balas
  26. Rokhim says:
    8 tahun ago

    Itu se desa pengrajin kain pantai semua atau gimana mas?

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      Hampir sebagian berprofesi sebagai perajin kain pantai mas

      Balas
  27. budicarta says:
    7 tahun ago

    boleh tau no kontak pengrajinnya mas

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      wah, saya tidak sempat tanya mas

      Balas
  28. nina says:
    7 tahun ago

    kalau kain pantai motif batak ada ga ya ? siapa tau ada yg tau boleh tlg di share

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      Kalau pesan, mungkin bisa mas. saya ke sananya pas nemu motif Bali dan Danau Toba. Monggo ke sana langsung saja

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller