Pulasan Warna Kain Pantai Tepian Sungai Bengawan

Lama sebelum matahari terlalu tinggi dan terik, saya sudah menyisiri tepian jalan Sungai Bengawan Solo. Bersama Aji, pewarta foto dan video yang juga punya ketertarikan pada bidang industri kreatif, kami berdua mencari lokasi pembuatan kain pantai yang dikabarkan oleh warganet melalui sosial media.

Berada di tengah pedesaan membuat destinasi ini semakin menarik untuk dikunjungi. Terletak di Desa Krajan, Kecamatan Mojobalan, Sukoharjo, Jawa Tengah, sentra industri kain pantai ini tak begitu kondang seperti keberadaan batik Solo. Anehnya, sulit menemukan simbol visual yang menyatakan bahwa Desa Krajan adalah sentra industri kain pantai. Saya masih harus bertanya-tanya karena tak ada petunjuk yang menyematkan kata selamat datang, atau bentuk sambutan lainnya. Padahal, jika menilik dari gang ke gang, sangat mudah ditemui perajin kain pantai.

Tak jauh dari pintu masuk desa, tepat di tepian Sungai Bengawan, terbentang apik pulasan kain yang menggoda mata. Begitu menarik, mengisi ruang-ruang kosong yang lengang menaungi perkampungan kecil Desa Krajan. Di gubuk kecil inilah, jumpa pertama saya dengan Sis (39 tahun).

Sis, panggilan akrab pembuat kain pantai yang tak ingin disebut sebagai pengusaha ini menyambut kami ramah. Ia menanggalkan perlengkapan memulasnya, kemudian mempersilakan kami melihat-lihat koleksinya. Mestinya, Hari Minggu ini Sis punya waktu untuk bercengkrama bersama anak dan istri. Tapi ia memilih kerja lembur supaya cepat merampungkan pesanan kain dari Sumatra.

Bisnis yang tak memiliki merek ini ternyata sudah tersohor di Indonesia. Pemesannya datang dari Bali, Sumatra, Kalimantan, dan hampir seluruh daerah di Pulau Jawa. Siapa yang bakal mengira? Kain pantai yang dijajakan di sepanjang pusat perbelanjaan di Bali ternyata buatan tangan dari masyarakat tepian Sungai Bengawan Solo. Meski belum pernah ada yang memastikan, Sis mengaku, pemesannya paling banyak datang dari Bali.

Seraya menjawab rasa penasaran saya, Sis tetap memulas kain pantai pesanannya. Dibantu istrinya yang terampil dan tak banyak bicara, Sis sanggup menyelesaikan satu hingga dua kodi per hari. Jika diperhatikan, tak sulit untuk membuat kain pantai seperti yang Sis dan istrinya kerjakan. Semua bergantung pada desain dan pemilihan warna. Semakin ramai warnanya, semakin meriah pula kain pantai Bengawan.

 

 

Kain shantung dipilih sebagai bahan dasar pembuatan kain pantai. Lalu dengan spon, Sis dan istrinya memulas warna sesuai dengan desain pemesan. Satu lembar kain pantai yang sudah siap jual dibandrol dengan harga 30 ribu rupiah. Beberapa sampel dagangan yang dibawakan oleh Sis menjadi buah tangan incaran saya. Meski bukan sebagai kolektor kain, saya berpikir tak ada salahnya meramaikan dagangan mereka.

Di bagian lain, tanpa perlu menyewa lahan, Sis menjereng berlembar-lembar kain pantai yang sudah selesai dipulas warna. Tepat di tepian Sungai Bengawan, Sis menjemur kain pantainya. Tak butuh waktu lama untuk membuat kain pantai cepat kering. Asal mendapat panas matahari yang pas tanpa diwarnai angin kencang, Sis tak akan merasa kerepotan mengurus kain pantainya.

 

 

Kami segera menutup bincang. Tapi langkah kaki kami tak ingin segera menyudahi rekreasi. Berkat petunjuk dari beberapa informan, akhirnya kami dibawa menuju tempat pembuatan kain pantai dengan skala yang lebih besar.

Matahari pukul 12.00 siang terasa seperti memanggang kawasan Desa Krajan. Beberapa pabrik dan perajin rumahan kain pantai sedang libur bekerja. Mujurnya, ada satu yang tetap buka. Seluas mata memandang, hanya terlihat berlembar-lembar kain yang dijereng memanjang. Puluhan pekerja pun tampak hilir mudik dalam kesibukan. Di bawah komando Sigit, puluhan orang ini bekerja sebagai pemulas kain pantai.  Berbeda dengan Sis, kain yang digarap Sigit adalah kain pulasan yang dijual meteran. “Biasanya dibuat daster dan pakaian, Mas”, ungkap Sigit.

Tak ada hitungan pasti untuk jam kerja yang berlaku bagi karyawan. Dimulai sejak pukul 08.00 pagi, para karyawan biasa mengakhiri pekerjaan jika tenaga sudah habis terkuras, atau menggarap sawah. “Modelnya borongan, Mas. Per 30 meter dihargai tujuh ribu. Kita jual lagi per meternya sembilan ribu”, aku Sigit.

 

Bahan pewarna rhemasol yang digunakan untuk memulas kain pantai.

 

Cikal bakal pembuatan kain pantai kawasan Desa Krajan ini dimulai pada tahun 1996 oleh Sriyono, atau yang akrab disapa Ko Sri. Usaha kain pantai ini kemudian diteruskan oleh anaknya, Sigit dan saudaranya. Namun, hanya usaha Sigit yang masih bertahan sampai sekarang. Sementara milik saudaranya, lebih dulu gulung tikar karena tak terlalu telaten dalam melakoni dagangannya.

Dalam bisnis kain pantainya, Sigit hanya menggarap dua model jenis pewarnaan, yaitu jumput dan celup. Tak ada kiat promosi yang menjadi jurus Sigit dalam membuat laris dagangannya. Pemasaran ‘getok tular’, dari mulut ke mulut masih dianggap cara yang paling praktis untuk berjualan. Bahkan ia tak ada niatan untuk mematikan pasaran para pedagang yang menjual kembali kain-kainnya dengan harga yang lebih mahal. Baginya, garis takdir sudah ditentukan. Fokus pada apa yang sekarang ditekuni adalah cara Sigit menghargai rintisan bisnis orangtuanya. Dengan berbagai harapan, tentunya buah ketekunan yang akan diunduhnya dapat dinikmati bersama keluarganya.

Musim hujan berkepanjangan tak ramah bagi pebisnis kain pantai. Pasalnya, para pekerja akan merasa kerepotan untuk mengejar setoran borongan. Dapat dimaklumi, pekerjaan seperti ini sangat mengandalkan panas matahari agar warna kain menjadi sempurna.

“Semakin panas sengnya, semakin bagus warna yang dihasilkan”, ungkap Sigit lagi.

 

 

“Kain shantung digelar memanjang di atas seng. Ada yang kebagian mengikat kain dengan karet, ini yang jenis jumput. Kalau yang jenis celup lebih mudah. Kain direndam menggunakan bahan pewarna rhemasol, kemudian dilukis menggunakan warna. Terakhir, warnanya dikunci dan dicuci”, pungkasnya mengakhiri perbincangan.

Umumnya, Minggu adalah hari libur untuk seluruh pekerja pabrik maupun rumahan. Meningkatnya jumlah permintaan menjelang lebaran membuat Sigit dan Sis harus kerja lembur dalam menyelesaikan pesanan. Kami banyak menangkap momen saat tangan mereka bekerja sangat cepat. Mengamati cukup dekat proses memulas yang nampaknya sangat mudah, namun menuntut ketelitian. Meski hanya motif bergaris, kain pantai kreasi Sigit masih menjadi langganan kota-kota besar di Indonesia. Sis dan Sigit, dari tangan keduanyalah tercipta kreasi kain pantai yang dikenakan turis sebagai buah tangan hasil pelancongan.

Baca juga: Marsono, Pelestari Wayang Sada di Bejiharjo

Comments

comments

52 thoughts on “Pulasan Warna Kain Pantai Tepian Sungai Bengawan

  1. Aaaaaak senang. Berada di antara kain cantik warna-warni gini semacam surga kecil buat saya. Mesti aromanya khas banget ya, rhemasol. Etapi ini ngunci kainnya cukup dicelup apa direbus juga kaya batik sih?

    Kalo aku ikutan kesana mesti kalap beli kainnya.

    1. Berdasarkan informasi dari Mas Sigit, cukup dicelup saja Mba.
      Aku awalnya pingin kalap Mba. Tapi sempelnya terbatas. Jadi beli seadanya dulu. Ini mau bikin agenda ke sana lagi 😀

  2. bagus ya…kalau ini di jemur melebar gt warna warni…ada yg digantung gak ya pas pengeringannya…kalau lewat bisa jd kaya film india gt he he

  3. Sekarang sudah punya patner main buahahhahaha. Waiki blusukan ke mana-mana sudah berdua saja. Kayaknya kami terlupakan buahahahha.

    Apik yo rek liat kain segitu panjang dijemur di tengah-tengah sawah. Warnanya cerah

  4. Reportase yang menarik. Ternyata ini bisa dibilang termasuk sentranya juga yaa? Kain pantai yang dibikin di daerah yang tidak punya garis pantai. Kapan-kapan ajaklah kalau ngebret lagi ke industri kreatif 😀

  5. Ini menarik, bro. Jadi ternyata kain-kain pantai yang dijual di Bali dan pantai-pantai populer ini rupanya dari sini, dari tepi Sungai Bengawan Solo yang jauh dari pantai. Kalau aku jadi mereka, aku akan nyesek karena nggak mendapat pengakuan melalui label atau merek 🙁

  6. Wow ternyata kain pantai di bali itu asalnya dr jawa tengah 😀 itu limbah cat kainnya dibuang ke mana, mas? Klo di bandung mah pada buangnya ke sungai citarum. Ga heran pabrik2 konveksi di bandung berdiri ga jauh dr sungai citarum. Heuheu.

    1. Meski lokasi pembuatan kain dekat dengan Sungai Bengawan, saya kurang paham limbah dibuang ke mana. Belum cek sejauh sana e.
      Bisa jadi, kain yg kita beli di Bali dari sini. Tidak semua sih. Tapi memang ada pemborong dari Bali

  7. Mama demen banget kemana mana belinya kain pantai. Katanya adem dibawa selimutan. Hehe. Udhlah bawa mama kesini aja kapan kapan.

    Btw itu saya gak salah baca ya “Per 30 meter dihargai tujuh ribu”? Murah banget 7ribu per 30m. Semeter 9ribu. Dibeli terus dijual di pontianak lagi, untung banyak kayaknya nih *otak bisnis hehe

  8. Jadi pengen borong hehehe. Murah kalau beli di sini ya. Harus banyak gak? Kain pantai adl barang wajib serba guna saat traveling. Harus ada dan di bawa. Bukan sekedar kain pantai dan untuk berpose.

  9. Kalau mau beli kain pantai ternyata tidak selalu harus jauh-jauh dan mahal-mahal ya Mas, hehe. Beli di pengrajin bisa punya dampak yang baik juga. Setuju dengan teman-teman yang lain, saya suka reportase dan penulisannya. Banyak yang saya bisa pelajari di sini terkait peliputan sosok dan kegiatan masyarakat. Tulisannya jadi hidup dan tidak sekadar mengandalkan kekuatan data. Saya mau juga dong Mas diajak kalau sedang liputan seperti ini, pingin ikut belajar, hehe…

    1. Walah Mas Gara. Baru semalam kita ngobrolin gaya tulisan mas Gara yang cukup dalam dan lengkap. Saya malah justru pengen menantang diri untuk bisa berani berekspresi seperti tulisan2nya Mas Gara. Kapan dong Mas Gara main? saya tak ngikut. Saya tak belajar dulu dari cara bermainnya Mas Gara. Hehehe. Sampai sekarang masih geleng2 kalau baca tulisanmu. Ngulas perut patung aja bisa panjang banget.
      Saya masih perlu banyak belajar Mas. Ayo sinau bareng!

Leave a Reply