Kaleidoskop 2016

“Saya percaya pada kekuatan mimpi. Selama ikhtiar terus diperjuangkan, Tuhan akan mengijabahkan. Percayalah, Tuhan mendatangkan rejeki pada jalan yang tak pernah disangka para hamba-Nya”.

*****

Ketika ditanya, mengapa senang menulis? Tentu jawabannya akan beragam. Hobi, berbagi informasi maupun pengalaman, karena profesi, dan banyak alasan lainnya. Terkhusus bagi saya, salah satu alasan masih mau menulis karena saya pelupa. Sebab, dengan menulis, saya mampu mengingat kembali.

Ada teman saya bertanya, mengapa mengambil tema wisata? Sedulur, negeri kita ini sudah banyak bertebar berita yang meresahkan, kabar berita yang belum tentu benar, kabar berita yang terkadang membuat kita pesimis pada tenun kebangsaan. Saya ingin menulis yang asyik-asyiknya saja. Karena saya percaya, alam tak pernah bohong tentang keindahannya. Lewat catatan di blog ini, saya ingin berbagi pengalaman soal kegiatan pelesir yang membuat kita adem sejenak. Mengajak para sedulur untuk menyesap kebahagiaan melalui kegiatan berwisata. Percayalah, berwisata tak akan membuatmu ketinggalan banyak berita. Pada naiknya harga minyak, pada naiknya harga cabai dan panganan, dan isu yang sedang hangat di negeri kita. Percayalah, dengan berwisata kita turut merasakan dampak ikutannya. Dampak yang tak akan mengurangi kebahagiaan kita selama berwisata.

Melihat adanya postingan bersama dari ID-Corners dengan tajuk “The Best Traveling Moments 2016”, saya pun turut memeriahkannya. Berikut, aneka peristiwa perjalanan yang saya tulis secara singkat.

Maret: Hanya sampai Kaliurang, Jogja

Mengapa Maret begitu spesial? Pada jarak 21 Km dari tempat tinggal (kost), saya memilih Kaliurang sebagai tempat pertama saya belajar memotret bintang. Dengan membawa kamera saku yang tak mewah, saya mendapat gambar apik milky way. Di bawah langit bertabur bintang, didekap hangat api unggun, saya dan rekan-rekan kerja berdendang menyanyikan lagu kemesraan. Syahdunya…

milky way kaliurang

Kaliurang merupakan daerah dataran tinggi di Sleman, Yogyakarta. Menginap di sini untuk sejenak menghindar dari ramainya perkotaan memang menyenangkan, ditambah udaranya yang segar menyejukkan. Malamnya, jika cuaca cerah, sempatkanlah untuk mengabadikan gambar bintang. Tadi malam kami sempat menangkapnya lewat mata tustel. Ada semburat tipis milky way yang terekam. Malam yang indah! Gambar diambil pukul 21.00 WIB dari Villa Kanesta, Kaliurang, Yogyakarta

Mei: Sampai juga di Pulau Kei

Muhammad Ali Fatha Seknun. Adalah alasan mengapa saya ingin bertandang ke Pulau Kei. Ia pernah bertaruh, soal keindahan kampung halamannya yang tak akan membuat saya kecewa. Di Kota Tual, saya menghabiskan waktu seharian bersamanya. Bermodal motor pinjaman, saya berkeliling sepanjang garis pantainya. Meski hanya dua hari, kenangannya terpatri di sanubari. Pantai Pasir Panjang (Ngurbloat), adalah destinasi favorit saya.

Pulau Kei

pasir panjang pulau kei

Tak hanya Pulau Kei. Saya berkesempatan menyambangi Kepulauan Aru. Banyak tempat yang berkesan. Menyusuri sungai dan hutannya, berenang di lautannya, bertandang ke kampung muslim tertua, dan pada senyum ramah penduduknya. Yang berkesan lagi, ini adalah pertama kalinya saya menumpang kapal Pelni.

wisata di pulau aru

Keceriaan bersama adik-adik di Kampung Namara, Kepulauan Arus setelah bernyanyi lagu Indonesia Raya dan menghafalkan Pancasila.

benteng tua pulau aru

Dulu, Bangsa Portugis pernah singgah di Kepulauan Aru. Mereka juga membangun sebuah benteng di Pulau Wokam. Masyarakat menyebutnya Benteng Kota Lama. Hingga kini, sisa-sisa bangunan benteng masih bisa dijumpai sebagai saksi sejarah yang bisa digali. Di dekat benteng ada pantai dengan pasir putih yang luas. Kala air surut, akan terbentuk pulau pasir yang sangat cantik.

wisata pulau aru

Ini adalah pertama kalinya saya menggunakan kapal Pelni tujuan Dobo – Tual. Kapal Pelni ini memuat ribuan penumpang.

Juli: Reuni SD di Gunung Ijen

Wacana menyambangi Gunung Ijen tercapai melalui reuni kecil teman-teman SD. Kami yang berpisah lebih dari setengah usia, berangkat menggunakan sepeda motor rute Bali–Banyuwangi. Meski sesak wisatawan, Ijen masih menjadi destinasi yang primadona.

blue fire ijen

Ada yang lebih menarik ketimbang pemandangan gagahnya mentari terbit yang disaksikan dari atas puncak. Fenomena Blue Fire, api biru yang bisa dijumpai saat hari masih gelap. Fenomena ini terlihat di dasar kawah di sela-sela batuan belerang. Blue Fire muncul karena panasnya belerang yang ada pada permukaan bumi. Fenomena ini hanya ada dua di dunia, di Irlandia dan di Kawah Ijen. Bangga!

kawah ijen

Selain menyambangi Gunung Ijen, Pulau Dewata Bali sudah menjadi rumah kedua saya. Dua tahun sekali, terjadwal rutin menyambung silaturahmi pada sanak saudara. Perihal alam dan budayanya, selalu menjadi primadona.

pura ulun danu bali

Pura Ulundanu. Terletak di ketinggian sekitar 1.239 Mdpl, membuat udara di sekitar pura ini terasa sejuk dan dingin. Belum lagi lansekap Danau Beratan yang membuat pesona Ulun Danu menjadi makin syahdu. Bali sebagai wisata 1000 pura memang unik.

Agustus: Mengagumi Pesona Geopark Ciletuh

Kabar bahagia ini datang dari Om Cumi yang mengajak saya ikut serta dalam rangkaian acara Famtrip Geopark Ciletuh. Menyusuri kawasan wisata geopark bukanlah hal baru bagi saya. Bertandang ke taman bumi di Ciletuh dan Pelabuhan Ratu memperkaya wawasan saya soal geopark. Salah satunya, adalah Curug Cimarinjung, indah laksana emperan nirwana.

DSC02473-01

Om Cumi sedang berpose menggunakan kancutnya. Bagi yang penasaran dengan foto aslinya, silahkan kunjungi langsung blognya di cumilebay.com.

curug cimarinjung ciletuh

September: Resign Kerja, Terbang ke Sumbawa

Ajakan mendadak itu datang dari rekan kerja. Pun saya harus rela meninggalkan pekerjaan saya. Alasannya cukup saya anggap sederhana. Jika saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan bertahan di tempat kerja lama, saya tak akan dapati pengalaman panjang menyusuri sudut-sudut Indonesia. Istikharah saya mengantar pada keputusan bulat untuk berhenti dari tempat kerja lama. Pertengahan Oktober 2016, saya kembali menjadi pekerja lepas (freelance). Tentu, banyak orang yang menyayangkan.

Berselang beberapa hari, rekan kerja kembali menghubungi saya. Tawaran menuju Gunung Tambora langsung saya terima. Saya pun berangkat. Meski tak sempat mendaki sampai puncaknya, terekam banyak kenangan saat bermalam di kaki gunungnya, juga di Pulau Satonda.

pulau satonda

Tambora dianugerahi alam yang turut mendampingi keelokannya. Satonda satu diantaranya. Satonda menjanjikan sensasi pijat refleksi ikan di danaunya. Tingkat kebasaannya lebih tinggi, bahkan walau dibandingkan dengan air laut. Ada yang sudah pernah mencelupkan kaki di danau ini?

satonda

tambora

Oktober: Sekali lagi, Sumbawa

Kondisi badan belum pulih benar pada jalanan panjang Bima–Dompu dua pekan lalu. Oktober, saya kembali ke Sumbawa. Tentu, destinasi utamanya adalah Gunung Tambora. Apa yang berbeda dari perjalanan kali ini? Resolusi saya menyaksikan pacu kuda/ Pacoa Jara di Bima terbayar. Saya menyaksikan langsung, gempita para penonton bersorak-sorai mendukung jagoannya. Di arena balapan pacu kuda, saya bertemu Ipin, Sang Joki Juara.

pacu kuda bima

Gong laga pembuka acara ditabuh. Pungkur besi mulai dibuka. Lekas kuda berlari kencang dipacu para joki. Di balik tribun ratusan penonton bersorak-sorai. Mereka sudah memiliki jagoan masing-masing. Tak kalah pembawa acara turut heboh terbawa suasana. Gadis Villa, Sang Bima, Putra Mahkota, Mustang, adalah panggilan untuk kuda-kuda yang diikutsertakan.

desa maria bima

Jika datang ke Bima, sempatkanlah singgah ke Desa Budaya Maria, Kecamatan Wawo. Terdapat puluhan Uma Lengge berjejer apik di sana. Uma Lengge difungsikan menjadi tempat penyimpanan gabah sebagai cadangan pangan masyarakat Bima. Menarik!

November: Plesir maring Banjarnegara

Dieng, tak bosan dijadikan destinasi saat mengisi waktu liburan. Namun kali ini berbeda. Saya datang sebagai orang asing pada perayaan acara reuni Blogger Camp Purwokerto, Geng Ketenger. Geng yang hampir separuhnya diisi orang-orang Ngapak ini banyak asyiknya. Reuni ini membawa saya pada destinasi-destinasi yang belum pernah saya kunjungi selama berwisata ke Banjarnegara. Seperti rafting di Sungai Sedayu dan menyaksikan baskara terbit dari puncak bukit Scotter Dieng. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan, ketika terbanting dihantam jeram tsunami Sungai Serayu.

Rafting Serayu (Bannyu Woong Adventure) (114)

Serunya rafting di Sungai Serayu, Banjarnegara. Jeramnya yang bervariasi membuat rafting semakin menantang. Salah satu jeram yang berbahaya adalah jeram tsunami.

bukit scotter dieng

Dari atas puncak bukit Scooter. Menikmati matahari terbit yang masih berselimut kabut dataran tinggi Dieng. Gunung Sindoro menjadi latar cantik dari sini. Selamat pagi semesta! Udara pagi hari ini sangat sejuk. Resapi, nikmati, dan semoga alam kita tetap lestari.

November: Menduniakan Madura

Lagi-lagi, berkat ajakan Om Cumi, saya bisa menyambangi Madura. Dari Nepa hingga Giliyang, kami dikawal mobil patroli yang memastikan kegiatan famtrip bersama komunitas blogger Plat-M berjalan lancar. Dari terselenggaranya kegiatan ini, kami benar-benar diajak untuk dekat dengan masyarakat yang berada di kawasan wisata. Tak ada hotel, juga makanan cepat saji. Keseluruhan acara melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Kegiatan famtrip yang menarik!

rumput laut madura

Para ibu yang tengah bercengkrama di gubuk kecil pesisir Desa Tanjung Madura. Sembari menggarap rumput lautnya, senda gurau membuat hangat pertemanan di antara mereka.

batik madura

Membatik. Dari tangan-tangan kreatif masyarakat Pamekasan Madura, batik tak lagi sebagai pakaian indah yang menempel di badan. Batik Klampar menunjukkan identitas Madura yang siap mendunia. Motif tersulit saat ini menurut pengrajin adalah motif Sekar Jagad. Menarik!

November: Talaud, saya datang!

November menjadi bulan yang sangat padat. Tak ada waktu istirahat bagi saya. Pulang trip, menyusun laporan, dan menuliskannya pada blog saya. Saya harus produktif, tak boleh jatuh sakit.

Talaud. Sudah menjadi destinasi impian sejak 2014. Alasan yang membawa saya ingin ke beranda negeri paling utara Indonesia ini adalah soal pengabdian. Resolusi Talaud kemudian saya tunda karena pada tahun yang sama saya terpilih menjadi ketua tim KKN di Kepulauan Misool, Raja Ampat. Dua tahun berselang, datang tawaran ajakan menyambangi Kepulauan Talaud. Saya memenuhinya. Bumi Porodisa ini sungguh indah, sedulur!

wisata di talaud

Talaud, Bumi Porodisa Tropis beranda paling utara Indonesia. Salah satu keindahannya telah tampak di Pulau Sara. Menjelajah Kepulauan Talaud idealnya membutuhkan waktu berhari-hari di musim yang tepat, yaitu pada bulan April – Juni.

pulau sara talaud

Dua foto di atas ketika saya di Pulau Sara. Saya banyak menghabiskan waktu di pulau ini. Foto aerial di atas adalah foto saya menggunakan drone pinjaman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Talaud.

Desember : Terbang ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah

Yeay. Akhirnya, resolusi saya mengunjungi Kalimantan tercapai. Meski tak banyak menghabiskan waktu mengeksplor keindahannya, saya pastikan, saya akan datang kembali dengan rasa penasaran dan waktu yang panjang. Pada alamnya yang indah, pada budayanya yang mengagumkan, dan pada panganan khasnya yang berselera.

palangka raya

Dari jendela kamar hotel, saat adzan maghrib berkumandang. Syahdu…

Desember: Bersama yang spesial, menutup tahun 2016

Desember menjadi bulan yang sangat padat. Selain adanya tanggungan laporan yang menumpuk, pada bulan ini sudah saya niatkan untuk mengeksplor tempat wisata terdekat yang belum tereksplor. Di bulan ini, saya banyak belajar tentang ilmu keguaan dengan turun langsung di lapangan. Gua Tanding dan Gua Sriti salah satunya.

Di penghujung 2016, saya bersama kelompok Karang Taruna Desa Ngalang merayakan pergantian tahun di puncak Gunung Tunggak, Gunungkidul. Betapa bangganya saya, karena kawasan wisata ini sempat menjadi salah satu kawasan yang saya desain pada 2015. Menginjak 2017, Gunung Tunggak dan Gunung Gentong makin ramai wisatawan. Spot yang pas untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam.

gua tanding

Sepanjang dinding penyusuran Goa Tanding, terdapat guratan indah mahakarya Sang Pencipta. Tentu, akan membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya untuk air bisa mencipta keindahan satu senti batuan stalaktit seperti ini. Kesempurnaan perjalanan susur gua mencapai klimaks manakala memasuki ruang sumur muasal penemuan Goa Tanding. Menarik! Difoto oleh: Reza N.

gua sriti

Susur Gua di Jogja Lantai Dua. Saya harus menenggelamkan badan ke dalam sungai bawah tanah Desa Bejiharjo untuk bisa menyaksikan keindahan perut bumi Gunungkidul. Di gua ini, konon Prabu Anglingdarma pernah bertapa. Ornamen di dalam gua kebanyakan merupakan stalaktit dan batu alir. Lorong-lorong sempit pun banyak terdapat di gua ini, menambah suasana petualangan semakin menegangkan! Difoto oleh: Reza N.

gunung tunggak

Bersama Karang Taruna Desa Ngalang saat merayakan tahun baru 2017 di puncak Gunung Tunggak, Desa Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul.

gunung tunggak

Hati tertambat pada dua pemandangan yang berbeda. Di sebelah timur, pancaran baskara menyibak paduan warna elok pada langitnya. Di sebelah selatan, lautan kabut menyelimuti seluruh kawasan pedesaan. Bersambut suara burung hutan, suasana seperti ini tidaklah mengecewakan.

****

Tak ada maksud pamer pada perjalanan kemarin. Bagaimana saya melakukan perjalanan sejauh ini, kuncinya ada pada ikhtiar dan doa. Percaya tidak? Semua destinasi di atas pernah saya tuliskan di papan resolusi pada Januari 2016 bersama capaian lainnya.

Sedulur, niatkanlah juga, berwisata bukan untuk ajang pamer di sosial media. Ambillah ilmu berwisata. Sudilah mendengar cerita dari mereka yang tinggal di kawasan wisata. Sisihkan banyak uang untuk berbagi pada masyarakat lokal yang sedang berjualan di sana. Ambillah ilmu berwisata. Dengan tidak mengambil apapun kecuali gambar. Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki kita. Dan tidak membunuh apapun kecuali waktu yang tersita.

Ada banyak impian yang belum lunas untuk bertandang ke sudut-sudut Nusantara. Di usia yang semakin menua, terselip doa agar Tuhan memberkahi setiap perjalanan saya. Juga, pada insan-insan yang gemar berwisata, semoga membawa keberkahan pada bumi seisinya. Gemah Ripah Loh Jinawi Toto Tentrem Kerto Raharjo.

Memasuki 2017, tentu ada banyak resolusi yang sedang saya susun kembali. Saya menantikan banyak kejutan lain yang datang di tahun ini. Percayalah, Tuhan mendatangkan rejeki dari jalan yang tak pernah disangka para hamba-Nya. Jika resolusimu hari ini belum tercapai, itu adalah cara Tuhan menguji kesabaran kita. Selamat berwisata dan mengambil hikmah perjalanannya, sedulur!

Jadi, apa resolusimu di tahun ini? 

Tulisan ini diikutsertakan dalam postingan bersama komunitas ID-Corners dengan tajuk ‘The Best Traveling Moments 2016’. Yuk, kamu boleh ikutan, lho!

 

Comments

comments

50 thoughts on “Kaleidoskop 2016

  1. Sungguh tahun yang padat dengan perjalanan Mas Hanif. Di bawah pekerjaan ke tempat-tempat eksklusif seperti itu tentunya rasa syukurnya double ya… semoga tahun 2017 lebih banyak lagi pekerjaan ke tempat-tempat indah dan yang belum di explore sebelumnya. Amin

  2. Wah kaleidoskop 2016 mas hanif menarik sekali, sampai mengambil keputusan yang tidak mudah yaitu resign kerja. Wah harus deketin mas cumi nih supaya bisa diajakin famtrip #ngarep

    1. haha. iya mas, itu keputusan terberat. alhamdulillah dapat penggantinya, mas
      hehe. bener. om Cumi orang baik, harus didekatin biar ketularan baik dari ilmu ngeblognya. sy banyak belajar dari beliau untuk soal ngeblog tema travel

  3. Wah perjalanan tahun 2016 nya keren keren yah..
    Saya sempat tercekat pas akhirnya baca di bulan oktober resign, sungguh keputusan yang luarrr biasa.

    Sayangnya saya masih kuliah, belum beran ambil keputusan seperti itu. Karena uang kuliah datang dari pekerjaan saya hahahaa.

    Semoga makin banyak trip yang bisa di jalani di th 2017 ya! 😀

    Jadi pengen ke pulau kei. Bagus banget

    1. Hehe. Iya mba. Keputusan yg penuh pertimbangan, tapi harus berani.
      Wah.. membanggakan, bisa kuliah pakai biaya hasil kerja keras sendiri.

      Bagu mba Pulau kei. Kapan2 harus ke sana ya

  4. waaah….banyak juga lokasi yang dikunnungi ya ,as?

    saya mau bikin artikel seperti itu tapi pada lupa kemana foto dan ceritanya, sepertinya perlu manajemen hasil jalan-jalan ini… 😀

  5. Selalu ada hikmah di balik sebuah keputusan besar. Kadang kita perlu ‘beristirahat’ dari rutinitas untuk mencari sesuatu yang baru. Saya salut dah sama njenengan, kalau kata komentator di instagramer hits: Ntapz!

    Semoga tahun ini membawa lebih banyak kejutan ya, Mas, yang juga bisa kita cari dan kejar. Sukses selalu 🙂

  6. Beeeuuuh mantab2 banget sih perjalanan 2016 nya T.T
    Btw mupeng banger pengen bisa moto milkyway. Jam berapa sih idealnya buat bisa lihat milkyway? Kalau lagi traveling gitu pas sampe penginapan udah keburu capek terus tidur..

  7. enak yaaa nulis kaleidoskop.
    hahahaha.
    kayak belajar dari hal-hal sebellumnya yang kita lalui. perlu diperbaiki atau menambahnya gitu 🙂

    banyak jga petualangannya. semangat ya mas 🙂

  8. Baca kaleidoskop ini bikin aku mimisan, hahaha! Hamdallah banyak destinasi impian yang sudah kau raih, moga keberuntungan terus menghampiri *kasih jempol yang banyak*

    Aku mau ke Keiiiiiiiii!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.