2018: Merayakan Perjalanan

Tak terasa, 2017 sudah cepat meninggalkan kita. Menyisakan berbagai kenangan manis dan pahit. Meninggalkan beberapa resolusi yang separuh terwujud.

Genap sudah usia blog ini empat tahun. Harusnya selalu dirayakan. Namun selalu terlewatkan. Entah kapan tanggal pastinya, jelas usia blog kami sudah remaja. Begitu pula empunya. Yang harusnya lebih berani dalam membuat konten yang menggigit pembaca.

Di Februari, bulan yang kata banyak orang adalah bulan penuh cinta dan kasih sayang, bulan dengan puncak musim hujan, kami baru sempat menulis rangkuman cerita perjalanan. Supaya terdokumentasikan sekaligus mengingatkan, bahwa di 2018 ini, kami harus berani menantang diri untuk lebih baik lagi. Dalam hal kualitas, maupun kuantitas berkarya.

Berikut sedikit rangkuman perjalanan pilihan. Yang manisnya untuk dikenang. Agar sewaktu-waktu dapat dibuka kembali.

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Dalam perdagangan internasional, Indonesia masih menjadi penyuplai komoditas tembakau cerutu peringkat atas yang tak lagi diragukan. Keberadaan los juga tidak mungkin dilepaskan dari awal mula tumbuhnya perusahaan pada masa kolonial. Begitu pula Klaten yang menyandang tagline sebagai Kota Bersinar. Jika merujuk pada angka yang diolah Badan Pusat Statistik, tembakau Vorstenlanden tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Klaten, dimana Kecamatan Kebonarum menjadi pemasok terbesar Vorstenlanden.

Artikel: Menjaga Vorstenlanden Setiap Malam

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Menjadi seorang pendalang. Cita-cita yang terdengar jarang di jaman sekarang. Apalagi jika diperhatikan, pementasan wayang sekarang semakin ditinggal pemirsanya, khususnya generasi muda. Tetapi tidak untuk Marsono, pelestari Wayang Sada yang tetap setia mewartakan cerita-cerita tokoh pewayangan dengan cara berbeda.

Artikel: Maestro Wayang Sada

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Tahun 1966, politik ekonomi Indonesia memasuki Orde Baru yang merubah kebijakan terkait adanya perijinan Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri. Adanya penanaman modal asing di Indonesia menimbulkan dampak lain yang menyebabkan luputnya pengawasan terhadap pembangunan di Indonesia seperti industri tenun lurik rumahan di Pedan.

Artikel: Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Beternak sapi perah adalah sandaran hidup bagi 1.324 kepala keluarga di sana. Membangun rumah, menyekolahkan anak, naik haji, adalah hasil yang didapat dari keringat memerah susu setiap pagi dan sore. Potensi demikian tak disia-siakan. Siapapun yang datang dan membeli, akan disuguhi pengalaman serupa seperti memandikan sapi, memberikan makan sapi, dan memerah susu sapi.

Artikel: Deswita Pujon Kidul

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Gong laga pembuka acara ditabuh. Panitia lekas memanggil para peserta memasuki arena. Tampak beberapa kuda enggan mengikuti tuannya. Berontak kuda lari keluar dari arena pacu. Cepat tuannya mengejar kemudian menariknya. Masing-masing pemilik punya ritual sendiri sebelum acara dimulai. Ada yang menggosokkan ramuan di otot-otot kuda, ada juga yang melalui ramuan minuman. Setelah kuda menjadi sedikit liar, kemudian diberikan kepada joki yang duduk di pungkur besi.

Artikel: Pacoa Jara, Pesta Rakyat Masyarakat Bima

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Langit siang itu menaruh rasa hormat pada petani rumput laut Saronggi. Lanskap pesisir pantai kawasan Saronggi sudah mempercantik panggung harapan para nelayan dan petani. Meski tak sedang merayakan panen besar, geliat petani Saronggi masih dapat disaksikan setiap hari. Cuaca yang cerah dengan panas yang pas disambut bahagia para petani rumput laut di sana. Dengan begitu, rumput laut akan cepat kering dan cepat dijual.

Artikel: Menyambangi Madura

Foto dan cerita: Reza Nurdiana

Terlepas dari rumit dan lamanya proses pembuatan keris, dari Padepokan Brojobuwono banyak kudapatkan filosofi keris yang sesungguhnya. Bahwa keris tak melulu harus dipandang sebagai benda klenik yang menyeramkan. Keris sejatinya ialah tanda, identitas, jati diri seseorang. Keris dibuat dengan kesungguhan, mencerminkan kepribadian pemiliknya. Pula, keris menjadi simbol kebanggan bagi yang mengenakannya pada busana. Dan keris punya sejuta makna indah dalam dirinya.

Artikel: Para Penempa Keris Brojobuwono

Foto dan cerita: Hannif Andy A

Kesatria lainnya tampil bertarung. Mengibas-ngibaskan pecutnya sehingga menghasilkan bunyi yang keras. Ujung pecutnya adalah kulit kerbau tipis yang sudah kering, akan sakit mengenai lawan. Namun kali ini lawannya sebanding. Mereka saling serang dan bertahan. Ditangkisnya lompatan terakhir yang mengarah tepat di atas kepala. Apabila kurang lincah membaca serangan lawan, sudah dipastikan pecut itu akan meninggalkan bekas luka yang dalam. Sakit bukan main pasti. Tapi mereka tak pernah mengaduh. Bahkan mereka percaya, luka di tubuhnya adalah sebuah pertanda bahwa esok akan panen lebih baik.

Artikel: Caci, Tari Perang Kesatria Manggarai

 

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *