Gunung Gentong dan Kisah Prabu Brawijaya

Tiga hari sudah saya ditemani Kelompok Sadar Wisata Desa Ngalang berkeliling kawasan Gunung Gentong untuk kepentingan pembuatan Master Plan pengembangan pariwisata. Gunung Gentong terletak di Desa Ngalang, Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta. Memang kawasan wisata ini belum banyak dikenal masyarakat luas. Namun, bolehlah saya bertaruh, Gunung Gentong banyak menyimpan potensi yang tak kalah menarik dibandingkan Gunung Api Nglanggeran.

DSC00220

DSC00103

Gunung Gentong merupakan objek utama Desa Ngalang. Ketinggian gunung ini ialah 520 mdpl. Dinamakan Gunung Gentong karena di puncak gunung ini terdapat padhasan/gentong kecil yang tak biasa. Konon, di masa itu Prabu Brawijaya melakukan pelarian dari anaknya yang bernama Raden Patah dan bersemedi di Gunung Gentong. Bukan tanpa alasan mengapa Raden Patah mengejar ayahnya. Ia ingin mengajak ayahnya untuk masuk islam. Untuk membuktikan ada tidaknya Prabu Brawijaya, Raden Patah melempar gentong dari arah Bayat, Klaten yang diarahkan menuju tempat semedi Prabu Brawijaya. Anehnya, gentong ini tidak hancur saat mengenai kepala Prabu Brawijaya. Hal itu dibenarkan oleh masyarakat sekitar yang menemukan sebuah gentong utuh di gunung ini. Namun sayang, gentong yang saya temukan sudah remuk bagian bawahnya.

DSC00112

DSCF2919

DSCF2910

Untuk membuktikan benar tidaknya, saya penasaran ingin melihat langsung gentong tersebut. Saya harus merangkak berpegangan kawat besi. Tak ada alat pengaman lain selain percaya dan mengikuti arahan dari masyarakat lokal. Untuk bisa merangkak seperti ini, sebaiknya tidak menggunakan alas kaki. Dan yang saya dengar dari juru kunci, untuk berkunjung ke Gunung Gentong ternyata ada larangannya. Hari Selasa Kliwon dan Hari Jum’at, wisatawan dilarang naik ke puncak Gunung Gentong karena Hari Selasa Kliwon merupakan netu (waktu kelahiran) Prabu Brawijaya.

Objek kedua adalah Gadhean atau Pesanggrahan Prabu Brawijaya. Gadhean merupakan tempat persembunyian dan tempat semedinya Prabu Brawijaya. Dinamakan Gadhean karena dikisahkan saat itu Prabu Brawijaya sedang bersantai di atas sebongkah batu rata di bawah bulan purnama. Pada saat itu, terbesit di sanubari Prabu Brawijaya seolah dirinya bagaikan orang yang digadaikan hidupnya.

DSC00049

Yang menarik lainnya, di kawasan ini terdapat beberapa pohon Klumprit yang umurnya sudah mencapai ratusan tahun dan hanya terdapat di Desa Ngalang. Setiap tahunnya, Gadhean digunakan sebagai lokasi prosesi upacara Nyadran. Prosesi Nyadran di Gadhean menggunakan tradisi Hindu yang biasanya sajian makan berupa nasi, ikan tawar, dan ayam panggang yang dimakan secara kembul (bersama-sama).

Objek ketiga yang saya kunjungi adalah Watu Tumpang. Ada pemandangan berbeda ketika saya melakukan treking di kawasan ini. Meskipun ketinggiannya lebih rendah dibandingkan Gunung Gentong, gunung ini jauh lebih menarik meskipun tak dibalut cerita. Dari puncak Watu Tumpang ini, saya bisa melihat gagahnya Gunung Gentong dan asrinya Desa Ngalang. Jika musim hujan tiba, hijaunya ladang sawah di Desa Ngalang akan membuatmu terlena.

Tak jauh dari Watu Tumpang, terdapat Omben Gagak atau dalam Bahasa Indonesia, ‘tempat minum gagak’. Masyarakat lokal percaya bahwa tempat ini menjadi tempat minum burung gagak yang memang banyak ditemui di hutan Desa Ngalang. Yang menarik dari Omben Gagak adalah air yang ada di lubang ini tidak pernah kering.  Saat musim kemarau, air ini tak pernah surut. Saya telah membuktikannya.

DSC00233

DSC00265

Janganlah tergesa-gesa untuk cepat pulang karena di sekitar Watu Tumpang dan Omben Gagak masih ada objek yang bersejarah. Adalah Goa Pringgoloyo. Masyarakat lokal sering menyebutnya dengan nama Song Pringgoloyo. Gua ini digunakan Prabu Brawijaya untuk beristirahat. Gua ini memiliki pintu masuk yang sangat sempit, bahkan saya harus menunduk dan merangkak untuk masuk ke mulut Gua Pringgoloyo. Konon, saat Prabu Brawijaya melihat ada gentong yang meluncur dengan cahaya putih dan jatuh di pesanggrahannya, ia dengan tergesa-gesa meninggalkan Gunung Gentong sampai lupa mengajak prajurit yang ditugaskan untuk berjaga. Menerima laporan prajurit tersebut telah mati dalam keadaan jaga di bawah rumpun bambu, Prabu Brawijaya sedih dan merenung di gua ini.

DSC00245

DSC00255

Objek kelima adalah Watu Lincip. Dinamakan Watu Lincip karena gunung batu ini berbentuk lancip. Pada salah satu bagian gunung ini terdapat jejak tapak kuda milik Prabu Brawijaya. Diceritakan, Sang Prabu memiliki beberapa hewan peliharaan diantaranya adalah kuda betina bernama Nyai Songgo Langit yang konon masih keturunan Kuda Sembrani, burung perkutut putih, dan anjing.

DSC00293

Ada lima tempat menarik versi saya di kawasan Gunung Gentong ini. Tak ada biaya masuk ke kawasan wisata ini karena belum menjadi tempat wisata yang terkenal layaknya Gunung Api Nglanggeran. Lalu, kemanakah Prabu Brawijaya? Saya semakin penasaran.

Menurut juru kunci Gunung Gentong, jejak Prabu Brawijaya kemudian hilang di Goa Pringgoloyo alias mukso (memasuki gerbang gaib yang berbeda dimensi). Sebagian masyarakat juga mengatakan bahwa Prabu Brawijaya menyerah kepada Raden Patah yang disusul masuk islam di Bukit Turgo, Gunung Merapi. Ah, sangat rumit untuk bicara sejarah Raden Patah dan Prabu Brawijaya. Seakan semua terhubung pada beberapa destinasi wisata yang cukup terkenal. Menarik, bukan? Selain pemandangan alam yang ditawarkan oleh Desa Ngalang, cerita Prabu Brawijaya menjadi alur yang melengkapi kawasan wisata Gunung Gentong.

Keramahan masyarakat lokal tak habis sebagai pengantar wisatawan saja. Mereka dengan senang hati memberi suguhan makan siang yang menggoyang lidah. Yang unik dari suguhan ini adalah, nasi yang dibungkus menggunakan daun jati.

DSCF2963



Video Gunung Gentong


Lokasi Gunung Gentong

Comments

comments

8 thoughts on “Gunung Gentong dan Kisah Prabu Brawijaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *